i wish i could stop the time…

sehari saja… pengen tidur semaleman, bangun-bangun nonton dvd sambil ngemil, baca buku, makan, shalat.
sehari saja…

sehari saja… pengen tidur semaleman, bangun-bangun nonton dvd sambil ngemil, baca buku, makan, shalat.
sehari saja…
Sudah cukup lama saya menghentikan kegilaan saya pada benda bernama pin…

…
tapi ketika menemukan ini….

… tembok pertahanan iman saya jebol juga. Hahahaha…
Email dari salah satu customer:
Dear all,
Kami informasikan status Link CSM Tgl 12 November 2007,
1. Jam 10.30am to 11.32am
2. Jam 11.38am to 12.25am
3. Jam 06.46am
* ( see attack files )
Kami informasikan pula, pada saat jam2 sibuk system SAP bisa sedikit
lebih cepat dibanding minggu kemarin. ( Namun pada dasarnya system SAP
belum bisa kembali berjalan pada kondisi normal seperti sebelum Link
Komunikasi ada problem )
Demikian informasi ini, terima kasih atas kerjasamanya.
Thank’s & Best Regards
Hxxx Xxxxxxo
IT - PT Mxxxx Xdx Xxxxxxx, Tbk
Tlp : 021-86(sekian-sekian) ext.423
Are you going to attack us?
Kamus Bahasa Sunda itu ternyata ada lho, sodara-sodara… Kamus bahasa daerah pertama yang saya temui. Dasar orang sunda narsis!! Hehehehe… becanda. Sebenarnya saya yang wong-jowo-tapi-ga-jowo ini sedikit merasa sirik. Kamus Bahasa Jawa-nya mana?
Saya tidak mengatakan si penulis sebagai penganut aji mumpung seperti penulis buku sejenis Panduan Membuat Blog atau Kumpulan SMS Lucu yang kerap membuat mata saya sepet ketika menghabiskan waktu di toko bukiu. Justru saya rasa yang seperti ini salah satu wujud menghidupkan kembali budaya Indonesia, saya beri pengkhususan, bahasa daerah Indonesia, tanpa bermaksud mengabaikan bahasa Nasional tentunya.
Coba saja tanya ke anak-anak SD sekarang, apa masih ada mata pelajaran Bahasa Daerah? Untuk anak jowo, apa masih disibukkan dengan menghapal huruf Jawa Ho No Co Ro Ko lengkap beserta pepet-taling-tarung? Saya dulu suka ngerpek kalau ujian bahasa Jawa yang otomatis pasti ada soal mengkonvert huruf latin ke huruf jawa, baru SMP kelas 2 saya bisa lancar menulis, walaupun sekarang lupa
. Apa anak-anak sekarang masih mengenal ngoko atau kromo inggil? Tembang macapat dan sejenisnya? Saya rasa sudah berganti dengan past tense atau future continous tense. Hey, saya tidak mengatakan kalau Bahasa Inggris itu tidak penting, hanya yang saya sayangkan adalah bahasa ini datang sebagai pengganti bukan penambah.
Contoh lain, salah satu ponakan saya yang blasteran Jawa-Madura, dari kecil sudah dibiasakan berbicara dalam bahasa Inggris sama Maknya, walhasil kalau sedang sowan ke Mbahnya, si Mbah nggak ngerti apa mau cucunya. Solusinya biasanya dengan menswitch si cucu tadi dengan “Speak in Indonesia!”. Bagus juga mengajari anak bahasa Internasional sejak dini, saya nanti kalau sudah punya anak juga pengen menerapkannya. Tapi lha mbok yao… bahasa daerahnya itu jangan diilangin. Eh, saya jadi membayangkan kalau si anak tadi musti belajar 4 bahasa (Inggris, Indonesia, Jawa dan Madura) xixixixi… Menurut Kak Seto?
