justrhe[dot]blogsome[dot]com

December31, 2007

Selamat…

hari ini…
tangki bahan bakar kendaraan bermotor sudah diisi penuh, siap bermacet-macet ria dan adu cepat sampai di tempat tujuan masing-masing, siap berlomba membuang emisi kendaraan masing-masing
tiket acara tertentu sudah dibeli beberapa hari yang lalu, tinggal dinikmati
walhasil, aparat keamanan dikerahkan dalam jumlah lebih besar dari hari biasa
yang memilih ke luar kota, sudah sampai di kota tujuan
yang ke luar negeri, bikin ngiri :D
atau, yang mau berbeque-an aja di rumah bareng tetangga, bakar ini bakar itu, sudah menyiapkan tetek bengeknya dari siang hari
terompet dan kembang api sudah menjadi item wajib
yang di dalam rumah saja, sudah siap dengan cemilan dan begadang ditemani televisi
yang mau menyapa pas dini hari, sudah siap mem-broadcast sms atau telepon
Selamat Tahun Baru Hari Konsumtif Sedunia!!

December24, 2007

KRL (bagian 1)

10 Januari 07
Jam 7 pagi.
Aku sudah rapi dengan rok selutut dan kemeja, rambut bob sebahuku cukup disisir ke belakang. Praktis. Tinggal finishing dengan make-up wajibku, maskara, kata Sila, sahabatku, bulu mata lentik yang melindungi mata coklatku perlu ditonjolkan. Aku langsung mengamini, mata adalah bagian wajahku yang paling kusuka. Cukup 2 kali sapuan di kanan dan 2 kali di kiri, diakhiri dengan jepitan bulu mata, done. Tinggal pakai sepatu dan tas, siap full body contact di KRL, ups, maksudku berangkat kerja. Full body contact adalah istilah yang sering dipakai oleh Laena, teman SMA dulu yang sekarang bekerja di daerah Mangga Dua, untuk menyebut kondisi di dalam KRL. Aku belum pernah mengalaminya, hanya mendengar cerita dari Laena, dan hari ini aku akan mengalaminya sendiri. Yup, hari ini adalah hari pertama aku naek KRL. Huff.. ada rasa deg-deg juga sih. Aku janji bertemu Laena untuk berangkat bareng dari stasiun Cawang. Laena yang tinggal di rumah saudaranya di Cikoko itu sudah biasa pergi-pulang kerja berdempet-dempet di dalam KRL.

Oh, iya, perkenalkan, namaku Manik. Aku asli Banjarmasin, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, yang akhirnya bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang export-import tekstil, kantornya ada di daerah Pancoran. Sayangnya, sejak dua hari yang lalu, sejak ada kantor baru di Kota, aku adalah salah satu dari sekitar 80 karyawan yang dipindahkan ke kantor baru tersebut. Aku sudah telanjur betah dan malas mencari tempat kost baru, akhirnya walaupun jauh dari tempat kerja, aku tidak pindah dari tempat kostku yang dulu.

Pancoran-Kota cukup jauh, kalau naik bis, duh, nggak tahan sama macetnya itu lho. Seperti kemarin, aku naik bis dari Pancoran ke Kota, duh udah stress duluan di jalanan sebelum stress di kantor. Akhirnya, atas rekomendasi Laena, aku putuskan menggunakan jasa KRL untuk mengantarkan aku ke kantor maupun kembali lagi ke kost. Cukup naik metro mini atau ojek ke Stasiun Cawang, kemudian naik KRL sampai Kota.

Sampai di Cawang, Laena sudah menunggu. Hal pertama yang membuatku terkejut adalah harga tiketnya yang hanya 1500 rupiah. Kata Laena, masih banyak kejutan lainnya, yang justru membuatku tidak tenang. Dan benar saja, kereta pertama yang datang membuatku shock. Di atas gerbong sudah berjajar tak beraturan para pria, sedangkan gerbong penumpangnya sendiri mengingatkanku pada jagung pop buatan Ibuku ketika masak di dalam panci tertutup, seakan berdesakan ingin keluar. Begitulah, di pintu kereta sudah banyak orang bergelayutan. Aku menggenggam tangan Laena dan berkata, “Na, kok begitu?”, sementara Laena hanya tersenyum. Kereta mendekat, Laena berjalan mendekati rel seakan mau naik. “Na, kita naik?”, tanyaku. “This is what I call full body contact”, jawabnya sambil menarik tanganku mendekati pintu masuk kereta api.

