Resign engga ya?
resign?
engga?
resign?
engga?
resign?
katanya kalo kita tidak mencintai pekerjaan kita..maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana.. kalo tidak mencintai rekan-rekan kerja, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda.. bila anda toh tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda.. bila tidak menemukan kesenangan di sana maka cintai apa pun yang bisa anda cintai seperti tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, gumpalan awan dari balik jendela.. APA SAJA.. bila anda tetap tidak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, maka mengapa anda ada di situ? tak ada alasan bagi anda untuk tetap bertahan.. pergi dan cari apa yang anda cintai..lalu bekerja di sana…
Well… Yes, I do love my bos, he’s so kind and umm… I think he looks like my father hehehe…
then…
Yap, saya cinta bos saya dan anak-anak buahnya
… saya cinta teman-teman bekerja saya… saya cinta bunga-bunga di depan sana yang kadang banyak kupu-kupu cantik di sekelilingnya… saya cinta bunga kamboja yang gugur di rumput, memungut dan membawanya ke ruangan kerja kemudian menyelipkanya di kerudung saya (berasa gadis bali)… saya cinta koridor tempat saya berlarian menuju tempat kerja dengan sandal jepit cemplak cemplak berisik saya kemudian mengerem di depan pintu dengan berpegang pada gagangnya… saya cinta ketika bermain air di pojokan saat turun hujan… saya cinta sebelah musholla ketika saya membiarkan leher pegel menatap ke atas mencari-cari bintang di langit malam… ya!! saya mencintai mereka semua.
Tetapi apakah cinta tersebut cukup kuat melawan rasa benci saya
Saya benci mengetahui diri saya berjuang dalam kemacetan sore hari untuk kerja yang dimulai jam 8 malam. Saya bersama beberapa orang di sekeliling saya dalam kemacetan yang panas dan engap, tapi paling tidak di pikiran mereka mereka tahu bahwa mereka akan istirahat atau melakukan sesuatu yang mereka senangi setelah melewati semua ketidakenakan ini.
Saya benci ketika tengah malam membiarkan mata saya begadang percuma sementara otak sudah enggan terjaga.
Saya benci dengan rasa tidak enak saya membangunkan orang di lelap tidurnya.
Saya kadang bosan dengan aktivitas saya yang begini-begini saja.
Saya benci dengan rasa dingin ini, saya tidak punya cukup banyak lemak untuk melindungi tubuh saya (bo, saya sudah komplain lho. tapi sepertinya beliau-beliau terlalu sibuk dengan urusan yang lebih penting dari pada ngurusi seorang karyawati kedinginan. Masa saya harus terus-terusan komplain sampai dicap cewek manja? Ya sudahlah, saya masih bisa mendandani diri a la orang eskimo dan terus beredar mencari kehangatan).
Saya benci… ditinggalkan. Sudah terlalu banyak yang meninggalkan saya.
Saya benci karena saya masih di sini dengan semua kebencian ini.
Hmmm….
Dari pada terus-terusan mencecar tinggalin aja kali ya? Lagi pula, sepertinya tak ada gunanya lagi saya di sini. Tapi masa harus jadi pengangguran? Ough!! Saya benci CV saya yang tak pernah laku.
Ah, ternyata saya tak sekuat dan setegar yang saya kira. Jargon “berjuu-wang!!” dan “semangat!!” saya tak banyak membantu lagi.
Jadi, resign engga ya? Well… tunggu keputusannya nanti Mei yah…
Meibi YES
Meibi NO
:D
Hehehe… boong-boong… saya nggak akan resign kok
saya orangnya bullshit. As shit as this entry. Lagi pula, cinta saya masih di sini


