justrhe[dot]blogsome[dot]com

November24, 2009

Mereka para korban

Filed under: me myself & I
Pundak sengkleh, betis gempor, mata bermake up gothic (menghitam akibat kurang tidur), bibir dan sekitarnya menghitam kering setelah sebelumnya gatal-gatal akibat alergi entah makanan entah apa di Singapur. Daftar tersebut adalah daftar bagian tubuh saya terkena efek samping dari maraton 4 hari kemarin, sekarang alhamdulillah sudah pulih meskipun masih menyisakan bibir kehitaman :(

Namun selain daftar di atas masih ada korban lain yang sampai sekarang belum pulih, bahkan mungkin tidak akan pulih

broken

Jam tangan tidak diketahui penyebab cederanya, saya baru menyadarinya ketika jongkok di toilet KL sentral (jangan harap saya mau menempelkan paha saya di toilet umum). Sedangkan si EOS terjatuh ketika saya berdiri dari kursi panjang tempat beristirahat di Wat Po, ketika itu saya pikir si EOS sudah dalam keadaan tersampir di pundak saya, ternyata hanya saya pangku. Untungnya tidak terjadi hal-hal yang krusial (sejauh ini masih bisa jeprat-jepret hehe), hanya UV filternya yang sedikit boncel-boncel huhuhu :(

November20, 2009

Inkonsistensi

Filed under: eh, tau ngga sih?
adalah ketika kamu begitu saja meninggalkan si multiply dan mengalihkan foto-fotomu ke flickr, seperti apa yang saya lakukan saat ini :D

Si multiply mungkin lebih suka menyebutnya sebuah pengkhianatan, habis manis sepah dibuang. Sedangkan si flickr menyebutnya sebuah proses menuju ke arah yang lebih baik. Saya sendiri sih… pengen coba-coba aja, bukan buat anak ini :P

November18, 2009

Mbambung with style (damn! I love those words :D)

Filed under: me myself & I
Sebenernya sih rada males-malesan nulisnya, tapi berhubung desakan dari beberapa fans (haghaghag….) jadinya saya belain share juga jalan-jalan maraton kemarin.

Singapore
Sampai di Changi cari Skytrain (ini kereta gratis untuk pindah-pindah terminal) ke terminal 2. Dari terminal 2 bisa naik MRT (Mass Rapid apa gitu, kalau di sini KRL lah :D ) terserah tujuannya kemana. Tarif MRT sekali jalan 2.6 SGD tapi tiketnya bisa direfund 1 SGD tiap tiketnya, usahakan sedia pecahan kecil karena di mesinnya hanya terima pecahan paling besar 5 SGD. Pengalaman kemarin cuma punya recehan 1 SGD 3 biji sementara kita bertiga dan ga nemu tempat nukerin uang, jadilah kita makan dulu di Burger King (ngakunya backpacker tapi makan di BK. Aib!!).

Kita memilih MRT tujuan City Hall (ini sih terserah tujuan masing-masing, jangan khawatir di Changi banyak informasi tempat-tempat menarik sekaligus petanya), dari situ tinggal jalan kaki ke Esplanade, Merlion, dan sekitarnya untuk sesi pemotretan. Jaraknya ga jauh, tapi cukup untuk menggemporkan kaki :D .

Tujuan kami selanjutnya sekaligus a very recommended place to visit adalah Singapore Science Center yang bukanya dari jam 8 pagi sampai 6 sore. Dari stasiun City Hall naik MRT ke Jurong East, kemudian jalan sekitar 10 menit ke arah blok 132, 135 (banyak petunjuknya kok). Tiket masuk Science Gallery 6 SGD, ada juga movie theater dengan layar berbentuk setengah bola dan Snow World. Tiket masuknya sekitar 10 SGD (kalau ga salah), tapi bisa lebih murah kalau beli yang paket sama Science Gallery.

Kuala Lumpur
Dari Singapore ke Kuala Lumpur dengan jalan darat bisa naik bis atau kereta. Menurut pencarian dari internet, kereta memakan waktu lebih lama jadinya kita memilih bis yang jarak tempuhnya sekitar 5-6 jam. Sebenarnya dari Singapore ada bis langsung ke Kuala Lumpur yang tarifnya sekitar 30-35 SGD, namun berhubung kami nyasar jadinya rute kami sebaga berikut: Naik MRT ke stasiun Kranji, di depan stasiun banyak bis Larkin, Johor Baru (ga ada yang langsung KL ternyata). Kita milih Causeway Express Link (CW), warnanya kuning, tarifnya 0.8 SGD. Dari sini kita akan melewati 2 pemeriksaan imigrasi, jadi siapkan stamina untuk jalan cepat atau lari :D . Si CW akan menurunkan kita di pintu masuk imigrasi dan menjemput di pintu keluar, bisa saja kita naik CW yang beda jadi jangan sampai tiket hilang kalau ga mau bayar 0.8 SGD lagi :D .

