CHASH ONLY

Lokasi: Matahari Dept. Store Blok M Plaza, shoes n bags area
Hmmm… sepertinya yang bikin suka banget sama huruf “H“

Lokasi: Matahari Dept. Store Blok M Plaza, shoes n bags area
Hmmm… sepertinya yang bikin suka banget sama huruf “H“

Lokasi: KanTek UI
Harga: Rp.4000
Pssstttt…! Uang 5000 nya saya belikan Zestea lagi, kembali 1000, di tempat yang sama. Kali ini belum beruntung hahaha…
Tadi aku makan siang bareng 2 cowo itb
Itu SMS yang saya kirim ke seorang teman siang ini. Nggak sampai semenit dia balas
Ya..ya.. Itu artinya tuh co ga puasa
Hahahaha… bisa aja puasa setengah hari toh? xixixixi…
Hahahaha… Itu duluuu… sekarang siy, ga peduli kamu cowok ITB, bapak kamu dosen ITB, kamu punya kenalan satpam di ITB, kamu punya hidung semancung ganesha, nenek moyangmu pendiri ITB, SELAMA KAMU BUKAN DIA, kamu ga ada istimewanya untuk saya

Akhirnya, akhir Agustus kemarin, film ini dilaunching. Melihat aktor pemeran Nimo-nya, sebenarnya saya sudah mulai ilfil. Tapi, berdalih penasaran, akhirnya saya tonton juga film ini. Hasilnya… duh emosinya nggak dapet sama sekali, beda jauh dengan novelnya. Setidaknya itu pendapat subjektif saya berdasar emosi yang saya tangkap setelah baca novelnya sekitar 3 tahun yang lalu. Saya ragu Icha Rahmanti puas dengan film adaptasi novelnya ini.
Rahmi yang menurut saya seharusnya dewasa tapi gendeng, smart, dan bengal, di filmnya terlihat terlalu manja dan kekanak-kanakkan, bloon pula. Nimo, yang seharusnya tokoh sentral yang membawa emosi di cerita ini dan karakternya lebih dikuatkan, seharusnya punya karakter brengsek, garang, cuek, playboy, bukan bencong manis dengan aksen super aneh, klemak-klemek, yang punya mata genit kayak barongsai. Satu-satunya tokoh yang sedikit mepet-mepet novelnya hanya Raka, Danang Raka Sudiro, pria super baik yang membuat saya shock karena akhirnya Rahmi memilih Nimo. Hanya, di sini memang sedikit terkesan gampang menyerah, sih.
Banyak adegan yang dipotong atau dibelokkan. Adegan pertemuan Rahmi dan Raka misalnya, tidak ditampilkan dalam film ini. Bisa dipahami, mengingat pertimbangan durasi film tersebut. Yang membuat saya kecewa adalah pembelokan cerita tersebut.
# Pernyataan cinta Nimo pada Rahmi seharusnya di sebuah pesta pernikahan seorang teman SMA, di suatu sudut tempat, yang mana seharusnya Rahmi bereaksi super emosi sampai menampar Nimo, dan bukan di suatu restoran dengan Rahmi hanya berhenti makan sambil “Mba mba, minta bill-nya”. Emosinya kuraaanggg.
# Nimo dan Raka seharusnya berantem sampe pukul-pukulan, tonjok-tonjokkan. Rahmi yang kemudian mengetahuinya berteriak marah pada Nimo untuk tidak mengganggu kehidupannya. Bukan cuma bertemu untuk ngobrol, ngopi aja sekalian.
# Seharunya ditambahkan sedikit adegan ketika Raka membatalkan lamarannya, kalo dibiarin aja kesannya Raka pria yang kurang bertanggung jawab.
# Raka mustinya pergi ke luar negeri karena ditugaskan ke sana.
# Adegan SMA ketika Rahmi dan Nimo terjebak hujan, harusnya Nimo-nya cuek, sedang Rahminya ngarep. Rahmi baru tahu kalo Nimo diam-diam memperhatikannya beberapa tahun kemudian dari penjaga sekolah.
