10 Januari 07
Jam 7 pagi.
Aku sudah rapi dengan rok selutut dan kemeja, rambut bob sebahuku cukup disisir ke belakang. Praktis. Tinggal finishing dengan make-up wajibku, maskara, kata Sila, sahabatku, bulu mata lentik yang melindungi mata coklatku perlu ditonjolkan. Aku langsung mengamini, mata adalah bagian wajahku yang paling kusuka. Cukup 2 kali sapuan di kanan dan 2 kali di kiri, diakhiri dengan jepitan bulu mata, done. Tinggal pakai sepatu dan tas, siap full body contact di KRL, ups, maksudku berangkat kerja. Full body contact adalah istilah yang sering dipakai oleh Laena, teman SMA dulu yang sekarang bekerja di daerah Mangga Dua, untuk menyebut kondisi di dalam KRL. Aku belum pernah mengalaminya, hanya mendengar cerita dari Laena, dan hari ini aku akan mengalaminya sendiri. Yup, hari ini adalah hari pertama aku naek KRL. Huff.. ada rasa deg-deg juga sih. Aku janji bertemu Laena untuk berangkat bareng dari stasiun Cawang. Laena yang tinggal di rumah saudaranya di Cikoko itu sudah biasa pergi-pulang kerja berdempet-dempet di dalam KRL.
Oh, iya, perkenalkan, namaku Manik. Aku asli Banjarmasin, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, yang akhirnya bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang export-import tekstil, kantornya ada di daerah Pancoran. Sayangnya, sejak dua hari yang lalu, sejak ada kantor baru di Kota, aku adalah salah satu dari sekitar 80 karyawan yang dipindahkan ke kantor baru tersebut. Aku sudah telanjur betah dan malas mencari tempat kost baru, akhirnya walaupun jauh dari tempat kerja, aku tidak pindah dari tempat kostku yang dulu.
Pancoran-Kota cukup jauh, kalau naik bis, duh, nggak tahan sama macetnya itu lho. Seperti kemarin, aku naik bis dari Pancoran ke Kota, duh udah stress duluan di jalanan sebelum stress di kantor. Akhirnya, atas rekomendasi Laena, aku putuskan menggunakan jasa KRL untuk mengantarkan aku ke kantor maupun kembali lagi ke kost. Cukup naik metro mini atau ojek ke Stasiun Cawang, kemudian naik KRL sampai Kota.
Sampai di Cawang, Laena sudah menunggu. Hal pertama yang membuatku terkejut adalah harga tiketnya yang hanya 1500 rupiah. Kata Laena, masih banyak kejutan lainnya, yang justru membuatku tidak tenang. Dan benar saja, kereta pertama yang datang membuatku shock. Di atas gerbong sudah berjajar tak beraturan para pria, sedangkan gerbong penumpangnya sendiri mengingatkanku pada jagung pop buatan Ibuku ketika masak di dalam panci tertutup, seakan berdesakan ingin keluar. Begitulah, di pintu kereta sudah banyak orang bergelayutan. Aku menggenggam tangan Laena dan berkata, “Na, kok begitu?”, sementara Laena hanya tersenyum. Kereta mendekat, Laena berjalan mendekati rel seakan mau naik. “Na, kita naik?”, tanyaku. “This is what I call full body contact”, jawabnya sambil menarik tanganku mendekati pintu masuk kereta api.
Aku sudah di dalam kereta. Aku tidak ingat detil bagaimana aku bisa masuk, aku merasa didorong-dorong dari belakang sehingga mau tak mau aku harus mendorong orang di depanku juga, senggol kanan senggol kiri, injak kaki kiri tendang kaki kanan, untungnya aku tidak lepas dari Laena di depanku. Dan sensasi yang kurasakan selanjutnya, pengap, susah bergerak, sesak napas, sepertinya kandungan oksigen dalam gerbong ini tidak bisa mencukupi paru-paru yang mengisapnya, sampai harus saling berebut. Selama kurang lebih 30 menit aku mempertahankan posisi dari dorongan ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, sambil memeluk tas ransel di dadaku. Dan yang pasti, tetap dekat Laena.
Akhirnya, kurasakan juga full body contact itu hehehehe… Hari ini, pergi dan pulang menggunakan KRL.
Pelajaran #1: Hindari memposisikan diri di dekat pintu masuk atau tengah gerbong tempat orang berjalan, usahakan menepi.
15 Januari 07
Ini adalah hari pertamaku baik KRL sendiri, tanpa Laena. Laena diterima di perusahaan lain yang bertempat di Gatsu. Mulai sekarang, aku single fighter. Kursus kilat “Mahir berdesakan di KRL” ajaran Laena sudah cukup aku kuasai. Berangkat ke kantor cukup lancar (lancar a la KRL lho ya). Pulangnya, aku yang duduk nyaman sementara banyak orang berdiri berdesakan, ketika kereta akan memasuki Cawang, aku berdiri dan berjalan keluar. Sayang sekali, perjalananku menuju pintu banyak halangan, orang-orang itu tidak mau bergeser sedikit untuk memberiku jalan, sementara kereta sudah berhenti, aku masih 1 meter dari pintu dan masih tidak bisa bergerak. Kereta sudah berjalan meninggalkan Cawang, dengan aku di dalamnya, pasrah, menunggu pemberhentian selanjutnya. Kalibata. Dari Kalibata aku naik kereta lagi ke arah Cawang. Ketika kupijakkan kakiku di stasiun Cawang, aku terkekeh sendiri mentertawakan kebodohanku.