Oh, iya. Saya jadi ingat cerita lucu mengenai bahasa-berbahasa ini. Almarhum Kakek saya (dari Bapak), yang Jawa tulen, punya besan orang Sunda (mertua adik Bapak saya). kakek saya ini sedikit-sedikit ngerti bahasa Indonesia, secara banyak cucunya tidak bisa bahasa Jawa dan menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi sehari-hari, otomatis Kakek saya harus belajar, cuma Kakek saya ini tidak bisa berbicara dengan bahasa Indonesia. Doh! Pada suatu ketika mereka bertemu dan ngobrol berdua. Benar-benar berdua. Dan tahu apa yang terjadi? Kakek saya ngobrol dengan bahasa Jawa kromo inggil, dan si besan menjawabnya dengan bahasa Sunda. Yang satu ngomong apa, yang satunya lagi jawab apa. Percaya nggak percaya, percakapan itu terjadi cukup lama. Mantabs!!
Berbicara mengenai bahasa Nasional a.k.a bahasa Indonesia, yang menjadi sumpah ketiga Sumpah Pemuda, belakangan saya mulai tambah risih dengan atribut-atribut nggak penting dalam pelafalan bahasa Indonesia yang justru tambah bikin gatel kuping. Kenapa saya bilang tambah risih? Karena sebelumnya sudah risih. Doeloe, waktu saya masih kecil, yang membuat saya risih adalah perubahan pengucapan akhiran -kan menjadi -ken (kalau orang Sunda ditulisnya keun. Betul?) dan penggunaan kata daripada yang tidak pada tempatnya, yang dipopulerkan oleh mantan Presiden Soeharto. Mentang-mentang Presiden! Kemudian, entah wangsit dari mbah siapa di gunung mana yang membuat Debby Sahertian mempublikasikan bahasa gaul yang membolak-balik makna bahasa Indonesia itu sendiri. Hasilnya malah tambah ruwet dan memicu alzeimer dini (saya menghiperbola).
Sebelumnya saya menanggapi kata elo-gue dengan biasa saja, sampai ada satu kejadian yang membuat kata ini ikut membuat risih. Duh, siapa sih yang membuat pengkastaan baru ini dalam berbahasa? Eh, iya. Mbak… Mbak masih ingat saya? Kalo nggak ingat, aku deh. Mbak masih ingat aku? Yah, melotot. Ya udah, loe masih ingat gue? Mbak, saya mau tanya, kalo aku-kamu dan elo-gue beda kasta, trus kalo elo-gue sama elu-gua ada perbedaan kasta juga ga, Mbak? Mbak, yang bener itu nulisnya Elo, Elu, Loe, Lu, apa Lo? Aku aja deh ya, biar gampang. Bukan Aq lho ya
Dan, sekaraaaang, saya sedang risih dengan pemaksimalan huruf C dan peniadaan huruf T yang dipopulerkan Cincha Laura, binchang syinetwon bawru dawri Germany, yang menyebut diwrinya bukan cewe Indonesya, bukan cewe Germany, chapi cewe inchernesyenal.
Hihihihi… saya sedang sok nasionalis
ps. Lokasi pemotretan: TM Bookstore Depok Town Square (I love this place, semua bukunya berdiskon, selalu muter lagu-lagu yang populer jaman SMA saya dulu, dan, mas-masnya itu lho… brondong ganteng. Gusrak!)

Kelarek: “Ter, bengong aja lo. Ati-ati lho, ayam tetangga gue bengong besoknya mati.”
Piter: “Iya, pas dia bengong ada sapi terbang masuk ke mulut dia.”
Kelarek: “Ya abisnya, lo segitunya sih nungguin si Brus. Tar lagi juga dateng. Palingan masih fitness dia.”
Piter: “Bukan apa-apa, Rek. Kalo milyuner itu ga dateng, ini yang mau bayarin siapa? Lagian, reporter kere kayak kita kok diajak ketemuan di Starbucks.”
Kelarek: “Hahahaha… Jadi karena itu. Kasian banget sih lo, cakep tapi kere. Tenang tar gue yang bayarin, kemaren gue abis menang lotre.”