Seperti umumnya terminal-terminal di Jakarta, setiba di Larkin kita akan diserbu beberapa orang (bukan minta tanda tangan atau foto bareng soalnya yang nyerbu calo bis), diteriaki penjaja bis (bukan teriakan “ceweeekk” atau bunyi suit suit lho). Harga tiket ke KL bisa ditawar, kemarin kita dapet 25 RM untuk bis AC yang super nyaman dengan formasi seat 2-1. Bandingkan dengan 30 SGD tadi. Dari sini kita belajar bahwa ada hikmah di balik setiap kejadian (halah).

Larkin ke Puduraya, KL, ditempuh dalam waktu kurang lebih 5 jam. Dari Puduraya, jalan ke stasiun, naik MRT ke Mesjid Jamek untuk transit. Dari Mesjid Jamek kalau mau mandi atau bebersih dulu bisa ke KL sentral, ada tempat mandi umum dengan 5 RM sekali mandi, atau langsung ke KLCC kalau mau ke Petronas. Tour jembatan penghubung Petronas free untuk turis, buka mulai jam 9 pagi tapi antriannya sudah mengular ketika kita sampai sekitar jam 7. Dua jam gantian antri tiket terbayar dengan 10 menit nonton sejarah Petronas di studio mini, naik ke lantai 41 dengan lift selama kurang lebih 1 menit, dan 8 menit gaya bebas di jembatan Petronas.

Untuk ke bandara LCCT bisa naik bis yang berangkatnya tiap 30 menit dari KL sentral, tarifnya 8 RM.

Phuket
Satu hal yang perlu dipersiapkan ketika mengunjungi Thailand adalah bahasa. Sangat jarang menemui penduduk Thailand yang bisa berbahasa Inggris, bahkan di hotel Thavorn Grand di Phuket yang memajang foto Ricky Martin saat kunjungannya tahun 2005 pun, kita harus berbahasa Tarsan. Jadi bila perlu, bawa kamus Bahasa Thailand atau catat kata-kata yang sekiranya penting. Terutama jika Anda ingin berbelanja.

Di Phuket kita menginap di Thavorn Grand Hotel yang tarifnya 500 THB semalam atau kurang dari 150ribu kalau dirupiahkan. Fasilitas single king sized bed, AC, TV, bath tub, air panas. Murah to? Hotel ini bisa dijangkau dengan jarak tempuh sekitar 1 jam dari bandara dengan taksi. Taksi di bandara Phuket mirip di Denpasar, kita book taksinya dari bandara, bayarnya di bandara, jadi ga bakal kejadian supir taksi nyasar-nyasarin sampai kita harus bayar mahal. Dari bandara ke Thavorn 500 THB dan kebetulan kita dapat sopir yang super baik dan super asik, speak English well. Beliau yang bawa kita nyari tour ke Phiphi. Nama travel agentnya saya lupa (kartu nama ada di teman, bisa ditanyakan kalau perlu :D ), yang pasti mbak-mbaknya super asik. Untuk tour dengan speedboat ke 4 pulau (Phiphi ley, monkey, phiphi don, dan khai), snorkeling equipment (fin ga termasuk, kalau mau bisa sewa 100 THB), lunch, snack, jemput dan antar dari dan ke hotel, kita dapat 1400 THB (ini sudah hasil menawar yang amat alot).

Tournya dari sekitar jam 9 sampai jam 5, seru, makanan dan minumannya enak dan berlimpah, guidenya bodor, bule yang botak cakep (ups, ga penting yang ini). Tips: di Khai Island, jika melihat kursi berwarna-warni nganggur di pinggir pantai, jangan harap Anda bisa menggunakannya for free. Pas lagi asik-asik tiduran memandang pantai, secara tiba-tiba Anda akan didatangi seorang pemuda meminta bayaran 150 THB untuk kursi tersebut :P .