# Yang dibilang Nimoneus Kronis serasa nggak ada sama sekali di film ini. Disebut doang.
# Di saat terakhir, seharunya Nimo datang ke Barbietch ketika Rahmi sedang berpose engga banget, berjoget di depan kaca dengan tank top dan bulu-bulu. Nimo datang dengan semua barang yang disukai Rahmi, ingin menunjukkan kalau selama ini dia tahu dan kenal Rahmi.
Asli, kecewa banget sama film ini. Saya juga bertanya-tanya, siapa yang memilih Miller memerankan tokoh Nimo? Apa hanya karena dia artis luar negeri? Luar negeri juga cuma tetangga sebelah.
Saya jadi ingat adegan ketika Nimo menyatakan cintanya pada Rahmi dengan ucapan mautnya “Lu, Mi” yang diucapkan dengan aksen aneh tanpa emosi. Tatapan mata yang seharusnya dalam, ini malah lirikan genit. Ini yang memancing seisi bioskop tertawa ngakak seakan nonton film komedi. Film yang seharusnya romantis penuh emosi malah jadi film konyol.
Jadi, yang sudah baca novelnya, disarankan untuk tidak menonton filmnya, kecuali jika ingin meng-olahraga-kan mulut dengan tertawa.
My friend keep telling me… “ada harga ada kualitas” hehehe…
Gayanya aja project #1, padahal ini mah project dadakan, yang merupakan pembelokan project sebelumnya. Iya, karena sebelumnya saya berencana untuk resign kemudian kembali ke Surabaya dan melanjutkan pendidikan saya di almamater ITS tercinta. Ketika itu masih nunggu pendaftaran. Sampai suatu hari saya berchit-chat lewat Y!M dengan seorang teman ganteng saya (asli niy anak ganteng, pinter lagi. Sayang dah ada monyetnya
). Entah kenapa dari obrolan saya dengannya, saya jadi membelokkan tujuan saya lewat jalan lain. Tak pernah menyangka kalo si ganteng ini yang menginspirasi saya. Hai, ganteng, makasih ya
Akhirnya saya browsing sana sini, tanya sana sini cari info ini itu. Dan, pada siang 14 Juni 2007 yang panas, dengan cupunya saya ucluk-ucluk seorang diri mendaftarkan nama saya sebagai seorang kontestan.
- Saya sampai di TKP pas jam 12 tet, jam istirahat. Jadinya nunggu 1 jam.
- Pensil 2B saya hilang entah kemana, akhirnya minjem mba-mba di situ (memalukan)
- Saya yang terkenal tukang nyasar, mengambil rute muter-muter untuk kembali dari rektorat ke balairung (padahal sebelahan bo).
Kata dia sih, yang paling susah soal RL-nya. Buku aku tak punya, jadi hanya mengandalkan bahan yang saya dapat dari internet. Berhari-hari saya bergadang ditemani asupan kopi untuk belajar RL dan Rangkaian Listrik. RE-nya baca dikit-dikit, sementara magnet ga belajar sama sekali, wong ga punya bahannya.
Ujian hari Sabtu dan Minggu tanggal 14 dan 15 Juli 2007. Jumat malamnya dengan biadab saya pergi ke Citos mengamini ajakan teman saya, padahal udah kerasa gejala flu.
Day #1: TPA & Bahasa Inggris
- Sampai di TKP sempat bingung kok banyak yang bawa buku TPA. TPA apaan? Ketika saya buka lagi kartu ujian saya ternyata ujiannya TPA dan Bahasa Inggris, bukan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Yo wis lah, pasrah aja liat ntar.
- Soal TPA dengan waktu 3x60 menit dikerjakan dengan hatchi-hatchi.