Piter: “Heh?!?! Serius lo? Beli lotre di mana?”
Kelarek: “Maria Mercedes.”
Kelarek melihat Brus dari kaca, keluar dari Jaguar hitam kemudian sesaat menyapukan pandangan ke sekeliling.
Kelarek: “Eh, itu si Brus. Buset, baru lagi tu mobil.”
Piter: “Edaaan…!”
Brus masuk dan berjalan ke arah kedua teman seprofesinya.
Brus: “Hai, guys. Sori ye gue telat. Abisnya busi motor gue perlu diganti makanya mendadak musti ke Jerman.”
Piter: “Tenang aja, bro. Lo baru telat 1 jam kok. ”
Kelarek: “Eh, itu tunggangan baru lagi?”
Brus: “Yoi, choy! Emang anggota DPR aja yang bisa ganti mobil?”
Kelarek: “Elu, Brus. Baju item, mobil item, daleman lo jangan-jangan item juga lagi. Mau nyaingin Permadi lo?”
Brus: “Ya dari pada elo berdua, udah kembaran, biru-merah lagi.”
Piter: “Mau gimana lagi? Kita belinya grosiran di Tanah Abang biar lebih murah, trus dibagi dua makanya warna kostum kita sama, orang bahannya emang sama.”
Kelarek: “Elu buka rahasia aja, Ter. Tapi modelnya beda dong.”
Brus: “Hahahaha… Trus perancangnya siapa? Elu, Rek, kenapa kolor jadi di luar gitu?”
Piter: “Sebenernya yang di dalemnya tu kolor ijo, makanya sama dia ditutupin pake kolor merah.”
Kelarek: “Enak aja kalian. Jadi gini, pertama, tu bahan sisa yang merah, sayang kan kalo dibuang. Kedua, ide dibikin topeng udah dipake sama Piter, gue ga mau ikutan, apalagi sayang kan kalo wajah gue yang ganteng ini ditutup topeng. Yang ketiga, biar gampang kalo pipis. Meneketehe kalo ternyata malah jadi trend fashion.”
Brus: “Nah, elu Ter. Elu kalo pipis gimana?”
Piter: “Ya berdiri lah. Masa jongkok? Emang gue cewe? Eh, ada yang ga gue ngerti deh dari elo, Rek.”
Kelarek: “Apaan?”
Piter: “Rambut lo bisa rapi jali tu gimana caranya? Elo udah muter-muter di box telepon umum, udah gitu terbang ketiup-tiup angin, rambut lo kok tetep klimis gitu?”
Kelarek: “Hehehehe… Gue gitu loh. Superman…”
Piter: “Najis!”
Brus: “Ter, lu sirik ya sama Kelarek?”
Piter: “Sirik? Apa yang perlu disirikin dari dia?”
Brus: “Ya kalo gue lihat, si Kelarek lebih bisa jadi trendsetter dari pada elo. Gue tau kenapa elo pake topeng, elo nggak pede kan sama muka elo, sama rambut elo. Trus kliatan juga dari perbedaan pose kalian berdua kalo dipoto. Kelarek dengan pose tangan di pinggang menatap ke atas seolah dia yang palinga ganteng padahal sih malah kesannya gay. Elu, Ter, jongkok dengan muka nunduk kayak meratapi kekalahan pamor lu dari si Kelarek.”
Kelarek: “Elu bilang gue gay?!?!?!”
Piter: “Elu ngomong kayak gitu udah kayak yang paling keren aja. Elu ngaca dong, kostum lo itu kayak orang bego tau nggak? Elu kaya raya durjana oke, tapi selera kayak orang kampung. Ga bisa terbang aja pake sayap segala.”
Kelarek: “Elu tu yang gay. Si Robin piaraan elo tu apa kabar?”
