09:53.
Sudah cukup siang. Aku duduk di kursi yang sama seperti kemarin, kemarinnya lagi, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu. Kursi yang sudah kududuki puluhan hari, menemaniku dalam bengong, melewati hari yang kurasa tak pernah istimewa. Tiap hari seakan de javu. Seperti pagi ini, seakan aku tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Iya, seperti hari-hari sebelumnya, bukan?
Aku masih duduk, menatap lalu lalang orang lewat jendela kaca di depanku. Satu dua orang, seakan aku mengenal wajah mereka semua. Tak asing. Atau hanya perasaanku saja? Entahlah… aku mulai mengantuk. Biarkan de javu ini berjalan seperti biasanya.
10:42
Oh, Tuhan… siapa dia? Bidadarikah? Di antara ramai lalu lalang orang, aku melihatnya berjalan pelan ke arahku. Seakan dia punya daya magnetis yang membuat mataku tak ingin lepas darinya. Samar kulihat bening wajahnya, matanya yang indah melirik kanan kiri, alisnya yang menyatu di antara kedua matanya mengingatkanku akan burung camar yang beterbangan di tepi pantai ketika senja. Dan senyumnya, sangat manis, sesekali gigi putihnya terlihat berderet rapi ketika dia tertawa kecil bersama kedua temannya. Rambutnya yang sebahu dikuncir a la Legolas di film LOTR, membuatnya makin terlihat seksi.
Kamu… kamu siapa? Ingin rasanya aku ada di pelukmu, mencium wangi rambutmu, merasakan lembut belaimu, hangat kecupmu. Datanglah kau wahai gadis pencuri hati, sejukkan hatiku yang haus akan cinta. Kau tahu? Kurasa aku jatuh cinta. Ada sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Sedikit ada sakit, tapi indah, sangat indah. Tidak, tidak! Aku pasti jatuh cinta. Aku merasakan semangat yang berlebih di hatiku. Dan kamu… kamu sudah mematahkan teori de javu ku. Sejak saat ini, hariku tak kan pernah sama.
Oh, tidak! Dia menatapku, mata kami beradu pandang. Tuhan, Maha Besar Engkau yang menciptakan mata coklat seindah itu. Jantungku seakan berhenti berdetak selama beberapa detik ketika dia menatapku. Dia masih menatapku, tanpa berkata apapun. Akupun tak tahu harus berbuat apa. Mematung, menikmati indah karya-Nya, berharap bisa mem-pause saat ini. Jangan membisu, katakan apa yang ada di kepalamu, cantik. Dan, dia tersenyum… dia tersenyum padaku. DIA TERSENYUM PADAKU. Aku membalas senyumnya. Mungkin kau harus melihatnya sendiri untuk tahu betapa teduh senyumnya, tak bisa kulukiskan di sini, aku tak punya kata yang cukup indah menggantikan indah senyumnya. Aku seakan meleleh. Aku ingin mengatakan padanya betapa manis senyumnya. Tapi seakan saraf motorikku tak bekerja saat itu. Mungkin, mereka juga ikut meleleh karena senyumnya.
“Tita, ayo cepetan. Ditungguin tuh.”
Suara itu seakan sebuah panggilan “hey, earth calling!” yang menyadarkanku dari lamunan. Bersamaan dengan itu, kulihat senyuman indah di depanku menghilang. Dia pergi. Dia… pergi… Aku masih bisa melihat punggungnya yang perlahan menjauh, lengan kanannya ditarik seorang gadis lain, temannya mungkin. Sesekali dia masih menoleh ke belakang, menatapku. “Jangan pergi…!” teriakku. Tapi kurasa dia terlalu jauh untuk mendengarku.
Tita… rupanya gadis dengan senyum sejuta dollar itu bernama Tita. TITA. Cepat sekali kau pergi. Kau seakan embun. Bening cantikmu hanya menyapa ketika pagi, kemudian kau sirna terganti terik mentari. Sejak saat itu, pikiranku dipenuhi olehnya. Beginikah rasanya jatuh cinta? Kau tahu Tita, aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama, sampai aku bertemu denganmu. Ough, rasa rindu ini amat menyiksaku. Aku ingin bertemu dengannya lagi. Tapi, sudahlah, jika dia memang jodohku, aku percaya aku akan dipertemukan lagi dengannya.
15:43
“Bu, liat yang itu dong.” Suara itu membangunkanku dari tidur. Aku menoleh ke kiri, mencari sumber suara. Oh, tidak mungkin, aku pasti bermimpi. Kucubit tubuhku. Auw! Sakit. Berarti ini bukan mimpi. Tapi, itu… dia… Tita, itu Tita. Dia menatapku sambil tersenyum. Tangan si Ibu mengangkat tubuhku, memberikanku pada Tita, Titaku.
Dia membelaiku, tatapan matanya dalam sekali. Kami saling menatap. Tita, aku tahu kaupun menyukaiku, bisa kulihat dari binar indah matamu. Sejak itu aku yakin dialah jodohku. Dia melilitkan tubuhku di pergelangan kirinya. Kulitnya begitu putih dan halus, bisa kurasakan rambut-rambut halus tangannya, bisa kulihat garis samar urat nadinya, dan ups, ada tahi lalat kecil di bagian dalam pergelangan tangannya.
Tita, kau lihat? Tanganmu cantik dengan aku di atasnya. Aku berjanji, aku akan menjagamu. Aku tak akan membuat lecet tanganmu, atau membuatmu tanganmu gatal-gatal karena alergi, seperti yang sudah mereka lakukan padamu, atau membuat tanganmu gerah. Tak akan kulakukan itu semua. Aku berjanji, akan menunjukkanmu waktu, aku takkan membuat kesalahan, sedetikpun. Aku akan mengingatkanmu, kapan kau harus berangkat kerja, ketika kau ada janji dengan seseorang, jadwal serial TV favoritmu, semuanya. Aku berjanji semua akan kulakukan untukmu. Akulah jodohmu, Tita. Bawa aku bersamamu.
Dia masih terseyum, bergantian menatapku dan temannya. Apa lagi yang kau pikirkan, Tita? Akulah jodohmu, Tita. Bawa aku bersamamu.
“Berapa ini, Bu?” Kudengar suaranya. Selanjutnya, entah kenapa aku tak bisa mendengar apapun. Tetapi kemudian, Tita melepaskanku dari tangannya, perlahan, kemudian meletakkanku. Ah, aku tahu. Tak mungkin dia langsung memakaiku. Dia pasti meletakkanku untuk bisa dibungkus oleh si Ibu, dan kemudian, dibawanya aku pergi. Aku ini, tak sabaran.
Tapi, Tita, kau mau kemana? Kenapa kau letakkan aku kemudian pergi begitu saja? Kumohon, jangan pergi lagi. Ah, tidak. Dia pasti pergi karena sesuatu, dan akan kembali untuk menjemputku. Aku yakin itu. Dia pasti kembali. Dan aku, aku pasti menunggumu, Tita.
19:12
Lama sekali… kenapa dia belum kembali? Ah, mungkin beberapa menit lagi. Dia pasti sedang makan malam atau apa. Atau, kalau tidak hari ini, mungkin besok. Aku masih bisa menunggu. Tita…
…
Sudah 8 hari sejak pertemuanku dengan Tita, dia belum kembali. Ataukah, dia takkan kembali?
…