Aku sudah di dalam kereta. Aku tidak ingat detil bagaimana aku bisa masuk, aku merasa didorong-dorong dari belakang sehingga mau tak mau aku harus mendorong orang di depanku juga, senggol kanan senggol kiri, injak kaki kiri tendang kaki kanan, untungnya aku tidak lepas dari Laena di depanku. Dan sensasi yang kurasakan selanjutnya, pengap, susah bergerak, sesak napas, sepertinya kandungan oksigen dalam gerbong ini tidak bisa mencukupi paru-paru yang mengisapnya, sampai harus saling berebut. Selama kurang lebih 30 menit aku mempertahankan posisi dari dorongan ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, sambil memeluk tas ransel di dadaku. Dan yang pasti, tetap dekat Laena.

Akhirnya, kurasakan juga full body contact itu hehehehe… Hari ini, pergi dan pulang menggunakan KRL.
Pelajaran #1: Hindari memposisikan diri di dekat pintu masuk atau tengah gerbong tempat orang berjalan, usahakan menepi.


15 Januari 07

Ini adalah hari pertamaku baik KRL sendiri, tanpa Laena. Laena diterima di perusahaan lain yang bertempat di Gatsu. Mulai sekarang, aku single fighter. Kursus kilat “Mahir berdesakan di KRL” ajaran Laena sudah cukup aku kuasai. Berangkat ke kantor cukup lancar (lancar a la KRL lho ya). Pulangnya, aku yang duduk nyaman sementara banyak orang berdiri berdesakan, ketika kereta akan memasuki Cawang, aku berdiri dan berjalan keluar. Sayang sekali, perjalananku menuju pintu banyak halangan, orang-orang itu tidak mau bergeser sedikit untuk memberiku jalan, sementara kereta sudah berhenti, aku masih 1 meter dari pintu dan masih tidak bisa bergerak. Kereta sudah berjalan meninggalkan Cawang, dengan aku di dalamnya, pasrah, menunggu pemberhentian selanjutnya. Kalibata. Dari Kalibata aku naik kereta lagi ke arah Cawang. Ketika kupijakkan kakiku di stasiun Cawang, aku terkekeh sendiri mentertawakan kebodohanku.
Pelajaran #2: Dalam kondisi gerbong berjejal penumpang, persiapkan diri mendekati pintu keluar sejak 1 atau 2 stasiun sebelum stasiun tujuanmu. Aayo kawanku cepat turuun… keretaku tak berhenti lama ;)

13 Pebruari 07
Ironis sekaligus lucu, atau lucu sekaligus ironis. Dulu ketika aku belum pindah kantor, aku paling anti dengan yang namanya naik KRL. Bagaimana tidak, kalau sudah melihat bentuknya yang seperti kubilang kayak jagung pop itu, sudah keder duluan mau naik. Dan sekarang, malah seperti candu berangkat dan pulang kerja. KRL, selain menghemat ongkos, juga menghemat waktu, jadi aku punya lebih banyak waktu untuk tidur, bangun lebih siang maksudnya, dari pada naik bis atau angkot. KRL itu… bebas macet, cepat (kecuali kalau tiba-tiba ternyata KRL-nya mogok ya), dan… seperti yang kubilang sebelumnya, full body contact. Secara, nggak tahu karena terlalu banyak peminat, penduduk yang terlalu banyak, atau armadanya yang kurang, setiap hari terutama hari kerja, apalagi pada jam berangkat dan pulang kerja, yang namanya KRL udah kayak pepes teri bungkus besi berjalan. Yang pasti, naik KRL itu tidak menghemat tenaga. Sama sekali tidak.

Laena selalu mengingatkanku untuk waspada pada penghuni tetap KRL. Copet. Laena yang sudah akrab dengan KRL, bisa mengenali apakah orang ini copet atau bukan. Ironisnya, temanku ini sudah 2 kali kehilangan HP di KRL, tapi dia tidak pernah kapok. Nah, aku, yang baru berkenalan kurang lebih 1 bulan dengan “besi padat” (padat karena penumpang maksudnya) ini, mana bisa tahu kalau ternyata cowok ganteng di depan saya, atau bapak-bapak tua berjenggot di sebelah saya, ternyata adalah copet. Mungkin karena saya terlalu baik sehingga tidak pernah berpikiran buruk tentang orang lain (halah). Turun dari kereta menuju kost, kudapati bagian bawah tas ransel merahku sobek. Bagaimana bisa? Padahal aku memeluknya sepanjang jalan. Untungnya, tidak ada barang lain yang hilang, tapi tetap saja aku harus membeli tas baru.
Pelajaran #3: You can never beat “copet”, kecuali kamu senior macam Naga Bonar :D

