justrhe[dot]blogsome[dot]com

March31, 2007

ada apa dengan pria setelah menikah?

Suatu hari ketika sedang makan siang dengan salah seorang teman, berinisial E-S-T-I, tak sengaja kita membicarakan tentang seseorang rekan kerja kami, berjenis kelamin PRIA. Yang kemudian, jadi merembet ke pria lain yang kami rasa memiliki tema yang sama dengan pria pertama yang kami obrolkan.

Teman saya itu bercerita (ya maklum dia lebih dulu masuk ke tempat saya kerja ini, jadi dia yang lebih tau ini itu di dalamnya, tapi dia juga yang lebih dulu keluar hiks…) bahwa pria yang saya sebutkan di atas mengalami kecenderungan perubahan sosialisasi dengan lawan jenisnya sebelum dan setelah menikah. Iya, kata dia, pria-pria tadi, sebelum menikah, mereka kurang ada sosialisasi dengan wanita, bahkan bisa dibilang jaga jarak. Beda dengan sekarang, ketika mereka sudah menikah, bahkan ada juga yang sudah punya junior (anak-red), lebih mau bersosialisasi dengan wanita.

Haha!! Saya jadi ingat kejanggalan yang saya temui beberapa minggu terakhir. Mengenai seorang rekan kerja -sebut saja Iwan (bukan nama sebenarnya -red). Dia ini baru saja menjadi seorang suami. Dulunya, saya dan dia merasa berada di dunia yang berbeda. Tidak pernah ada cerita percakapan sekecap pun antara saya dan dia (bahasanya doooong…. kesannya… saya menghiperbola sepertinya). Tetapi setelah dia menikah, entahlah, dia bukan hanya memulai percakapan, bahkan ngeledek, ngecengin. Rese!! Dan perubahan itu saya rasa drastis sekali, terjadi pas setelah dia masuk kerja lagi setalah cuti menikah.

Setelah mendengar cerita dari teman saya tadi, saya jadi berpikir, ternyata bukan seorang saja.

Pertanyaan saya, kenapa? Ada apa dengan pria-pria ini?

Kenapa mereka justru memulai perluasan sosialisasi dengan lawan jenis setelah mereka terikat dengan seorang lawan jenis?
Hei, saya pernah membaca mengenai sebuah riset tentang beda antara pria dan wanita, salah satunya menyebutkan “pria tidak ingin wanita yang dinikahinya berubah setelah menikah tetapi nyatanya mereka berubah, sebaliknya wanita menginginkan ada perubahan pada pria yang menikahinya tapi mereka tidak pernah berubah”. Dalam kasus di atas, siapa dong yang berubah? oke2 mungkin beda konteksnya ya.

Tapi saya masih bertanya-tanya. Kenapa?
Apakah dulu mereka mengira bahwa wanita itu begitu menakutkan bagi mereka dan baru menyadari bahwa wanita itu amat sangat manis ketika mereka memilikinya?
Apakah mereka merasa terlalu tampan hingga ada ketakutan bahwa wanita yang bersosialisasi dengannya akan jatuh cinta padanya sementara mereka tidak bisa membalasnya? Hei, plis deh…

Memang tidak semua pria berperilaku seperti ini sih, tapi saya sudah menemui cukup banyak ;)

March25, 2007

aku kembali

teplek… teplek… teplek…

Sandal jepitku mencetat-cetat di atas tanah basah, bisa dibilang becek sebenarnya. Sepertinya semalam hujan di sini. Sial, sandal jepitku mencipratkan lumpur pada celana khakiku. Semoga rendaman Attack bisa menghilangkannya. Dingin sekali pagi ini. Jaket merahku menjadi lembab menyesap aroma embun pagi, biarlah dia jadi parfumku. Aku tidak pernah menemukan parfum dengan aroma seperti ini di C&F Perfumery, sama halnya dengan bau tanah basah setelah hujan turun. Aku selalu berharap punya sebotol parfum dengan aroma seperti itu.