Bangkok
(sudah mulai males nulisnya :D )
Menginap di: Miramar Hotel, tarifnya 1000 THB untuk twin bed dan fasilitas yang mirip Haris kalau saya bilang. Hotel-hotel di Thailand mah murah anyingg pokoknya.
Dari Miramar kalau mau ke Wat Po dan Grand Palace tinggal jalan kaki, sekitar 1 km. Tidak perlu kuatir, map gratis berlimpah, jangan lupa ambil ketika di Suvarnabhumi.
Suvarnabhumi - Miramar by taksi: 400 THB, plus 70 THB untuk highway.
Tips: apapun kata tukang Tuk-Tuk, JANGAN PERCAYA!!! Di internet banyak yang sudah bilang penipuan dilakukan pria-pria ini, seperti kemarin yang tiba-tiba kita dicegat dan dibilang Wat Po baru buka jam 1 (waktu itu jam 10) karena Raja mau beribadah di situ. Dia dengan sok baik hatinya mau ngantar ke temple-temple lain, by Tuk-Tuk tentunya. Tapi tak semudah itu aku tertipu aku terjebak aku terperangkap muslihatmu. Lanjut jalan, eh templenya buka kok, jam 8 sampai jam 4. Wek!!
Tarif masuk Wat Po: 50 THB
Grand Palace ada di sebelah Wat Po, tarif masuknya 350 THB (mahal gila!). Di depannya ada semacam lapangan kosong, banyak burung dara di situ. Bisa jadi alternatif hiburan gratis atau menu makan malam jika Anda cukup tidak tahu malu untuk menculik seekor.
Batal mengekspol Grand Palace dengan alasan biaya, kita langsung menuju Chatucak. Dengan taksi bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih… uummm… 1 jam mungkin (tidak ingat dengan pasti, saya tidur waktu itu :D ). Macet di Bangkok lebih parah dari pada Jakarta, jadi siap-siap tidur aja kalau lewat jalan raya. Ongkos taksi waktu itu 200 THB.

Dari Chatucak langsung ngabur ke Suvarnabhumi by taksi 400 THB (kalo orangnya banyak sih mending naek taksi soalnya bis ke bandaranya 150 THB per orang).

Maraton edan!! 4 hari 3 negara 5 kota. Eh iya, foto-fotonya ada di sini.

That’s all, folks!!

November16, 2009

Phuket

Filed under: me myself & I
Prolog
Saya bukanlah orang yang mudah mengatakan secara langsung apa yang saya mau, bisa dibilang, saya lebih suka ditawari dari pada meminta. Penyakit itu sudah saya derita sejak kecil. Pernah pada suatu waktu ketika berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, saya melihat celana selutut berbahan jeans, saya langsung menginginkannya. Anak kecil normal pasti akan langsung merengek pada orang tuanya meminta dibelikan. Berbeda dengan saya yang hanya memandanginya, memegangnya sesekali sambil berharap Ibu saya melihat ketertarikan saya pada celana biru itu. Sayangnya beliau tidak menyadarinya, saya pun pulang tanpa celana pendek idaman saya. Entah bagaimana celana pendek itu masih terbayang sempurna di kepala saya, bahkan setiap setelah shalat saya berdoa agar bisa memiliki celana pendek tadi. Konyol memang. Sampai akhirnya ketika berjalan-jalan di tempat lain, saya menemukan celana pendek serupa, tidak sama persis tapi mirip. Saya pegang berlama-lama sampai Ibu saya bertanya “Kamu mau?”. Akhirnya saya bawa pulang celana jeans sepanjang atas lutut itu. Di bawahnya ada rumbai-rumbai, di sebelah kiri ada bordiran motif pantai dan di bawahnya terdapat tulisan Phuket dengan garis vertikal huruf h yang berbentuk pohon kelapa. Saya kurang suka tulisannya, Phuket adalah kata yang aneh. Entah kapan tepatnya saya menyadari kalau Phuket adalah nama sebuah pulau indah di Thailand, langsung saya pengen kesana. Bahkan sempat terlintas, jika ke luar negeri saya maunya ke Thailand.

Kamis, 12 Nopember 2009 pukul 9 malam
Saya tiba di bandara internasional Phuket. Jalan rayanya sepi, untuk ukuran jam 9 malam. Dan yang paling menarik perhatian saya adalah kabelnya yang super semrawut. Besok paginya saya tour keliling ke pulau-pulau kecil di sekitar Phuket. Phi-phi Ley Island, Monkey Island, Phi-phi Don Island, dan Khai Island. Ciri khas pulau-pulau di Phuket adalah batu-batu besar di sekitar pantainya dengan kontur seperti stalagmit yang indah, pasirnya yang putih dan airnya yang biru tosca. Ditambah lagi cuaca pada saat itu yang amat cerah sehingga bentukan awan putih yang kontras dengan biru langit makin memanjakan mata. Keren.