27 Pebruari 07
Suara nyaring Ibu-ibu itu menarikku untuk menoleh mencari sumber suara. “Assalaamualaikum… sodakohna pak, sodakohna bu… sawelasana…”, entahlah, aku tidak bisa mendengar jelas bahasa Sunda yang dia gunakan. Apalagi aku juga tidak mengerti bahasa Sunda. Bukan hanya aku, kulihat orang-orang di sekitarku juga menoleh ingin mengetahui Ibu-ibu tersebut. Akhirnya, ketika suara itu mendekat, baru kulihat Ibu-ibu tersebut berjalan sambil menengadahkan tangannya. Badannya terlihat segar dan sehat, justru gemuk kurasa, jauh lebih gemuk dariku yang 160/42 ini. Begitu sulitkan mencari pekerjaan?

Saya ingat suatu Sabtu ketika bos meminta saya lembur, kereta tidak terlalu penuh ketika saya pulang sore dari Kota. Ada Bapak-bapak berjalan ngesot dengan kotak plastik yang digeser-geser mengikuti gerak badannya yang hanya lurus ke depan, berharap ada yang memasukkan beberapa keping atau lembar rupiah ke dalamnya. Sementara itu, hal yang cukup menggangguku, satu kakinya yang terjulur ke depan penuh dengan luka dan borok yang dibiarkan menganga. Bukannya aku tidak punya hati sampai tak ada rasa kasihan, tapi, sesulit apakah mencari kain untuk perban atau sekedar menutup borok itu?

Tiba-tiba sebuah colekan di bahu menyadarkan aku dari lamunan. Seorang anak rupanya. Laki-laki, usianya kira-kira belasan tahun, mengadahkan tangannya padaku, aku menggeleng pelan dan memberi tangan tanda tidak, tapi dia tetap memaksa, aku tetap tidak memberinya uang. Dan yang membuatku terkejut, dia berjongkok, bukan, dia berlutut, memegang kakiku dan memandangku dengan wajah memelas. Daaaaammmnnn!! Langsung kurogoh kantong celanaku dan kuberi dia selembar uang ribuan. Aku risih, bukan kasihan, bahkan aku merasa jijik. Kemana harga dirimu, dik? Pantaskah kau sampai berlutut di bawahku?

Nyesek. Aku mengalihkan pandanganku ke luar. Posisiku pagi itu di sebelah pintu, aku berpegangan tangan pada lonjoran besi di sebelah pintu, mempertahankan posisi. Di antara orang-orang yang bergelayutan di depanku, aku terpaku pada sepasang mata cekung yang tajam, sedang menatap keluar. Garis rahangnya sangat jelas, tangannya berpegang pada pinggir pintu. Kata Ayahku, jika kau memandang yang bukan muhrim, pandangan pertama itu boleh-boleh saja, yang kedua adalah nafsu, maka aku tidak mau melepaskan pandanganku padanya sejak pertama mataku bertemu makhluk indah itu. Tiba-tiba, kurasakan ada tangan yang menyentuh tanganku, spontan aku memindah posisi tanganku. Ternyata itu tangannya, dia sedang berusaha mencari pegangan lain dan tanpa sengaja menyentuh tanganku. Mata itu menatapku sejenak, aku seakan terjebak dalam lautan es, membeku. Jantungku berdebar sampai perutku sakit. Dan dia menatap keluar lagi. Dan aku, berharap mem-pause 20 detik kejadian barusan.
Pelajaran #4: Everything’s sucks, but you (ihiy, jatuh cintakah aku?)

-to be continued…-

*yang nulis dah ngantuk*

H2C

Filed under: me myself & I

kacaw

List yang mau dikerjakan belum satu pun yang dilaksanakan. Paling tidak, kekacauan di atas sudah dibereskan.
Dan sekarang, mempersiapkan hati untuk kemungkinan terburuk dari hasil perasan otak 5 hari yang selalu diakhiri dengan curhat di halte itu.

December16, 2007

abis ujian nanti mau….

Filed under: me myself & I
1. potong rambut (modelnya…. ada deh)
2. coba ubek-ubek tukang buku di belakang stasiun pocin
3. ke ambas… beli ‘ehm’ warna merah, plus dvd bajakan tentunya, lanjut ke chow king pesen nai cha ;)
4. ke situuuu… blanja ituuu yang banyaaaak (dewi, donna… yuuks! ginta, mau ikutan?)
5. ke dufan?
6. rencana yang sms malem2 itu jadi ga temans?

intinya mah…. KURAS TABUNGAAAANNNN!!!
hauhuahehehehiahaihiahuhuihihihihihi…

duh, kelar juga belom… bukannya belajar… dasar pemalas… tar ngulang baru tau rasa!!

seandainya saya jadi Sylar… saya mau bunuh Candice, ambil kekuatannya. trus, nyamar jadi Charlie, trus ngrayu Hiro, trus bunuh plus ambil kekuatan Hiro, trus… langsung menuju ke tanggal 19 Desember 2007 pukul 22.00. Yattaaaaa!!! ;)
kenapa ga berandai-andai jadi hiro langsung aja ya? dudul!!!

