Kau tahu apa yang kusuka dari KRL? Banyak orang dagang di sana hehehe… Yap, di KRL kalian bisa menemukan barang-barang kebutuhan. Mulai dari makanan, minuman, mainan, sampai printilan macam peniti, asesoris rambut, gunting kuku, sampai pencabut bulu keti. Bahkan ada yang jualan pisau, racun tikus, kamus Bahasa Inggris, sampai atlas (kali aja ada orang Bulgaria yang nyasar di Kalibata, naek KRL trus ketemu tukang jualan atlas). Dan semuanya dijual dengan harga yang murah. Aku sih suka membeli buah-buahan, jeruk medan yang biasanya 1 biji seribu rupiah di KRL bisa cuma 500; salak 5 biji seribuan; mangga arum manis yang lumayan gede 5000 dapet 3, kalo beruntung bisa dapet 4 sampe 5 biji.
Dan sejak pertemuanku dengan pria itu, aku lebih semangat naik KRL. Aku sudah terbiasa dengan desak-desakan, berebut tempat, nyelip-nyelip di antara orang-orang, bisa dibilang aku sudah expert dalam hal per-KRL-an. Sejak saat itu pula, aku berusaha sebisa mungkin mendapatan tempat di pojokan dekat pintu, tempat ketika tatapan mata itu menoreh dalam di hatiku. Ternyata tempat ini sangat strategis, selain aman dari senggolan dengan orang lain, tempat ini juga memberi angin segar dan memudahkan untuk keluar. Tapi, cukup sulit mendapatkan tempat strategis ini. Sebenarnya, aku mengharapkan bisa bertemu lagi dengan pria bermata elang itu. Aku percaya, kalau kami berjodoh, kami pasti dipertemukan lagi.
3 Mei 07
Enaknya jadi bos, bisa nyuruh ini itu seenak udelnya, dengan kalimat favorit…”Saya nggak mau tau, pokoknya….” yang membuat lawan bicaranya ber-iyaiya tapi mengumpat di belakang. Seperti yang aku alami hari ini, tepat pukul 16.23 waktu jam di komputer saya, ketika aku sedang bertelepon ria dengan seorang teman merencanakan untuk kabur (bahasa halusnya pulang lebih awal) ke Ambasador hanya untuk duduk di salah satu sudut Chow King untuk menyeruput segarnya Nai Cha. Ponsel masih terkepit di antara telinga dan bahu sementara kedua tangan sibuk berbenah memasukkan beberapa barang ke dalam tas, tiba-tiba led merah pesawat telepon di mejaku berkedip-kedip (aku memang sengaja meng-off-kan tone nya, biar ga berisik), dengan enggan kuangkat handset dan kukeluarkan kata “halo” yang dijawab oleh suara yang sangat kukenal, bosku. Dari awal mendengar suaranya aku sudah merasa ada hal yang tidak enak, dan jangan sekali-kali meremehkan insting perempuan. Bos meminta saya mengerjakan suatu laporan keuangan yang biasanya dikerjakan seharian penuh, kali ini Bos tercinta meminta sudah ada di mejanya paling lambat jam 8, berarti aku harus tenggang waktuku hanya sekitar 3 jam. Edan.
Ga tau gimana caranya, pokoknya kisah sedih di hari Jumat ini berakhir dengan indah. Tumpukan kertas itu ada di meja Bos jam 7:57 PM, si Bos menerimanya dengan dingin, bahkan tak mengucapkan terima kasih. Aaarrrgggghhhhh!! Sudahlah, si Bos orang Indonesia kok, jadi aku maklum.
Aku naik ojek ke Stasiun Kota agar dapat mengejar kereta terakhir, dan benar saja, bapak penjual karcis berkata padaku agar cepat-cepat karena kereta terakhir sebentar lagi berangkat. Sialnya aku lupa mengganti stiletto 7 cm ku dengan sandal, jadi aku harus berlari dengan tumit menapak pada benda runcing setinggi 7 cm. Semoga saja kakiku tidak cedera.
