dokter kulit dan buah nafsu-nya toko tubuh
Iya, benda mahal (setidaknya bagi saya begitu) yang ternyata meracuni itu saya beli hari Kamis tanggal 14 Juni 2007 di Centro Plangi. Yoi ingat banget secara pada hari tersebut seharian saya kelayapan. Paginya ke Depok, dan karena sedikit kebodohan saya, sore baru nyampe Jakarta lagi. Setelah makan dan cuci muka (ga mandi) langsung cabut ke Plangi, iman saya terlalu lemah untuk menolak hasutan seorang teman dengan iming-iming BIG SALE di Centro. Di sana ketemu teman saya yang sudah sumringah a la BIGSALE LOVER. Saya bingung harus mengawali kalimat ini dengan fortunately atau unfortunately, sepatu lucu yang cuma 79 ribu itu ukuran yang pas di kaki kecil saya gak ada, ya maklum aja barang diskonan kan limited. Akhirnya cuma laper mata dengan membeli benda dalam kemasan ungu bulet itu. Capek puter-puter dan kenyang makan, sekitar jam setengah 9 kita cabut ke Playan, nonton 3 Hari untuk Selamanya yang baru diputer jam 21.40. Nah, di tempat inilah, tepatnya di toilet Senayan XXI (baru tau ternyata toiletnya keren lho, tapi agak-agak ngeri secara remang-remang, yang mana lampu seakan cuma ditujukan untuk menerangi jamban. Jamban bo) pertama kali benda itu melumat (bunuh saya atas pilihan kata ini) bibir saya.
Setelah beberapa kali pemakaian, bibir saya yang memang suka kering itu bertambah kering, pecah-pecah, perih dan menghitam, ditambah rasa gatal di sekitarnya, di kelopak mata dan di kuping (lho?). Akhirnya saya memutuskan pergi ke dokter, kebetulan di apotik dekat tempat tinggal saya ada dokter kulit prakter di situ. Dari pada jauh-jauh ke Rumah Sakit, sebenarnya lebih karena malas, kalau ada yang dekat kenapa cari yang jauh. Di plang papan nama di depan apotik, dokter spesialis kulit dan kelamin yang tertulis di situ bernama dr A. Kosasih, hei menurut kalian, nama Kosasih itu cewe apa cowo?
Sekitar jam 18.30 saya menuju TKP, masuk ke apotik yang sepanjang ingatan saya selalu dilayani mbak-mbak dengan muka ketekuk.
+ Saya: Mba, ruang prakter dokter Kosasih di sebelah mana ya?
- Mba Apotik: di sebelah sana (sambil menunjuk arah kanan jika dilihat dari tempat saya berdiri), tapi kayaknya belum dateng. Tunggu aja, biasanya bentar lagi juga dateng.
+ Saya: oh, iya. Makasih mba (menuju tempat duduk dan duduk. ya iya lah)
Setelah menunggu kira-kira 15 menit (yang menurut saya bukan waktu yang sebentar untuk menunggu) mba Apotik memberitahu kalau dokter sudah datang. Dan pergilah saya menuju ruang praktek beliau, mengetuk pintu yang bertuliskan ruang prakter dr A. Kosasih itu dan membukanya. Jrenggg…!!!
Lho?!?! Kok… cowo… eh maaf, maksud saya pria.
Lho?!?! Kok… pria…
Bukannya nama Kosasih itu nama perempuan?
Pria tua berkacamata dan beruban itu mempersilakan saya duduk.
- Dokter: Namanya siapa?
+ Saya: Reny, dok.
Pria tua berkacamata dan beruban yang selanjutnya disebut sebagai Dokter itu menuliskan di buku besarnya di barisan di bawah nama-nama lainnya, Leni.
+ Saya: Reny, dok. Pake R.
- Dokter: oh, maaf (meralat dengan cara menindas huruf L dengan huruf R)
+ Saya: (Duh, pake Y bukan I)
- Dokter: Oke, itu bibirnya kenapa?
+ Saya: (Nah, he didn’t spell my name correctly, and now he can read my mind)
+ Saya: Iya nih, dok. Kering trus gatel.
