justrhe[dot]blogsome[dot]com

May25, 2005

Sensor di Sepatu, Pacu Anak Lebih Aktif

Filed under: eh, tau ngga sih?
Jakarta - Sebuah sepatu didesain khusus untuk memacu anak-anak agar tidak terlalu banyak menonton TV. Sepatu ini akan menghitung berapa langkah yang dihasilkan dalam sehari. Kalau kurang dari batas yang ditentukan, mereka tidak boleh nonton TV lagi.
Sepatu yang disebut square-eyes ini, menggunakan sol yang dilengkapi sensor. Seperti dikutip dari BBC News, sensor tersebut menghitung jumlah langkah yang dihasilkan anak-anak, lalu mengkonversi data tersebut dengan waktu menonton TV.
Sensor ini berisi dua bagian. Salah satunya akan menghitung jumlah langkah yang dihasilkan dalam sehari. Bagian lainnya berfungsi untuk mentransmisikan informasi tersebut ke base station yang terhubung ke pesawat televisi.
Dari langkah yang dihasilkan, datanya lalu dipakai menghitung berapa lama si anak boleh menonton TV. Begitu waktu yang ditentukan habis, TV akan otomatis mati. Dan anak-anak harus kembali melakukan aktifitas fisik.
Sepatu unik ini adalah karya Gillian Swan, mahasiswa desain tingkat akhir, dari Brunel University di London, Inggris.
“Anak kecil jaman sekarang kebanyakan menghabiskan waktunya untuk menonton TV. Sepuluh tahun lalu, anak-anak lebih banyak aktif bermain di luar rumah, bersama teman-teman mereka. Sekarang mereka lebih sering berdiam diri di rumah, menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton TV,” kata Swan.
“Square-eyes akan memacu anak-anak untuk selalu melakukan aktifitas fisik dalam keseharian mereka. Penting untuk membiasakan mereka melakukan hal itu sejak dini,” imbuhnya.
Konsep yang diusung sepatu ini bisa dibilang mirip seperti Pedometer. Di Inggris, alat penghitung jumlah langkah per hari ini, makin banyak digunakan anak-anak dan orang dewasa. Kebanyakan menetapkan target 10.000 langkah per hari.
Square-eyes menetapkan terget yang lebih tinggi. Anak perempuan diharapkan bisa mencapai 12.000 langkah per hari, sementara anak laki-laki 15.000 langkah. “Anak yang lebih aktif, akan lebih mudah mencapai target ini,” kata Swan.
Menanamkan gaya hidup sehat sejak dini, harus mulai dibiasakan oleh para orang tua. Obesitas adalah ancaman anak-anak jaman sekarang yang lebih banyak hidup di tengah mainan yang serba digital. Di Inggris, angka obesitas terus meningkat. Pada tahun 1995 9,9 persen anak berusia dua sampai 10 tahun menderita obesitas, sementara tahun 2003 angkanya naik menjadi 13,7 persen.
Square-eyes akan dipamerkan bersama dengan karya mahasiswa lainnya, di kampus Brunel minggu depan.

May19, 2005

Ponsel di Pedesaan Lebih Berbahaya

Filed under: eh, tau ngga sih?
Pengguna ponsel di pedesaan lebih berisiko terkena kanker otak daripada di perkotaan. Masalahnya, lokasi BTS yang jauh ‘memaksa’ ponsel memancarkan radiasi lebih besar.
Itu adalah kesimpulan yang ditarik dari sebuah penelitian di Swedia. Sperti dilansir Independent, Selasa (17/05/2005), para ilmuwan percaya bahwa risiko tumor otak bagi pengguna ponsel di pedesaan tiga kali lebih besar dari pengguna di perkotaan. Penelitian dilakukan terhadap kebiasaan penggunaan ponsel 1400 penderita tumor otak dan 1400 manusia sehat.
Meski demikian, peneliti tersebut mengakui hal itu belum bisa membuktikan bahwa ponsel bisa menyebabkan tumor otak. Studi itu diterbitkan di jurnal ‘Occupational and Environmental Medicine’ dengan responden berusia 20-80 tahun yang didiagnosa positif mengidap tumor otak biasa maupun tumor otak ganas (kanker).
Profesor Lennart Hardell, spesialis kanker dari Rumah Sakit Universitas Orebro Swedia, berpendapat studi itu menunjukkan adanya hubungan dosis radiasi gelombang mikro dari ponsel dengan risiko tumbuhnya tumor otak. “Ini bukti, tapi kita harus menunggu studi lanjutan. Setidaknya ini menunjukkan bahwa penggunaan ponsel harus dibatasi, terutama pada anak-anak,” ujarnya.
Studi tersebut tidak membuktikan adanya hubungan antara perkembangan tumor dengan lamanya penggunaan ponsel. Lebih lanjut, studi itu menemukan risiko tumor otak lebih besar pada pengguna ponsel digital daripada ponsel analog.
Menurut Hardell, hal itu mungkin disebabkan sistem adaptive power control pada ponsel digital. Sistem tersebut secara otomatis akan meningkatkan sinyal ponsel jika lokasi Base Transmitter Station (BTS) terlalu jauh.
Peningkatan tersebut, lanjut Hardell, bisa memancarkan emisi radiasi hingga 10 kali lebih kuat dibandingkan penggunaan biasa. “Sedangkan pada ponsel analog, radiasi yang dipancarkan selalu tetap,” ujarnya.
Studi tersebut masih ditanggapi dingin oleh pihak berwenang. “Ada baiknya pengguna ponsel menunggu hasil studi internasional Interphone yang saat ini sedang dijalankan. Studi tersebut dilaksanakan di 13 negara dan dapat menunjukkan apakah benar ada risiko kanker dari penggunaan ponsel,” ujar jurubicara Dinas Kesehatan Inggris.
Menurut jurubicara tersebut, hasil penelitian di Swedia itu menunjukkan bahwa masyarakat harus lebih berhati-hati dalam menggunakan ponsel, terutama anak-anak. Namun ia juga mengingatkan adanya riset lain yang tidak menemukan hubungan langsung antara kanker otak dengan penggunaan ponsel.

Wicaksono Hidayat - detikInet Jakarta -