Di depan pintu masuk aku melihat KRL terakhir itu sudah bergerak perlahan, aku mempercepat lariku, kakiku terasa semakin ngilu. Jarak 5 meter lagi, tapi kereta semakin cepat sementara kakiku rasanya sudah tidak bisa berlari lagi, sakit sekali, beberapa orang di dalam kereta menatapku, ada yang tertawa geli, ada yang berwajah harap harap cemas, ada juga yang berbaik hati mengulurkan tangannya dan menyemangatiku untuk berlari lebih cepat. Tapi jalannya kereta lebih cepat dari lariku,kurasa aku akan ketinggalan kereta. Aku memilih menyerah dan memperlambat lariku, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menggenggam tanganku, erat, sangat erat. Aku serasa mengalami déjà vu, rasa terkesiap, jantung yang tiba-tiba berdetak kencang dan rasa ngilu yang mendesir di ulu hati. Tangan itu menarikku mengikuti larinya yang cepat, mau tak mau aku harus mempercepat langkahku. Ajaib. Rasa sakit di kakiku menghilang, serasa mati rasa. Tapi aku semakin mendekat ke pintu kereta yang tak pernah tertutup itu. Di depan pintu yang bergerak, lengan itu mengangkat tubuhku kemudian kami berdua meloncat ke dalam kereta, bukan, sebenarnya bukan kami yang meloncat, hanya dia, tapi dia membawaku serta. Di dalam kereta orang-orang bertepuk tangan dan bersuit-suit seolah baru menyaksikan adegan Peter Parker menyelamatkan Mary Jane. Aku tak punya waktu untuk tersipu, baru sekarang aku rasakan sakit menajalar bukan hanya di kakiku, tapi semua badanku. Aku berbalik sambil meringis menahan sakit untuk mengucapkan terima kasih pada pemilik tangan yang menggandengku berlari dan lengan yang mengangkatku masuk ke dalam KRL.
Oh, Tuhan, inikah jawabanMu atas doaku? Tapi apakah tidak terlalu cepat? Mata elang yang dulu pernah kukagumi dari kejauhan itu sekarang ada di hadapanku, bukan hanya itu bahkan mata itu menatap mataku, serasa dia mengetahui kombinasi angka kunci brankas hatiku dan sekarang sedang memutar perlahan-lahan menuju angka-angka tersebut dan akhirnya klik, voila! Jika aku pernah bilang bahwa Paolo Maldini adalah pria pemilik mata terindah di dunia, teoriku runtuh ketika melihat mata itu perlahan menyipit, dia tersenyum. Tidak, dia tidak hanya tersenyum, dia tersenyum… padaku. Dan aku langsung meleleh demi hanya mendengar pertanyaannya, “sakit, ya?”
Namanya Ridwan, seorang konsultan IT yang berkantor di daerah Kota. Dia menuju ke Lenteng Agung, di situlah rumah orang tuanya. Aku tak henti-hentinya mencubit tubuhku memastikan bahwa aku tidak bermimpi ketika dia menanyakan nomor HPku.
28 Oktober 07
Aku kini tak sendiri lagi setiap “berjuang” di KRL, aku sudah punya partner KRL yang selalu menemaniku. Ridwan Anggoro, pria yang mempunyai mata lebih indah dari mata Paolo Maldini, pria yang menyatakan ingin menitipkan hatinya padaku untuk selamanya tepat 97 hari 9 jam 27 menit dan 18 detik sejak perkenalan pertama kami.
Setiap pagi ketika berangkat kerja dia turun dulu di Cawang untuk kemudian berangkat bersama menuju Kota. Kini aku merasa aman karena ada dia bersamaku, dialah penjagaku, penjaga raga, hati dan jiwaku. Kami melalui hal-hal seru bersama, terutama di KRL. Mulai dari lari-larian mengejar KRL, bete menunggu karena KRL mogok, deg-degan takut terlambat masuk kerja karena jadwal kereta yang tiba-tiba molor berjam-jam, mengamati lalu lintas pedagang di KRL yang berlomba dengan pengemis. Suatu hari aku pernah minta naik KRL di atap gerbong, dia menjawab dengan lototan mata. Ah, mata itu terlalu indah untuk tampak galak walaupun dia melotot.