Brus: “Eh, ini bukan masalah bisa dan ga bisa terbang. Gue banyak duit, masa kalah sama kalian. Elu, Rek, pake sayap, gue juga bisa. Si Piter pake topeng, topeng berapa duit sih, gue juga mampu beli. Dan masalah si Robin, itu urusan gue sama Robin, ga ada urusannya sama elo. Kalo gue miara Robin kenapa? Gue mampu kok. Elu sirik kan karena ga mampu miara brondong? Ngaku aja deh.”
Kelarek: “Elo nantangin gue? Gue layanin nih.”
Brus: “Elo ga usah macem-macem deh, lo kan cuma numpang di sini. Lo kan bukang orang Bumi. Pulang sana lo ke planet lo!”
Wuzzzz….!!!!
Weeeee…. bumi gonjang ganjing… trok tok tok tok….
Gatotkaca: “Hehehehe… iki ada apa toh kok ribut-ribut? Kedengeran sampe Pringgodani.”
Brus: “Sapa lo? Orang kampung!!”
Kelarek: “Itu Gatotkaca dodol. Elu orang kaya ga gaul. Sekarang kan jaman internet, masa Gatot kaca aja ga ngerti.”
Gatotkaca: “Hahahahaha…. Perkenankan saya memperkenalkan diri (sambil melintir kumis jamprangnya). Aku ngono Gatotkoco, satrio Pringgodani, otot kawat balung wesi.”
Brus: “Translate cong!”
Piter: “Dia Gatotkaca, ksatria Pringgodani, otot kawat tulang besi.”
Brus: “Mantaabb!! Ya sudah silakan duduk.”
Piter: “Monggo pinarak…”
Gatotkaca: “Aku ngono yo ngerti bahasamu. Wis ra perlu nggawe translater. Aku ngono wis gaul. Buktine ngerti Starbucks.”
Kelarek: “Lagak lo Starbucks. Orang biasanya di warung kopi aja.”
Gatotkaca: “Starbucks kan warung kopi juga.”
Brus: “Lo ke sini mau ngapain?”
Gatotkaca: “Hehehehe… saya ini mau coba-coba gabung sama superhero, karena saya ingin meng-upgrade titel saya jadi superhero. Tapi kok superheronya ga akur.”
Brus: “Upgrade? Elo punya apa buat jadi superhero?”
Gatotkaca: “Lha ini… otot kawat balung wesi… “(sambil memamerkan otot lengannya)
Piter: “Mak lo dulu pas hamil ngidam apaan emang? Traktor?”
Gatotkaca: “Wah, saya ndak tahu kalo masalah itu. Yang saya tahu saya lahir dalam keadaan kaku. Tidak bisa bergerak sama sekali.”
Brus: “Lho?”
Gatotkaca: “Lho lha iya to. Sekarang sampeyan bayangkan sendiri, punya otot kawat tulang besi, apa ndak repot? Saya itu sebenernya pernah diajak salsa sama Venna Melinda, tapi lha wong gerak aja susah, ini kok salsa lagi.”
Kelarek: “Trus, kenapa pengen upgrade ke superhero? Emang lo pikir apa yang membuat lo pantes jadi superhero?”
Gatotkaca: “Sampeyan ini ndak pernah ngrasain sih, punya otot kawat tulang besi. Saya ini belajar bertahun-tahun biar bisa melenturkan kawat di badan saya ini. Terus menjaga tulang saya supaya tidak karatan yang nantinya bisa menimbulkan tulang keropos. Belum lagi, saya harus jauh-jauh sama magnet, bisa lengket saya sama dia.”
Kelarek: “Hmmm…”
Gatotkaca: “Tapi setelah saya pikir-pikir… sebaiknya saya mundur saja dari superhero.”
Piter: “Lho, kenapa?”
Gatotkaca: “Ada 1 syarat yang belum saya punyai untuk jadi superhero.”
Piter: “Apa? gue rasa lo udah pantes kok. Ya ga man?”
Kelarek: “Iya, lo bisa terbang kan?”
Brus: I”ya, gue liat elo cukup tajir, buktinya tu mahkota dari emas murni kan? Bisa gue cium baunya.”
