Cintapuccino: Novel vs Film

Akhirnya, akhir Agustus kemarin, film ini dilaunching. Melihat aktor pemeran Nimo-nya, sebenarnya saya sudah mulai ilfil. Tapi, berdalih penasaran, akhirnya saya tonton juga film ini. Hasilnya… duh emosinya nggak dapet sama sekali, beda jauh dengan novelnya. Setidaknya itu pendapat subjektif saya berdasar emosi yang saya tangkap setelah baca novelnya sekitar 3 tahun yang lalu. Saya ragu Icha Rahmanti puas dengan film adaptasi novelnya ini.
Rahmi yang menurut saya seharusnya dewasa tapi gendeng, smart, dan bengal, di filmnya terlihat terlalu manja dan kekanak-kanakkan, bloon pula. Nimo, yang seharusnya tokoh sentral yang membawa emosi di cerita ini dan karakternya lebih dikuatkan, seharusnya punya karakter brengsek, garang, cuek, playboy, bukan bencong manis dengan aksen super aneh, klemak-klemek, yang punya mata genit kayak barongsai. Satu-satunya tokoh yang sedikit mepet-mepet novelnya hanya Raka, Danang Raka Sudiro, pria super baik yang membuat saya shock karena akhirnya Rahmi memilih Nimo. Hanya, di sini memang sedikit terkesan gampang menyerah, sih.
Banyak adegan yang dipotong atau dibelokkan. Adegan pertemuan Rahmi dan Raka misalnya, tidak ditampilkan dalam film ini. Bisa dipahami, mengingat pertimbangan durasi film tersebut. Yang membuat saya kecewa adalah pembelokan cerita tersebut.
# Pernyataan cinta Nimo pada Rahmi seharusnya di sebuah pesta pernikahan seorang teman SMA, di suatu sudut tempat, yang mana seharusnya Rahmi bereaksi super emosi sampai menampar Nimo, dan bukan di suatu restoran dengan Rahmi hanya berhenti makan sambil “Mba mba, minta bill-nya”. Emosinya kuraaanggg.
# Nimo dan Raka seharusnya berantem sampe pukul-pukulan, tonjok-tonjokkan. Rahmi yang kemudian mengetahuinya berteriak marah pada Nimo untuk tidak mengganggu kehidupannya. Bukan cuma bertemu untuk ngobrol, ngopi aja sekalian.
# Seharunya ditambahkan sedikit adegan ketika Raka membatalkan lamarannya, kalo dibiarin aja kesannya Raka pria yang kurang bertanggung jawab.
# Raka mustinya pergi ke luar negeri karena ditugaskan ke sana.
# Adegan SMA ketika Rahmi dan Nimo terjebak hujan, harusnya Nimo-nya cuek, sedang Rahminya ngarep. Rahmi baru tahu kalo Nimo diam-diam memperhatikannya beberapa tahun kemudian dari penjaga sekolah.
# Yang dibilang Nimoneus Kronis serasa nggak ada sama sekali di film ini. Disebut doang.
# Di saat terakhir, seharunya Nimo datang ke Barbietch ketika Rahmi sedang berpose engga banget, berjoget di depan kaca dengan tank top dan bulu-bulu. Nimo datang dengan semua barang yang disukai Rahmi, ingin menunjukkan kalau selama ini dia tahu dan kenal Rahmi.
Asli, kecewa banget sama film ini. Saya juga bertanya-tanya, siapa yang memilih Miller memerankan tokoh Nimo? Apa hanya karena dia artis luar negeri? Luar negeri juga cuma tetangga sebelah.
Saya jadi ingat adegan ketika Nimo menyatakan cintanya pada Rahmi dengan ucapan mautnya “Lu, Mi” yang diucapkan dengan aksen aneh tanpa emosi. Tatapan mata yang seharusnya dalam, ini malah lirikan genit. Ini yang memancing seisi bioskop tertawa ngakak seakan nonton film komedi. Film yang seharusnya romantis penuh emosi malah jadi film konyol.
Jadi, yang sudah baca novelnya, disarankan untuk tidak menonton filmnya, kecuali jika ingin meng-olahraga-kan mulut dengan tertawa.
My friend keep telling me… “ada harga ada kualitas” hehehe…



Wakakaka:D kadang (kebanyakan) pilem emang nggak sama dengan novelnya. N itu bakalan sukses bikin siapapun jadi ill fill
novelandme.wordpress.com
Comment by Novelandme — March3, 2008 @ 7:31 pm