- Dokter: Hmm… coba lihat sebentar. Duduk di sebelah sana biar lebih terang (sambil menunjuk kursi di dekat pintu)
+ Saya: (nggak ada senter atau semacamnya gitu? tapi nurut juga)
- Dokter: (mengamati sebentar) Hmm… nanti ada salep ya, dioles tipis-tipis aja ya
+ Saya: Bibir saya kenapa, dok?
- Dokter: Iya, nanti dikasi salep. Dioles tipis-tipis aja tiap hari. Trus jangan sampe kena air panas atau air es. Jadi jangan minum es atau minum yang panas-panas. Itu dihindari dulu ya.
+ Saya: Pake sedotan kan bisa, dok hehehe
- Dokter: Oh, iya. Pake sedotan gapapa. Kan langsung ke tenggorokkan
+ Saya: (???)
+ Saya: Emang bibir saya kenapa, dok?
- Dokter: Iya ini coba saya hilangkan dulu itu keringnya. Makanya nanti diolesi salep ya, merata tipis-tipis aja, kayak gini…
Sugar Honey Ice… SHIT!! ANJRIT!!! He touch my lip. Aaaarrrrrggghhh!!! Huaaaaa….!!!! Saya cuma bisa memberi refleks melotot. Ya Allah, beri ketabahan dan kesabaran menghadapi orang tua ini. Tarik nafas panjang… dan hembuskan perlahan. Kadang mujarab lho.
Si Dokter mempersilakan saya duduk di tempat duduk awal.
+ Saya: Kira-kira ini penyebabnya apa ya, dok?
- Dokter: Ini saya kasi resep. Ada salep sama tablet untuk sepuluh hari. Tiap hari minum 1 tablet.
+ Saya: (Duh, ini dokter sebenarnya tau nggak sih penyakit saya apa. Main tulis resep aja)
- Dokter: Terus jangan lupa, salepnya dioles tipis-tipis merata, ya. Tipis-tipis aja pake tangan sendiri. Jelas?
+ Saya: (ya iyalah pake tangan sendiri. Maksud lo?)
- Saya: iya, jelas, dok.
Sesi berikutnya selama sekitar 10 menit (kayaknya sih ga selama itu) dipenuhi dengan ceramah dokter mengenai airpanas-airdingin-olestipis berulang-ulang, sementara saya cuma angguk-angguk (a la anak metalnya project pop) sambil sesekali tersenyum dipaksakan (bukan apa-apa, ini bibir nih periih cuma buat sekedar senyum).
Setelah bayar 100 ribu
+ Saya: Maaf, dok. Boleh minta kuitansinya? (kalo ga ada kuitansi gimana reimbursenya?)
- Dokter: Oh, kuitansi ya? Bentar saya lihat kalo masih ada, kayaknya sih habis (sambil mencari-cari di lemari kecil di belakang kursinya)
- Dokter: Wah, kuitansinya habis. Besok aja ke sini lagi ya
+ Saya: (%$%%@#*^)
+ Saya: Umm… pake itu aja deh dok. Ditulis di situ (menunjuk kertas yang dipakai buat nulis resep)
Akhirnya, keluar juga saya dari ruangan itu. Kemudian keluar dari apotik setelah membeli obat yang tertera di resep, walaupun sebelumnya sempet ragu ini obat bener apa nggak, tapi sekarang saya pake juga hahaha…
Dan, saya yang biasanya kemana-mana tanpa make up, sekarang pake make up dong. Make up alami bertema gothic, dengan fokus bagian bibir hehehehe…
Olala… mentega bibir aroma buah nafsu dari toko tubuh (baca: Passion Fruit Lip Butter by The Body Shop)
hihihi… saya norak ya? beberapa hari belakangan vocab yang saya pake emang engga banget. gampang sebel sama orang
maap semua
nb. gambar di atas diambil dari sini



@ awan & iwan: maap ya semua, karena blog saya ini tidak menerima bentuk2 pornograf, maka comment anda saya delete. mohon maaf atas ketidaknyamannya. sila masukkan comment lagi yang tidak mengandung unsur pornograf.
)
terima kasih
Comment by justrhe — June28, 2007 @ 2:19 pm