Gatotkaca: “Tapi tetap saya tidak punya 1 hal yang kalian punya.”
Kelarek: “Apa itu?”
Gatotkaca: “Pacar. Saya tidak punya pacar. Saya tidak punya Louise Lane, saya tidak punya Mary Jane, saya tidak punya Robin.”
Brus: “Anjir. Maksud lo?”
Kelarek: “Hahahahaha….!!!!”
Gatotkaca: “Ya sudah, saya pamit dulu. Sudah ditunggu banyak orang.”
Brus: “Mau kemana lo. Sok penting.”
Gatotkaca: “Saya mau ke Kalibata.”
Piter: “Ngapain?”
Gatotkaca: “Upacara.”
Kelarek: “Upacara apaan? Ini kan hari Sabtu.”
Gatotkaca: “Sekarang kan tanggal 10 Nopember.”
Kelarek: “Emang kenapa kalo 10 Nopember?”
Gatotkaca: “Itulah kenapa saya tidak mau jadi superhero. Sudah dulu ya, sudah dimiskol nih.”
Piter: “Heh? Miskol? Ya sudah sana pergi.”
Brus: “Eh, tunggu dulu.”
Gatotkaca: “Ada apa?”
Brus: “Nama asli lo siapa?”
Gatotkaca: “Gatot.”
Brus: “Trus kenapa elo dipanggil Gatotkaca?”
Gatotkaca: “Dulunya saya jualan kaca, jadinya sama tetangga kampung dipanggil Gatot Kaca. Ada juga tetangga saya namanya Bejo tukang patri dipanggilnya Bejo Patri.”
Brus: “Untung lo bukan orang Sunda ya, Tot. Bisa dipanggil Aa Gatot lo.”
Gatotkaca: “NAJIS!!!”
Gatotkaca: “Sudah ah, sudah disms suruh cepet. Caw!”
Lagipula, orang lain bukan hanya melihat accessories apa yang kita pakai, tapi juga siapa kita dengan accessories tersebut. Misalnya suatu hari saya berjalan dengan Louise Vuitton asli di pundak saya, apakah kalian langsung meng-wow, maaf meng-waow tanpa mempertanyakan keasliannya? Kemudian, seandainya kalian bertemu Kris Dayanti dengan Elle watches palsu di lengannya, apa masih curiga kalau itu palsu?
Sama halnya dengan peringatan pemerintah mengenai rokok. Merokok dapat menyebabkan serangan jantung, kanker, inpotensi, dan gangguan kehamilan dan janin. Walaupun peringatan yang lebih berupa ancaman hidup itu dipampang dengan jelas baik di kemasannya maupun dalam iklannya, apakah berhasil menurunkan konsumen rokok? Kata yang pria: Saya kan nggak punya janin dan ga hamil, apa yang terganggu?. Sedangkan menurut si wanita: Merokok itu menyebabkan impotensi, hai para pria, kalau kalian impoten bagaimana bisa menghamili kami?
Kita selalu berdalih untuk mendapat pembenaran atas kesalahan kita. Termasuk saya. Kamu, dengar baca ya, saya tahu saya salah, dan saya tidak pernah menyalahkanmu karena menyalahkan saya. Saya tidak mencari pembenaran, sulit mencari pembenaran atas kesalahan saya yang ini. Tapi, saya tidak bisa berhenti melakukannya. Bukan, bukan, bukan tidak bisa, tapi tidak mau. Iya, saya tidak mau menghentikannya. An angel or a bitch? Kamu hanya memberiku pilihan itu. Padahal aku maunya bitchy angel. Ga gampang untuk memilih angel, bukan begitu, Toni Braxton?
Kamu tahu, saya sayang kamu karena menyalahkan apa yang saya lakukan
“Ada apa?” tanyaku setengah berteriak sambil berjalan mendekatinya.
“Ada yang ketinggalan.”
“Apa?”
“Hatiku…”
“….”
“Ya sudah, aku titipin ke kamu aja ya. Bye.”
AAAAAWWWHH!!!!!