4 Nopember 07
Hari ini kami berencana pergi ke Kebun Raya Bogor. Sudah hampir 6 tahun aku tinggal di Jakarta (4 tahun di Depok ketika kuliah), tetapi belum pernah sekalipun aku berkeinginan mengunjungi obyek wisata di kota hujan itu. Aku naik KRL dari Cawang menuju Bogor sekitar pukul 9 pagi, Ridwan akan berangkat dari Lenteng Agung. Aku sudah bilang padanya kalau aku duduk di gerbong paling depan.
Kereta terasa berjalan lebih lambat dari biasanya, untungnya hari ini tidak terlalu penuh jadi aku dapat tempat duduk. Di depanku duduk seorang Ibu sedang bercanda dengan bayi berusia sekitar 1 tahun di pangkuannya, di sebelahnya seorang gadis sedang serius membaca buku tebal , sepertinya dia mahasiswi, di sebelah kananku seorang bapak sedang tidur nyenyak bersandar pada dinding gerbong, nyenyak sekali bahkan teriakan nyaring penjual koran tak membangunkannya. Aku diam merekam semua kejadian di depanku ke temporary files memori otakku.
Seorang Ibu tua berjalan dengan pantatnya, mungkin ada yang menyebut ngesot. Tapi aku tidak menggunakan kata “ngesot” karena Ibu ini berjalan dengan pantat sementara kakinya menjulur ke depan, istilah ngesot yang ada di benak saya adalah cara jalan dengan pantat miring dan kaki di belakang. Ini yang saya tangkap dari beberapa film horor Indonesia yang menampilkan suster ngesot. Pantat Ibu ini dilapisi kain tebal, sepertinya untuk melindungi kulitnya saat bergesekan dengan jalanan, yang ditempelkan ke baju belakang dan celananya dengan peniti di sana sini. Kakinya ditutup dengan celana panjang dan kaos kaki yang pada bagian pergelangan kakinya diikat karet gelang, hingga tak seinchipun kulit kakinya tampak. Dia tidak berucap sepatah katapun, tapi teko plastik bekas yang dia seret seiring perpindahan tubuhnya mengisyaratkan dia sedang meminta belas kasihan pada siapapun yang dia lewati. Aku yang sudah berkomitmen tidak akan memberi uang pada pengemis, hanya memandanginya menjauh. Sejenak sebelum aku berniat mengalihkan pandanganku, tiba-tiba seorang Bapak dengan tas di tangannya berjalan dari arah belakang dan mengambil teko plastik Ibu tadi. Aku terkejut. Kenapa Ibu tadi tidak marah atau berusaha mengambil haknya? Jika perkiraanku tidak salah, usia Bapak tadi sekitar 5 atau 10 tahun lebih muda dari si Ibu. Si Bapak kemudian berjongkok di depan pintu, dan tanpa percakapan apapun, si Ibu memeluk si Bapak dari belakang. Pada saat kereta berhenti di stasiun Pasar Minggu, si Bapak menggendong si Ibu untuk turun. Oh, rupanya mereka sudah saling mengenal. Kereta berjalan lagi perlahan, aku masih mengamati pasangan tadi. Si Ibu dengan pasrah diturunkan, si Bapak meletakkan tasnya kemudian menghitung kepingan dan mungkin lembaran uang yang ada di teko plastik bekas tadi. Kereta semakin cepat meninggalkan Pasar Minggu, perlahan pasangan tadi menghilang dari pandanganku. Berbagai pikiran berputar di kepalaku. Ibu tadi, seorang wanita, dengan usia yang dalam ilmu ekonomi sudah termasuk usia tidak produktif, dengan kondisi tubuh seperti itu, mungkinkah Bapak tadi memintanya atau menyuruhnya mencari uang? Kalau iya, kenapa? Kenapa bukan dia?
Kereta sudah sampai di Lenteng Agung, aku celingukan mencari Aa. Hehehe, Ridwan yang asli Bandung tapi besar di Jakarta ini memintaku memanggilnya Aa, sedang dia memanggilku Bebe. Aku suka panggilan baru kami. Ternyata aku celingukan ke arah yang salah, dia datang dari arah belakangku. Perjalanan sepanjang apapun takkan terasa membosankan saat ada orang yang kaucintai di sampingmu. Itulah yang aku rasakan saat itu.