December5, 2007

rokok

shortskirt:

gue baru putus sama rio

silverlines:

serius lo?
kenapa?

shortskirt:

he can’t stop smoking

silverlines:

hah?
lo putus cuma gara2 dia ngerokok?
gila lo
eh, setau gue si rio emang dah lama ngerokok dan setau gue juga lo ga pernah minta dia brenti
kok sekarang tiba2 putus gara2 rokok
BUZZ!!!
cong, say something

shortskirt:

bukan tentang rokoknya
lo tau kan kalo sebenernya gue dari dulu ga suka sama cowo ngerokok?
rio juga tau itu
tapi gue ga masalahin kalo dia ngerokok, gue ga nglarang dia buat ngrokok lagian juga dari sebelum pacaran sama gue dia juga udah ngerokok, gue udah ngalah
tapi paling engga jangan ngerokok di depan gue, tapi dia tetep aja ngrokok di depan gue
apa susahnya sih beberapa jam aja brenti ngrokok?
gue ngrasa dia ga ngehargain gue
sama sekali
trus ngapain aku terus sama2 orang yang ga ngehargai gue?

silverlines:

oh jadi itu masalahnya
gue setuju sama elo. gue juga benci sama orang yang ngrokok. asepnya itu lho.
ganggu!!
keselnya lagi kalo mereka itu ga peduli kalo orang2 di sekitar tu pada keganggu

shortskirt:

iya
lebih kesel lagi kalo dah ada smoking area tapi mereka tetep ngrokok sembarangan
udah gitu, kita udah kibas2 tangan tanda keganggu masih aja mereka jedal jedul. Baru tar kalo udah pura2 batuk ato batuk beneran baru mereka pergi
tapi tetep… rokok ga dimatiin
sebenernya, apa sih enaknya ngrokok? lo pernah nyoba ga?

silverlines:

pernah
ga ada rasanya tu

shortskirt:

masa sih? lo kurang dihayati kali ngrokoknya
tapi hebad lo dah ngisep rokok. gue baru tahap ngejilat pantatnya doang. manis.

silverlines:

gue baru tau kalo ngrokok butuh penghayatan. tapi iya, kata temen gue kurang dirasain, jadi cuma sampe mulut doang. makanya trus gue isep kuat2 dong tu rokok dan lo tau gimana rasanya?

shortskirt:

gimana? r u feel fly?

silverlines:

yap. fly to heaven. gue rasa mau mati cong. sakiiiitttt banget niy di dada niy. udah kayak ditusuk. apa guenya yang salah caranya ya?

shortskirt:

terlalu menghayati sih lo

silverlines:

hehehehe
gue juga heran, rasanya kayak gitu kok ya banyak yang suka. padahal kan dah ditulisi bisa menyebabkan impotensi. di iklan juga ada tulisan gitu kan? pas terakhirnya doang dan cuma beberapa detik, sampe ga kebaca semua xixixixi…

shortskirt:

kali aja mereka liyat bokap mereka, trus gini, bokap gue ngrokok tapi buktinya bisa ada gue di dunia ini ;)

silverlines:

hahahaha….
lagian mereka ga perlu bikin iklan juga rokok tetep laris jaya
dan lo sadar ga? iklan rokok tu gue rasa bukan bermaksud mempengaruhi orang untuk meninggalkan produk rokok lain dan beralih ke produk mereka, tapi mengajak yang ga ngrokok untuk ngrokok

shortskirt:

hmmm…

silverlines:

eh btw rokok itu sebenernya haram ga sih?

shortskirt:

lah, bukannya makruh

silverlines:

kata siapa?

shortskirt:

lha itu kyai2 itu

silverlines:

mereka tau dari mana?

shortskirt:

meneketehe
dari hadits2 gitu kali

silverlines:

iya gitu?
emang jaman nabi dulu dah ada rokok?