- Sesi Bahasa Inggris, flu makin parah. Pusing, badan panas, hatchi-hatchi akut, bercucuran air mata, lapar (asli, kirain jam 12 jam 1 udah kelar semua ternyata baru mulai sesi kedua. Cari kantin ga nemu, coklat di kantong tas dah abis), dan, ngantuk. Selama beberapa menit sempat aku tidur sebentar, gimana lagi, ngantuk ga mengenal ujian. Ketika ada pengumuman waktu tinggal 10 menit lagi aku terbangun, kubalik-balik soalnya, masih ada 3 text lagi. Buset. Tapi mataku belom mau melek juga. Parahh!!
Pulangnya, tepar. Bener-bener sakit. Tidur all night long.
Day #2: RL, RE, LM
Badan dan mendingan.
RL: cuma bolak-balik kertas soal sambil tersenyum. Ironis. Yang bikin aku begadang beberapa malam ternyata ga sukses juga.
RE: lancaaarrr
LM: bikin rumus sendiri ngliyat dari satuannya ![]()
Yo wis lah, pasrah aja. Saya sudah minta yang terbaik sama Allah. Kalau misal gagal ya berarti ada yang lebih baik dari ini. Everythings happen for a good reason
Daaannn… Sabtu tanggal 28 Juli 2007, namaku ada sebagai salah satu dari 117 nama yang lulus. Alhamdulillah. Untung aja quotanya banyak. Ini yang terbaik untukku, kan, Ya Allah?
Dari sinilah perjuangan dimulai. 13 Agustus 2007 registrasi administrasi yang menguras ras ras tabunganku, hunting kostan, traktir teman (ditodong sebenernya).
27 Agustus perkuliahan dimulai. Setiabudi-Cikarang, Setiabudi-Depok, amat sangat melelahkan. Akhirnya 1 September 2007, officially aku meninggalkan Setiabudi dan pindah ke Depok. Huff… gonna miss nasi ayam cah jamur, nasi cap cai-nya Bakmi Setiabudi, Ayam Lengkuas, Kebab.
Dan ternyata, Depok-Cikarang amat menyakitkan.
#1 Bis 102 (Tn Abang-Depok)
Berangkat jam 5.30, dapet bis itupun berdiri dalam keadaan ngantuk berat (maklum biasanya jam segitu masih molor). Sampe pajak jam 6.50, nunggu bis jemputan yang jam 7.40. Mau tidur di halte dikira gelandangan. Ya udah, ngenteni sampe metu kembange ![]()
#2 KRL (Cawang-Pocin)
Nyampe Cawang sekitar jam 17.30, untung ada temannya
. KRL pertama yang lewat sudah shock dulu ngliatnya sebelum naik. Akhirnya naik KRL berikutnya 10 menit kemudian yang lebih manusiawi, walaupun berdiri. Cepet ternyata bo. Ga pake macet. Mantabb!!
#3 KRL (Pocin-Cawang)
Nyampe Pocin sekitar jam 5.50, dapet kereta balik. Alhamdulillah dapat tempat duduk, walaupun jarak pandang saya cuma sampai mba-mba di depan saya. Padet bo. Cawang sudah dekat, saya pun berdiri bermaksud mendekati pintu. Hggg!!! Sesak. Tidak bisa bergerak. Bahkan napas pun terasa sesak. Badan saya yang kecil pun tak bisa menyelip. Kata “permisi” seakan tak didengar. Sampai ada Ibu-ibu yang berkata “Neng mau turun? Keretanya udah jalan. Nanti aja di Tebet bareng Ibu juga mau turun.” Saya hanya terseyum. Pasrah.
#4 Angkot 19 (Depok-Ps Rebo) disambung 06A (Ps Rebo-UKI)
So far so good. Walaupun dari pasar rebo ke UKInya lumayan macet. Sampai teman saya bilang” Jangan naik 06A, itu mah jalurnya macet. naik bis Mayasari yang 9B tar masuk tol”
Siappp!! Dicoba besok.
Doraemon, bagi pintu ajaibnya dong…