Sebenernya sih rada males-malesan nulisnya, tapi berhubung desakan dari beberapa fans (haghaghag….) jadinya saya belain share juga jalan-jalan maraton kemarin.
Singapore
Sampai di Changi cari Skytrain (ini kereta gratis untuk pindah-pindah terminal) ke terminal 2. Dari terminal 2 bisa naik MRT (Mass Rapid apa gitu, kalau di sini KRL lah
) terserah tujuannya kemana. Tarif MRT sekali jalan 2.6 SGD tapi tiketnya bisa direfund 1 SGD tiap tiketnya, usahakan sedia pecahan kecil karena di mesinnya hanya terima pecahan paling besar 5 SGD. Pengalaman kemarin cuma punya recehan 1 SGD 3 biji sementara kita bertiga dan ga nemu tempat nukerin uang, jadilah kita makan dulu di Burger King (ngakunya backpacker tapi makan di BK. Aib!!).
Kita memilih MRT tujuan City Hall (ini sih terserah tujuan masing-masing, jangan khawatir di Changi banyak informasi tempat-tempat menarik sekaligus petanya), dari situ tinggal jalan kaki ke Esplanade, Merlion, dan sekitarnya untuk sesi pemotretan. Jaraknya ga jauh, tapi cukup untuk menggemporkan kaki
.
Tujuan kami selanjutnya sekaligus a very recommended place to visit adalah Singapore Science Center yang bukanya dari jam 8 pagi sampai 6 sore. Dari stasiun City Hall naik MRT ke Jurong East, kemudian jalan sekitar 10 menit ke arah blok 132, 135 (banyak petunjuknya kok). Tiket masuk Science Gallery 6 SGD, ada juga movie theater dengan layar berbentuk setengah bola dan Snow World. Tiket masuknya sekitar 10 SGD (kalau ga salah), tapi bisa lebih murah kalau beli yang paket sama Science Gallery.
Kuala Lumpur
Dari Singapore ke Kuala Lumpur dengan jalan darat bisa naik bis atau kereta. Menurut pencarian dari internet, kereta memakan waktu lebih lama jadinya kita memilih bis yang jarak tempuhnya sekitar 5-6 jam. Sebenarnya dari Singapore ada bis langsung ke Kuala Lumpur yang tarifnya sekitar 30-35 SGD, namun berhubung kami nyasar jadinya rute kami sebaga berikut: Naik MRT ke stasiun Kranji, di depan stasiun banyak bis Larkin, Johor Baru (ga ada yang langsung KL ternyata). Kita milih Causeway Express Link (CW), warnanya kuning, tarifnya 0.8 SGD. Dari sini kita akan melewati 2 pemeriksaan imigrasi, jadi siapkan stamina untuk jalan cepat atau lari
. Si CW akan menurunkan kita di pintu masuk imigrasi dan menjemput di pintu keluar, bisa saja kita naik CW yang beda jadi jangan sampai tiket hilang kalau ga mau bayar 0.8 SGD lagi
.
Seperti umumnya terminal-terminal di Jakarta, setiba di Larkin kita akan diserbu beberapa orang (bukan minta tanda tangan atau foto bareng soalnya yang nyerbu calo bis), diteriaki penjaja bis (bukan teriakan “ceweeekk” atau bunyi suit suit lho). Harga tiket ke KL bisa ditawar, kemarin kita dapet 25 RM untuk bis AC yang super nyaman dengan formasi seat 2-1. Bandingkan dengan 30 SGD tadi. Dari sini kita belajar bahwa ada hikmah di balik setiap kejadian (halah).
Larkin ke Puduraya, KL, ditempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam. Dari Puduraya, jalan ke stasiun, naik MRT ke Mesjid Jamek untuk transit. Dari Mesjid Jamek kalau mau mandi atau bebersih dulu bisa ke KL sentral, ada tempat mandi umum dengan 5 RM sekali mandi, atau langsung ke KLCC kalau mau ke Petronas. Tour jembatan penghubung Petronas free untuk turis, buka mulai jam 9 pagi tapi antriannya sudah mengular ketika kita sampai sekitar jam 7. Dua jam gantian antri tiket terbayar dengan 10 menit nonton sejarah Petronas di studio mini, naik ke lantai 41 dengan lift selama kurang lebih 1 menit, dan 8 menit gaya bebas di jembatan Petronas.
Untuk ke bandara LCCT bisa naik bis yang berangkatnya tiap 30 menit dari KL sentral, tarifnya 8 RM.