shortskirt:

meneketehe
udahlah itu urusan masing2
hmmm
coba gue jadi presiden ya… itu pabrik rokok bakal gue tutup. keren ga tu? jadi dah ga ada lagi peredaran rokok di Indonesia. trus orang yang ngrokok juga ga ada wong yang dirokok juga ga ada

silverlines:

iya ga ada orang ngrokok
tapi Negara lo penganggurannya bejibun, trus pada jadi maling, rampok, pembunuh, pengemis, trus keluarganya diajakin ngemis juga. mau lo?
lo kira berapa banyak warga lo yang kerja di pabrik rokok? Ssegambreng tau! kalo lo tutup mereka mau kerja di mana?

shortskirt:

oiya ya
yah, itulah kenapa gue ga jadi presiden.
xixixixixi
trus gimana dong?
gue sumpek niy liyat anak2 dah pada ngrokok. mau jadi apa bangsa ini?
oh, gue masih bisa jadi presiden, gue nanya ke mentri gue aja. kan mentri gue banyak.
lo, mentri, apa solusi rokok ini?

silverlines:

hmmm…
gue, mentri yang taun depan bakal jadi presiden, bakal menaikkkan cukai rokok. Jadi harganya naik. dengan demikian, paling engga mengurangi perokok. orang miskin bakal berpikir 1000 kali untuk beli rokok, anak kecil uang sakunya ga cukup untuk beli rokok.
gimana tu? Itu baru ide brilian

shortskirt:

ga percuma emang gue ngangkat elo jadi mentri.
sekarang gue nanya ke elo. lo kan suka banget tu sama chunky yang kecil2 itu. terakhir gue nemenin lo ke carrefour, lo bilang “kok naik siy harganya” tapi tetep aja lo ngambil 5 biji masukin keranjang. kalo tu chunky naek lagi, lo bakal ninggalin tu makanan?


silverlines:

hmmm… kan itu coklat, bukan rokok


shortskirt:

sama aja cong, lo suka coklat mereka suka rokok. dikira gampang apa?


silverlines:

trus gimana dong?


shortskirt:

auuuuu
eh cong

silverlines:

apa nyet?


shortskirt:

ada yang ga gue ngerti deh

silverlines:

apa?


shortskirt:

lo pernah merhatiin ga? orang2 itu ya, yang ngrokok, terutama cewe, sebelum ngrokok, itu pak rokok ditepek2 dulu ke tangan. ngapain coba kayak gitu?

silverlines:

ditepek2 gimana?
pak rokok apaan? bu rokok ikut juga ga?

shortskirt:

pak rokok. bacanya yang mati k bukan ‘. itu bungkusnya rokok apa siy namanya? dudul banget siy gue. ya pokoknya itu lah

silverlines:

oh itu. kotak rokok. ditepek digimanain siy?

shortskirt:

aduh ini lebih parah lagi kotak rokok. lo kalo ga ngerti ga usah sok tau deh
ditepek2
jadi gini, pak rokok dipegang dengan tangan kanan dalam posisi vertical, jari telunjuk ada di atas sedangkan jari jempol dan ketiga jari yang lain menjepit pak rokok. trus tu pak rokok dijedug2in ke tangan kiri, dibolak balik atas bawah


silverlines:

anjrit.
tar deh, gue bayangin dulu
tadi tepek2 sekarang jedug2, yang konsisten dong
tapi kebayang
tapi gue ga ngerti jawabannya :D

shortskirt:

ah, percuma gue ngetik banyak2
eh, tapi gue masih bisa jadi presideeeeennnn. gue tauuuuuu
gue perintahin ilmuwan gue buat bikin rokok tanpa asap ;;)
yang bikin ganggu asapnya itu kan? Jadi biar dia sendiri yang rasain nikotinnya, ga ganggu orang lain yang ga ngrokok

silverlines:

bodoh
rokok tanpa asap bukan rokok namanya. ya namanya rokok, tapi ga dirokok. duh bingung sendiri gue
merokok bahasa inggrisnya apa? smoking kan? mengasap. nah kalo lo bikin merokok tanpa asap, tar bahasa inggrisnya apa?

shortskirt:

smoking without smoke
hahahaha

silverlines:

kepanjangan dodol!!

shortskirt:

siyaaaaallllll

silverlines:

kenapa?

shortskirt:

kok jadi ngomongin rokok siy? nasib rio gimana?

silverlines:

meneketehe
lo yang putusin dia

shortskirt:

gue pengen balikan lagi ah

silverlines:

buset. cinta emang ngalahin rokok

shortskirt:

bukan itu

silverlines:

trus?

shortskirt:

gue pengen nanya siapa penemu rokok

meaningless entry. again :D

bon, impas ya utangnya. sekalian pamer tampilan Y!M 9 niy xixixixixi…