Tetapi entah kenapa cinta saya masih tertinggal di Karimunjawa, Indonesia. Menurut saya itu masih kepulauan terindah yang saya kunjungi. Karimunjawa memang tidak punya gugusan batu sebesar Phiphi, tapi punya lebih banyak gradasi warna air, dari biru tua, biru muda, hijau tosca, sampai hijau biru tak terdefinisi. Ketika snorkeling, Karimunjawa memang tidak memiliki banyak ikan di permukaan lautnya seperti Phiphi tapi karangnya jauh lebih indah dan berwarna. Lebih serunya lagi kita bisa snorkeling pada kedalaman 1 meter dengan pemandangan yang tak kalah menariknya. Tidak seperti Phiphi yang monoton :D . Phiphi sudah terlalu ramai, mirip Bali. Bibir pantai sudah seperti tempat parkir speedboat, bahkan ketika berjalan di sepanjang pantai masih tercium bau bahan bakarnya. Karimunjawa lebih asik untuk bermain, bisa berkeliling pulau sepanjang pantai, berenang-renang, bermain loncat ombak, mencari kerang-kerang ga jelas. Tidak seperti Phiphi Ley misalnya yang ibaratnya kesandung nyampe ujung :D . Mungkin itu sebabnya kenapa saya tidak gosong kemarin.

Bisa jadi ini adalah pendapat dari kepala yang ego nasionalisnya terlalu tinggi (caelah) sehingga mengalahkan obyektifitas dalam berpendapat, tapi baru di Karimunjawa saya bisa mengucap Subhanallah dalam hati berulang-ulang ketika memandangi sekeliling saya. Dan yang saya mau Karimunjawa dan pulau-pulau lain di Indonesia tetap seperti itu. Tak tersentuh, tanpa hotel atau resort. Tak ada kursi-kursi pantai warna-warni di Cemara Besar yang luas seperti di Khai Island, saya lebih suka makan siang nasi kotak di bawah pohon beralas pasir putih dengan view pantai berjarak 5 meter di depan dari pada makan siang prasmanan di tempat makan pinggir pantai yang view pantainya pun ditutup gara-gara ada bule yang ga mau silau. Payah!!

Untuk itu, sisi egoisme saya menginginkan pulau-pulau indah di Indonesia tidak perlu dipromosikan saja, kalau perlu dirahasiakan, biarkan untuk kami warga Indonesia sendiri saja yang menikmati. Kedatangan turis mancanegara itu bukan hanya akan merubah kloset jongkok menjadi kloset duduk, namun perlahan akan menguasai aset alam kita. Yang paling penting, mudahkan transportasi kesana (termasuk kemudahan biaya :D ). Pak Jero Wacik, semoga Anda tidak marah membaca paragraf terakhir saya ini :D . Jujur dari hati yang terdalam ini, Pak.

SIN: Biasanya sih dapet segalon

Filed under: me myself & I
Atas nama dehidrasi, kami membeli air mineral 500ml ini seharga segalon kalau di Jakarta. Dasar katro, biasa minum Aqua pake gaya minum Evian, belinya di Guardian pula. Sekali lagi, atas nama dehidrasi :D
evian
Sebenarnya baru nyadar juga sih kalau Evian itu merk mahal :D

briyani
Mungkin itu salah satu aib kami yang ngaku backpacker setelah sebelumnya breakfast (breakfast cing, ambruk dengan cepat) di Burger King Changi seharga SGD 6.85, karena backpacker lebih seru kalau makan makanan ga jelas berlabel nasi Briyani dengan tampilan makanan penjara dan rasa yang amat sombong memiliki rempah berlebih.

October28, 2009

ES Ito dan The Lonely Planet

Filed under: me myself & I
Membaca tulisan ES Ito seperti membaca buku sejarah tapi dalam versi non membosankan, sekaligus mendorong keinginan untuk mempelajari sejarah Indonesia.
Tapi, untuk manusia awam sejarah seperti saya, jadinya seperti mengaburkan sejarah. Bingung dan ragu antara sejarah dan fiksi.

Beberapa hari yang lalu di TM Bookstore Depok Town Square
“Ren, lo kayanya suka buku-buku tentang travelling. Beli tuh The Lonely Planet.”
“Engga ah.”
“Kenapa?”
“Hehehe…”
Saya cuma nyengir sambil berkata dalam hati “salahkan Franz Wisner sehingga penjualan The Lonely Planet berkurang 1 eksemplar”.