Kereta dari Bogor menuju Jakarta masih sepi, masih sekitar jam 2 siang, masih banyak bangku kosong. Kami duduk di salah satu sudutnya. Perlahan orang berdatangan mengisi satu persatu bangku dan mulai penuh saat kereta mulai berjalan. Kami ngobrol sambil memandang satu sama lain, sampai datang seorang Ibu hamil yang berdiri di depanku. Spontan Aa berdiri dan memberikan tempat duduknya untuk calon Ibu atau mungkin Ibu tadi. Aa berniat mengantarkanku sampai kos. Ah, aku kan bukan cewek manja, aku bisa pulang sendiri, lagi pula kasihan dia pasti capek, mana besok sudah harus mulai kerja lagi, jadi kusuruh dia turun di Lenteng Agung. Toh aku juga sudah cukup akrab dengan calon Ibu (iya, ini kehamilan pertamanya) bernama Retno yang nantinya turun di Manggarai ini.
Setelah Aa turun, digantikan 3 anak kecil yang masuk dari pintu yang sama tempat Aa keluar. Seorang anak berusia sekitar 15 tahun (sebut saja A), dan 2 anak berusia sekitar 8 tahun (sebut saja B dan C, maaf ya). Si A membawa beberapa batang lidi yang jika disatukan belum bisa disebut sapu dan mulai mengulik-ulik sampah di kereta untuk dikumpulkan sambil tangannya sesekali menengadah dengan muka dan penampilan tubuh yang sangaaat memelas. Sementara si B tanpa ba bi bu langsung berkeliling sambil menengadahkan tangan, sedangkan si C hanya lari-larian sambil tertawa-tawa menuju gerbong lain. Ah, seperti itulah seharusnya anak kecil. Jarak 3 meter dari tempat startnya, si A berhenti, di tengah jalan. Aku tahu dia belum mendapatkan sepeserpun dalam rentang 3 meter itu. Dia diam, menatap keluar, tak peduli pada kertas dan plastik bekas yang dia kumpulkan tadi satu persatu berserakan lagi oleh ulang angin. Cukup lama sampai aku bertanya-tanya apa yang dia lakukan atau apa yang dia pikirkan saat itu. Kemudian dia berjalan ke pintu, ketika ada kereta dari arah lain yang lewat, dia berteriak-teriak dengan kata-kata yang tak jelas kudengar. Sepertinya dia berteriak pada temannya yang di kereta lain tadi, padahal tadi dia seperti anak yang tidak makan 3 hari 2 malam.
Aku menarik nafas panjang, kuhirup semampuku semua oksigen di gerbong ini yang sudah tak murni lagi. Biarlah bulu hidung dan paru-paruku yang menyaringnya, toh itu sudah tugas mereka. Belum lepas semua gas karbon dari paru-paruku, aku tercekat. Seorang anak berusia kira-kira 8 tahun berjalan dengan pantatnya (aduh, tolong berikan aku istilah untuk cara jalan ini, tapi jangan ngesot), badan dan mukanya kotor, matanya memberi sorot penderitaan, dia menengadahkan tangan sepanjang jalan. Aku tidak mungkin salah lihat, aku tidak mungkin salah ingat. Aku yakin aku pernah melihatnya sebelumnya, 10 menit yang lalu dia berlari-lari seakan ada layangan putus yang harus dia tangkap, 10 menit yang lalu aku melihatnya tertawa memamerkan giginya yang tak kumplit. Dia adalah si C. Sepertinya dia mengalami lumpuh instan.
17 Juni 2009
Sudah bertahun-tahun aku jadi penumpang setia KRL, tapi keadaan tidak banyak berubah. Kondisi yang kotor, pengemis di mana-mana, namun tetap jadi favorit jutaan umat. Aku dan Aa naik KRL jurusan Jakarta dari stasiun Depok Baru, di dalam tidak terlalu penuh tapi semua tempat duduk sudah terduduki. Kamipun berdiri di satu sudut yang agak longgar, Aa memeluk memberi perlindungan untukku. Untungnya, tak berapa lama seorang anak lelaki, sepertinya mahasiswa, memanggilku dan memberikan tempat duduknya untukku. Aku duduk sambil tersenyum mengucapkan terima kasih kemudian menatap Aa, lihat, A, Tuhan tahu, tapi menunggu. Tuhan membalas apa yang kau lakukan pada mba Retno sekitar 2 tahun yang lalu, bukan secara langsung padamu, tapi istrimu. Usia kandunganku yang sudah menginjak 6 bulan memang tidak bisa menyembunyikan kehamilanku.