Rumahku terletak di kawasan yang bisa dibilang ndeso, jadi jalanan untuk akses ke rumahku belum diaspal. Daerahnya sepi, tidak banyak orang yang meminatinya, tapi rapi dan asri. Entahlah, mungkin dianggap kurang keren, masalah fasilitas, atau pihak marketing yang kurang mengiklankan kawasan sini. Pernah seorang teman menanyakan kenapa aku memilih punya rumah di kawasan ini. Hmmm…. sebenarnya, dulu awalnya aku cuma ikutan teman. Lagipula, aku tidak suka sesuatu yang pasaran, aku memang sedang mencari sesuatu yang tidak banyak peminatnya, jadilah kawasan ini aku pilih. Sempat, terpikir untuk pindah. Tapi aku terlalu sayang dengan segala sesuatu yang aku punya di sini, terlalu banyak kenangan yang akan aku tinggalkan di rumah yang aku tinggali selama hampir 2 tahun ini. Belum lagi masalah repot tetek bengek pindahan, broadcast alamat baru, dan lain-lain dan lain-lain. Jadi kuputuskan, di sini saja. Baru-baru ini aku coba menyewa rumah di kawasan yang lebih banyak penghuninya, di kawasan blogspot.

Selain bekas sandal jepitku, ada beberapa jejak lain, entah sandal atau sepatu, dengan bermacam tekstur dan ukuran sol yang bagian depannya menghadap ke arah rumahku. Apa yang mereka lakukan di sini? Ah, aku tidak mau berpikiran negatif. Mereka pasti bukan orang-orang yang berniat mencuri, merampok, atau melakukan hal buruk pada rumahku selama aku tinggalkan. Kurasa mereka hanya melihat, dan menanti mungkin, apakah penghuninya sudah kembali.

Krieek… pagar besi setinggi bisa-kuloncati berderit tersenggol ransel di punggungku. Aku baru sadar kalau selotnya terbuka. Aku memang tidak menggemboknya, hanya selot besi saja yang menguncinya, bahkan bisa dibuka dari luar dengan merogoh ke dalam. Yang pasti menimbulkan bunyi krek-krek mendesing akibat gesekan besi-besi tadi. Tapi seingatku, aku menguncinya sebelum meninggalkan rumah ini. Mungkin ada orang yang membuka kemudian lupa menguncinya lagi. Biarlah, salahku sendiri kenapa tidak menggemboknya.

Kudorong pagar itu, suaranya semakin keras. Rupanya karat makin ganas menjangkiti lonjoran besi pagarku ini. Aku tertegun. Gaya dorongku pada pagar menjadi 0. Hanya jari-jari kananku masih melingkari besi dingin itu. Aku menatap lagi jejak-jejak kaki di tanah di bawahku. Ada yang aneh. Kapan terakhir mereka ke sini? Jejak kaki ini terlalu kuat, ataukah tetesan hujan yang terlalu lemah untuk menghapusnya? Ah, sudahlah, terlalu banyak anomali yang aku temui dalam hidup ini, terutama di tempat saya bekerja (hehe). Dahiku mengerinyit, ada beberapa lubang sedalam kira-kira 3 sampai 5 cm di atas tanah, diameternya kurang lebih 1 cm. Kemudian aku tersenyum sendiri sambil berkata dalam hati, alas kaki yang salah untuk mengunjungi tempat seperti ini.

Akhirnya aku melangkah masuk juga, pintu pagar kututup lagi, tak lupa menggeser selotnya ke kanan, hingga terkait dengan lubang besi di kanannya. Sandal jepitku tidak mencipratkan lumpur lagi, dia sudah melangkah di atas semen beku berwarna merah selebar 80 cm yang memanjang dari pagar depan ke teras rumah, serasa artis Hollywood yang berjalan di atas red carpet ketika menghadiri acara piala Oscar. Biar lebih berasa jadi artis, aku melambai. Ke kanan. Pada bougenville putih dengan bercak merah yang aku culik dari koleksi bougenville Ibuku. Memang sih, bunga ini menyalahi aturan pertamanan yang kubuat sendiri, yang menyatakan bahwa hanya boleh ada bunga warna putih di situ. Jadi tamanku bernuansa putih dan hijau si daun. Itu juga yang membuat Ibu protes. Ah, bilang saja tidak rela salah satu koleksinya kuambil. Toh, sekarang beliau beralih pada kamboja kuntet, atau apalah namanya, pohon kamboja yang dibonsai? Bodo ah.