October23, 2009

Hidup lagi

Filed under: me myself & I
Payahhh!!

Postingan pertama saya setelah super hiatus selama 1 semester ternyata berisi…. CURHAT. Sejak beberapa bulan yang lalu beberapa teman menanyakan kredibilitas blog saya yang dalam rentang waktu cukup lama kok diam dari acara celaan ataupun perusakan masakan. Pertanyaan kecil semacam “Kok blognya udah ga pernah diupdate?”, “Mana postingan barunya? Kangen nih baca tulisan kamu”, sukses membuat peniti kerudung saya terlepas akibat kepala yang membesar disertai penipisan volume oksigen ruangan tempat saya berada secara tiba-tiba yang belakangan diketahui tersedot lubang hidung saya yang melebar.

Jawaban saya yang sekedar cengiran kuda atau kata “nanti” yang biasa saya lontarkan sebenarnya menyimpan alasan yang lebih kompleks.
Yang pertama, dengan itikad baik saya sedang berusaha memperbaiki diri. Salah satunya adalah dengan memfilter apa-apa yang keluar dari otak-suka-mikir-ga-penting saya yang isinya mostly mencela ini itu, begini salah, begitu ga bener, merasa paling bener, sok jadi polisi KBBI padahal JS Badudu ga pernah menunjuk saya sebagai asistennya. Ya Allah, saya begini banget sih…. Tapi kok ya rasanya saya mengalami kesulitan menulis tanpa mencela, jadilah blog ini kosong hehehe.
Kedua, saat itu saya sedang sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi (caelah, cihui ga sih alasannya?) yang entah bagaimana si sibuk mengalami mutasi menjadi keengganan melakukan suatu hal. Intinya: MALAS
Ketiga, bukan Persatuan Indonesia lho. Saya sedang melatih meminimalisir cerocosan tulisan saya dengan cara memposting apa yang ada di otak saya di Facebook yang memiliki keterbatasan karakter (iya ga sih? tuh kan sotoynya dah keluar :D ). Intinya: FACEBOOK ADDICT.
Dan yang terakhir, eh yang terakhir apa yang keempat sih? (garing) adalah alasan paling jujur di antara semua. SAYA GA ADA IDE NULIS. Hahahahahahahaha…..

Yang amat disayangkan, postingan pertama saya setelah sekian lama idle itu adalah… sekali lagi: CURHAT!! Ga mutu ya? :D

mbegegeg

Filed under: me myself & I

Waktu…
Sudah membuktikan kemampuannya mengeringkan luka
menetralisir rasa
Mungkinkah waktu juga mampu menumbuhkan rasa cintaku pada hatinya yang memilihku?
Lalu kenapa aku masih diam di sini?

Ya Allah… sesulit inikah menaklukkan diri sendiri untuk menjadi sumeleh?

April20, 2009

Ironis melankolis sadis

Filed under: me myself & I
Kemaren saya iseng buka-buka lagi buku bersampul gambar cewek metropolitan, tempat dulu saya nulis macem-macem. Mulai daftar belanjaan, project hidup yang terbengkalai, sampai draft-draft tulisan sebelum saya punya laptop dulu (caelah kaya udah jadi penulis aja :P ). Sampai pada suatu halaman yang membuat saya tertawa ngejungklak-jungklak. Apa pasal? (biasanya blog-blog keren tuh pake bahasa ini :D )

broken

Huahahahaha…. kayanya saya samar-samar ingat ada acara apa sampe saya nulis begitu, wuahahahahaha… Udah ah, masih pengen ketawa ngenes nih

HAHAHAHAHAHA……

April19, 2009

Charice Pempengco

Filed under: eh, tau ngga sih?
Pertama denger dia nyayi di Oprah Winfrey Show beberapa minggu yang lalu. Umurnya masih 14 tahun pas itu dan sukses bikin saya nganga (dalam arti sebenarnya). Suer!

Setelahnya saya nyari di youtube, katanya doi sudah terkenal di situ. Awalnya saya bingung masukin keyword wong saya lupa namanya, saya cuma tahunya dia 14 tahun dan dari Filipina. Akhirnya saya ketik saja “philipines singer on oprah”, eh ketemu dan ternyata namanya Charice Pempengco.

Woi, kenapa masih stuck di blog ini? Buruan cari di youtube, tapi ati-ati menimbulkan efek ketagihan lho. Saya seharian dengerin dia ga bakalan bosan kayanya. Kalo ga suka ya barti ada yang salah dengan telinga anda :P