justrhe[dot]blogsome[dot]com

November11, 2007

Bahasa

sundaneseKamus Bahasa Sunda itu ternyata ada lho, sodara-sodara… Kamus bahasa daerah pertama yang saya temui. Dasar orang sunda narsis!! Hehehehe… becanda. Sebenarnya saya yang wong-jowo-tapi-ga-jowo ini sedikit merasa sirik. Kamus Bahasa Jawa-nya mana?

Saya tidak mengatakan si penulis sebagai penganut aji mumpung seperti penulis buku sejenis Panduan Membuat Blog atau Kumpulan SMS Lucu yang kerap membuat mata saya sepet ketika menghabiskan waktu di toko bukiu. Justru saya rasa yang seperti ini salah satu wujud menghidupkan kembali budaya Indonesia, saya beri pengkhususan, bahasa daerah Indonesia, tanpa bermaksud mengabaikan bahasa Nasional tentunya.

Coba saja tanya ke anak-anak SD sekarang, apa masih ada mata pelajaran Bahasa Daerah? Untuk anak jowo, apa masih disibukkan dengan menghapal huruf Jawa Ho No Co Ro Ko lengkap beserta pepet-taling-tarung? Saya dulu suka ngerpek kalau ujian bahasa Jawa yang otomatis pasti ada soal mengkonvert huruf latin ke huruf jawa, baru SMP kelas 2 saya bisa lancar menulis, walaupun sekarang lupa :D . Apa anak-anak sekarang masih mengenal ngoko atau kromo inggil? Tembang macapat dan sejenisnya? Saya rasa sudah berganti dengan past tense atau future continous tense. Hey, saya tidak mengatakan kalau Bahasa Inggris itu tidak penting, hanya yang saya sayangkan adalah bahasa ini datang sebagai pengganti bukan penambah.

Contoh lain, salah satu ponakan saya yang blasteran Jawa-Madura, dari kecil sudah dibiasakan berbicara dalam bahasa Inggris sama Maknya, walhasil kalau sedang sowan ke Mbahnya, si Mbah nggak ngerti apa mau cucunya. Solusinya biasanya dengan menswitch si cucu tadi dengan “Speak in Indonesia!”. Bagus juga mengajari anak bahasa Internasional sejak dini, saya nanti kalau sudah punya anak juga pengen menerapkannya. Tapi lha mbok yao… bahasa daerahnya itu jangan diilangin. Eh, saya jadi membayangkan kalau si anak tadi musti belajar 4 bahasa (Inggris, Indonesia, Jawa dan Madura) xixixixi… Menurut Kak Seto?

Oh, iya. Saya jadi ingat cerita lucu mengenai bahasa-berbahasa ini. Almarhum Kakek saya (dari Bapak), yang Jawa tulen, punya besan orang Sunda (mertua adik Bapak saya). kakek saya ini sedikit-sedikit ngerti bahasa Indonesia, secara banyak cucunya tidak bisa bahasa Jawa dan menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi sehari-hari, otomatis Kakek saya harus belajar, cuma Kakek saya ini tidak bisa berbicara dengan bahasa Indonesia. Doh! Pada suatu ketika mereka bertemu dan ngobrol berdua. Benar-benar berdua. Dan tahu apa yang terjadi? Kakek saya ngobrol dengan bahasa Jawa kromo inggil, dan si besan menjawabnya dengan bahasa Sunda. Yang satu ngomong apa, yang satunya lagi jawab apa. Percaya nggak percaya, percakapan itu terjadi cukup lama. Mantabs!!

Berbicara mengenai bahasa Nasional a.k.a bahasa Indonesia, yang menjadi sumpah ketiga Sumpah Pemuda, belakangan saya mulai tambah risih dengan atribut-atribut nggak penting dalam pelafalan bahasa Indonesia yang justru tambah bikin gatel kuping. Kenapa saya bilang tambah risih? Karena sebelumnya sudah risih. Doeloe, waktu saya masih kecil, yang membuat saya risih adalah perubahan pengucapan akhiran -kan menjadi -ken (kalau orang Sunda ditulisnya keun. Betul?) dan penggunaan kata daripada yang tidak pada tempatnya, yang dipopulerkan oleh mantan Presiden Soeharto. Mentang-mentang Presiden! Kemudian, entah wangsit dari mbah siapa di gunung mana yang membuat Debby Sahertian mempublikasikan bahasa gaul yang membolak-balik makna bahasa Indonesia itu sendiri. Hasilnya malah tambah ruwet dan memicu alzeimer dini (saya menghiperbola).

Sebelumnya saya menanggapi kata elo-gue dengan biasa saja, sampai ada satu kejadian yang membuat kata ini ikut membuat risih. Duh, siapa sih yang membuat pengkastaan baru ini dalam berbahasa? Eh, iya. Mbak… Mbak masih ingat saya? Kalo nggak ingat, aku deh. Mbak masih ingat aku? Yah, melotot. Ya udah, loe masih ingat gue? Mbak, saya mau tanya, kalo aku-kamu dan elo-gue beda kasta, trus kalo elo-gue sama elu-gua ada perbedaan kasta juga ga, Mbak? Mbak, yang bener itu nulisnya Elo, Elu, Loe, Lu, apa Lo? Aku aja deh ya, biar gampang. Bukan Aq lho ya ;)

Dan, sekaraaaang, saya sedang risih dengan pemaksimalan huruf C dan peniadaan huruf T yang dipopulerkan Cincha Laura, binchang syinetwon bawru dawri Germany, yang menyebut diwrinya bukan cewe Indonesya, bukan cewe Germany, chapi cewe inchernesyenal.

Hihihihi… saya sedang sok nasionalis :D

ps. Lokasi pemotretan: TM Bookstore Depok Town Square (I love this place, semua bukunya berdiskon, selalu muter lagu-lagu yang populer jaman SMA saya dulu, dan, mas-masnya itu lho… brondong ganteng. Gusrak!)

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://justrhe.blogsome.com/2007/11/11/182/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>