Bougenvilleku tak berbunga, hanya daun hijau dengan bercak kuningnya saja yang lebat. Ini memang bukan masanya untuk berbunga, atau angin yang memaksanya untuk pergi dari tangkainya. Entahlah, prediksi BMG benar, akhir-akhir ini memang angin bertiup kencang. Aku sendiri juga tidak ingat kapan waktunya dia berbunga. Aku melirik ke kiri, senyumku sumringah. Ada kuncup mawar putih di salah satu tangkainya. Cantik sekali, hingga menarik setetes bening embun untuk istirahat di atasnya, ingin berakhir di atas putihnya ketika surya perlahan menghapusnya. Aku memotretnya dengan kamera ponselku. Terlalu cantik untuk tidak diabadikan. Diam-diam, aku berterima kasih pada hujan , untuk menjaga mereka selama beberapa saat aku menjadi orang yang tidak bertanggung jawab.

Aku terkejut kesal. Kenapa terasku kotor dan berantakan? Ada lukisan sol entah sepatu entah sandal dari lumpur, puntung rokok, mugkin A Mild, kaleng Pocari Sweat, bungkus Happy Tos, Chunky Bar, lembaran kertas entah apa berserakan dari atas meja hingga lantai teras. Barisan semut berpatroli dengan rute meliuk tak beraturan. Aku mengikuti barisan itu hingga sampai di di kiri pintu masuk. Ya ampun, rupanya ada remahan besar roti di sana. Selamat menikmati, semut-semut manis. Aduh, apa sih yang mereka lakukan di sini? Sepertinya, aku harus bekerja keras hari ini. Eh, ada setangkai mawar putih di depan pintu. Ada orang yang sengaja membawakan ini untukku, atau ada orang pacaran tak bermodal yang mengambil dari tamanku? Jika option kedua yang terjadi, kusumpahin mereka segera putus. Tus!!

Ceklek… ceklek… tanda besi pengait bergeser ketika aku memutar kunci di lubangnya. Ketika kubuka pintu itu, masih mengeluarkan bunyi ciieeet seperti dulu. Bau pengap menyerangku. Maklum, sebulan lebih rumah ini kutinggalkan. Untunglah, kekacauan di luar tadi tidak terjadi di sini. Aku lepaskan ransel dari gendonganku, dan dia mendarat dengan empuk di atas sofa. Sementara sandal jepit secara otomatis menelanjangi kakiku. Aku tidak mau mengikuti ranselku merebah di situ, debu di meja tebal sekali, jadi pasti itu juga yang terjadi pada sofaku. Aku ke ruang tengah, menuju pesawat telepon. Ada 1 pesan. Ah, pesan tak penting rupanya. Aku bergegas membuka tirai gading di seberangnya. Apa ini? Ada sidik jari di kaca. Bisa dibilang sidik tangan nggak sih? Kelima jarinya menempel di kaca. Trus, apa lagi di situ? Seperti… bekas bibir menempel. Iiiihhh… jorok!! Tuhanku, apa sih yang mereka lakukan di sini? Benar-benar… aku harus bekerja keras untuk menormalkannya.

Bagaimana kabar kamarku ya? Kakiku menapaki tangga kayu berwarna coklat tua. Berat badanku yang hanya 40 kg hanya menimbulkan bunyi dug-dug ringan. Keadaan di atas ternyata sedikit lebih parah dari di bawah. Ada lubang angin yang meloloskan kotoran masuk. Serpihan bunga apa sih ini? Pasti karena hujan dan angin akhir-akhir ini. Wuhuuu… BMG hebat euy!

Pintu kamarku tertutup, tapi tidak terkunci pastinya. Ketika pintunya terbuka, seperti ada daya magnetis dari suatu benda di dalamnya, menarikku tanpa mampu ku melawan. Aku pun menyerah. Merelakan semua adaku untuknya. Membiarkan baunya membuaiku, hangatnya memelukku, empuknya mendekapku. Oh, kasurku ini masih seperti yang dulu. Menjaga dengan setia selimut kucelku, guling bututku, bantal yang empuknya semakin berkurang karena basah oleh air mataku ketika sedih. Kasur ini pula yang dengan sabar merelakan tubuhnya kuinjak, kulompat, ketika aku bahagia. Sekarang aku berbaring di atasnya. Bodo amat jika harus berbagi dengan debu yang menghinggapinya. Peduli setan dengan kekacauan di bagian lain rumah ini. Aku ingin berbagi mimpi dengan kasurku.

haihai semua… saya kembali. tapi saya bobo dulu yeaaa… ;)