Phuket
Satu hal yang perlu dipersiapkan ketika mengunjungi Thailand adalah bahasa. Sangat jarang menemui penduduk Thailand yang bisa berbahasa Inggris, bahkan di hotel Thavorn Grand di Phuket yang memajang foto Ricky Martin saat kunjungannya tahun 2005 pun, kita harus berbahasa Tarsan. Jadi bila perlu, bawa kamus Bahasa Thailand atau catat kata-kata yang sekiranya penting. Terutama jika Anda ingin berbelanja.
Di Phuket kita menginap di Thavorn Grand Hotel yang tarifnya 500 THB semalam atau kurang dari 150ribu kalau dirupiahkan. Fasilitas single king sized bed, AC, TV, bath tub, air panas. Murah to? Hotel ini bisa dijangkau dengan jarak tempuh sekitar 1 jam dari bandara dengan taksi. Taksi di bandara Phuket mirip di Denpasar, kita book taksinya dari bandara, bayarnya di bandara, jadi ga bakal kejadian supir taksi nyasar-nyasarin sampai kita harus bayar mahal. Dari bandara ke Thavorn 500 THB dan kebetulan kita dapat sopir yang super baik dan super asik, speak English well. Beliau yang bawa kita nyari tour ke Phiphi. Nama travel agentnya saya lupa (kartu nama ada di teman, bisa ditanyakan kalau perlu
), yang pasti mbak-mbaknya super asik. Untuk tour dengan speedboat ke 4 pulau (Phiphi ley, monkey, phiphi don, dan khai), snorkeling equipment (fin ga termasuk, kalau mau bisa sewa 100 THB), lunch, snack, jemput dan antar dari dan ke hotel, kita dapat 1400 THB (ini sudah hasil menawar yang amat alot).
Tournya dari sekitar jam 9 sampai jam 5, seru, makanan dan minumannya enak dan berlimpah, guidenya bodor, bule yang botak cakep (ups, ga penting yang ini). Tips: di Khai Island, jika melihat kursi berwarna-warni nganggur di pinggir pantai, jangan harap Anda bisa menggunakannya for free. Pas lagi asik-asik tiduran memandang pantai, secara tiba-tiba Anda akan didatangi seorang pemuda meminta bayaran 150 THB untuk kursi tersebut
.
Bangkok
(sudah mulai males nulisnya
)
Menginap di: Miramar Hotel, tarifnya 1000 THB untuk twin bed dan fasilitas yang mirip Haris kalau saya bilang. Hotel-hotel di Thailand mah murah anyingg pokoknya.
Dari Miramar kalau mau ke Wat Po dan Grand Palace tinggal jalan kaki, sekitar 1 km. Tidak perlu kuatir, map gratis berlimpah, jangan lupa ambil ketika di Suvarnabhumi.
Suvarnabhumi - Miramar by taksi: 400 THB, plus 70 THB untuk highway.
Tips: apapun kata tukang Tuk-Tuk, JANGAN PERCAYA!!! Di internet banyak yang sudah bilang penipuan dilakukan pria-pria ini, seperti kemarin yang tiba-tiba kita dicegat dan dibilang Wat Po baru buka jam 1 (waktu itu jam 10) karena Raja mau beribadah di situ. Dia dengan sok baik hatinya mau ngantar ke temple-temple lain, by Tuk-Tuk tentunya. Tapi tak semudah itu aku tertipu aku terjebak aku terperangkap muslihatmu. Lanjut jalan, eh templenya buka kok, jam 8 sampai jam 4. Wek!!
Tarif masuk Wat Po: 50 THB
Grand Palace ada di sebelah Wat Po, tarif masuknya 350 THB (mahal gila!). Di depannya ada semacam lapangan kosong, banyak burung dara di situ. Bisa jadi alternatif hiburan gratis atau menu makan malam jika Anda cukup tidak tahu malu untuk menculik seekor.
Batal mengekspol Grand Palace dengan alasan biaya, kita langsung menuju Chatucak. Dengan taksi bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih… uummm… 1 jam mungkin (tidak ingat dengan pasti, saya tidur waktu itu
). Macet di Bangkok lebih parah dari pada Jakarta, jadi siap-siap tidur aja kalau lewat jalan raya. Ongkos taksi waktu itu 200 THB.
Dari Chatucak langsung ngabur ke Suvarnabhumi by taksi 400 THB (kalo orangnya banyak sih mending naek taksi soalnya bis ke bandaranya 150 THB per orang).
Maraton edan!! 4 hari 3 negara 5 kota. Eh iya, foto-fotonya ada di sini.
That’s all, folks!!