Aku duduk sementara Aa berdiri di depanku. Di tempat duduk seberangku, di pinggir pintu duduk seorang Ibu muda bersama putrinya yang kira-kira berusia 10 tahun. Gadis kecil itu tidak bisa diam, lagu Vina Panduwinata Kumpul Bocah terlintas di benakku. Samar aku mendengar percakapan mereka.
“Ma, kok di sini banyak yang minta-minta? Beda sama kereta yang kita naiki kemarin.”
“Beda, sayang. Ini kan kereta ekonomi, nah kereta yang kita naiki waktu ke rumah kakek itu kereta eksekutif.”
“Memang kalau kereta ekonomi banyak yang minta-minta ya?”
“Iya, sayang.”
“Kenapa? Bukannya yang naik kereta ekonomi itu orang miskin? Kenapa mereka minta ke orang miskin? Bukan orang kaya yang naik kereta eksekutif?”
Si Ibu terlihat diam bingung menjawab, tapi akhirnya dia menjawab beberapa kalimat, sayangnya aku tidak bisa mendengarnya karena mendadak ada kereta lain dari arah berlawanan yang suaranya seakan minta perhatian semua telinga. Aku tersenyum, iya juga ya, sekarang kenapa orang rela berdesak-desakan di kereta ekonomi merasakan bau yang campur aduk, kegerahan atau basah kedinginan karena atap gerbong yang bocor saat hujan, bahkan sampai naik di atap gerbong. Kenapa? Karena murah, bahkan kalau ada yang nakal bisa saja mereka naik tanpa karcis. Lha kok pengemis-pengemis ini minta ke orang yang “ngirit”?. Aa pun nyeletuk, “Coba kalau ketauan orang Indovision, bisa dijadiin bintang iklan tuh anak. Waaah, pinter beneer.” Aku tertawa kemudian tersenyum mengelus perut buncitku sambil menatap pria bermata paling indah sedunia di hadapanku. Ridwan Anggoro, yang dulu hanyalah partner KRLku, sejak setahun yang lalu jadi partner hidupku. Dan kami sedang membangun istana sederhana kami di Depok.
2013
Suara ting tong nyaring mengikuti palang pintu perlintasan kereta api yang perlahan bergerak turun, tepat ketika kami akan lewat. Setelah kelahiran Kenzo, kami memutuskan tidak lagi menggunakan jasa kereta api untuk pergi kemana-mana, kasihan putra kecil kami. Alhamdulillah kami bisa mencicil sebuah mobil, Ken memang membawa berkah dan rejeki bagi kami. Lucunya, Ken seperti sangat terobsesi pada kereta, dia selalu girang saat melihat deretan gerbong berjalan itu. Saat dia mengungkapkan keinginannya menjadi masinis, aku dan Aa hanya tersenyum. No wonder, wong janinnya tumbuh di kereta, kereta ekonomi hehehe. Kami hanya berdoa semoga permata hati kami ini selalu diberi yang terbaik dan diberkahi Allah.
Seperti saat ini, dia sangat gembira mengetahui mobil kami terpaksa mengalah untuk mendahulukan jalannya kereta api. Dia sangat girang hingga terlonjak ke jendela sambil berteriak-teriak, “Bunda, I want to see the train!”. Aku dan Aa memang sengaja mengajarkan bahasa Inggris pada Ken sejak dia kecil, tanpa melupakan bahasa negeri sendiri dan bahasa Ibu tentunya. Kemudian ketika barisan gerbong itu lewat, justru dia diam, seakan membisu. Mulutnya setengah terbuka, matanya tak mau berkedip, sorot mata itu cukup mewakili apa yang dia rasakan saat itu. Suatu hari dia menanyakan suatu hal yang sangat sulit kujawab,”Bunda, what is KRL stand for?”
ehehehe akhirnya diupdate juga. Btw, ada yang tahu kepanjangan KRL?
ps. Kisah ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan cerita, tokoh atau tempat kejadian, itu hanya perasaan anda saja :p