Pelajaran #2: Dalam kondisi gerbong berjejal penumpang, persiapkan diri mendekati pintu keluar sejak 1 atau 2 stasiun sebelum stasiun tujuanmu. Aayo kawanku cepat turuun… keretaku tak berhenti lama
13 Pebruari 07
Ironis sekaligus lucu, atau lucu sekaligus ironis. Dulu ketika aku belum pindah kantor, aku paling anti dengan yang namanya naik KRL. Bagaimana tidak, kalau sudah melihat bentuknya yang seperti kubilang kayak jagung pop itu, sudah keder duluan mau naik. Dan sekarang, malah seperti candu berangkat dan pulang kerja. KRL, selain menghemat ongkos, juga menghemat waktu, jadi aku punya lebih banyak waktu untuk tidur, bangun lebih siang maksudnya, dari pada naik bis atau angkot. KRL itu… bebas macet, cepat (kecuali kalau tiba-tiba ternyata KRL-nya mogok ya), dan… seperti yang kubilang sebelumnya, full body contact. Secara, nggak tahu karena terlalu banyak peminat, penduduk yang terlalu banyak, atau armadanya yang kurang, setiap hari terutama hari kerja, apalagi pada jam berangkat dan pulang kerja, yang namanya KRL udah kayak pepes teri bungkus besi berjalan. Yang pasti, naik KRL itu tidak menghemat tenaga. Sama sekali tidak.
Laena selalu mengingatkanku untuk waspada pada penghuni tetap KRL. Copet. Laena yang sudah akrab dengan KRL, bisa mengenali apakah orang ini copet atau bukan. Ironisnya, temanku ini sudah 2 kali kehilangan HP di KRL, tapi dia tidak pernah kapok. Nah, aku, yang baru berkenalan kurang lebih 1 bulan dengan “besi padat” (padat karena penumpang maksudnya) ini, mana bisa tahu kalau ternyata cowok ganteng di depan saya, atau bapak-bapak tua berjenggot di sebelah saya, ternyata adalah copet. Mungkin karena saya terlalu baik sehingga tidak pernah berpikiran buruk tentang orang lain (halah). Turun dari kereta menuju kost, kudapati bagian bawah tas ransel merahku sobek. Bagaimana bisa? Padahal aku memeluknya sepanjang jalan. Untungnya, tidak ada barang lain yang hilang, tapi tetap saja aku harus membeli tas baru.
Pelajaran #3: You can never beat “copet”, kecuali kamu senior macam Naga Bonar
27 Pebruari 07
Suara nyaring Ibu-ibu itu menarikku untuk menoleh mencari sumber suara. “Assalaamualaikum… sodakohna pak, sodakohna bu… sawelasana…”, entahlah, aku tidak bisa mendengar jelas bahasa Sunda yang dia gunakan. Apalagi aku juga tidak mengerti bahasa Sunda. Bukan hanya aku, kulihat orang-orang di sekitarku juga menoleh ingin mengetahui Ibu-ibu tersebut. Akhirnya, ketika suara itu mendekat, baru kulihat Ibu-ibu tersebut berjalan sambil menengadahkan tangannya. Badannya terlihat segar dan sehat, justru gemuk kurasa, jauh lebih gemuk dariku yang 160/42 ini. Begitu sulitkan mencari pekerjaan?
Saya ingat suatu Sabtu ketika bos meminta saya lembur, kereta tidak terlalu penuh ketika saya pulang sore dari Kota. Ada Bapak-bapak berjalan ngesot dengan kotak plastik yang digeser-geser mengikuti gerak badannya yang hanya lurus ke depan, berharap ada yang memasukkan beberapa keping atau lembar rupiah ke dalamnya. Sementara itu, hal yang cukup menggangguku, satu kakinya yang terjulur ke depan penuh dengan luka dan borok yang dibiarkan menganga. Bukannya aku tidak punya hati sampai tak ada rasa kasihan, tapi, sesulit apakah mencari kain untuk perban atau sekedar menutup borok itu?
Tiba-tiba sebuah colekan di bahu menyadarkan aku dari lamunan. Seorang anak rupanya. Laki-laki, usianya kira-kira belasan tahun, mengadahkan tangannya padaku, aku menggeleng pelan dan memberi tangan tanda tidak, tapi dia tetap memaksa, aku tetap tidak memberinya uang. Dan yang membuatku terkejut, dia berjongkok, bukan, dia berlutut, memegang kakiku dan memandangku dengan wajah memelas. Daaaaammmnnn!! Langsung kurogoh kantong celanaku dan kuberi dia selembar uang ribuan. Aku risih, bukan kasihan, bahkan aku merasa jijik. Kemana harga dirimu, dik? Pantaskah kau sampai berlutut di bawahku?
Nyesek. Aku mengalihkan pandanganku ke luar. Posisiku pagi itu di sebelah pintu, aku berpegangan tangan pada lonjoran besi di sebelah pintu, mempertahankan posisi. Di antara orang-orang yang bergelayutan di depanku, aku terpaku pada sepasang mata cekung yang tajam, sedang menatap keluar. Garis rahangnya sangat jelas, tangannya berpegang pada pinggir pintu. Kata Ayahku, jika kau memandang yang bukan muhrim, pandangan pertama itu boleh-boleh saja, yang kedua adalah nafsu, maka aku tidak mau melepaskan pandanganku padanya sejak pertama mataku bertemu makhluk indah itu. Tiba-tiba, kurasakan ada tangan yang menyentuh tanganku, spontan aku memindah posisi tanganku. Ternyata itu tangannya, dia sedang berusaha mencari pegangan lain dan tanpa sengaja menyentuh tanganku. Mata itu menatapku sejenak, aku seakan terjebak dalam lautan es, membeku. Jantungku berdebar sampai perutku sakit. Dan dia menatap keluar lagi. Dan aku, berharap mem-pause 20 detik kejadian barusan.
Pelajaran #4: Everything’s sucks, but you (ihiy, jatuh cintakah aku?)