justrhe[dot]blogsome[dot]com

February24, 2008

Ayat-Ayat Cinta (the movie)

Kemarin, setelah membaca comment bapak ini di sini, spontan saya mem-BUZZ!! si bantat yang kebetulan online kemudian meminta membukakan pintu share studionya, dan kalian pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya. Yup, file tersebut sudah terkloning sempurna di komputer di depan saya. Domo arigato…

Dan akhirnya saya tonton juga itu film hari ini. mohfdhqfhe[qeif-hfn[qf oijfoiq3hf o3pono1nf 1jf 1nfo1 n01jg0[1[ cnbtnbgt ]f-4itjgm2 gmpjbvpqu[g 2gj[2q-ig]1qkgq pig-q3ig3jg3g mpgj1ig-3g1 jg-1gmgpjg-1jg-m mprejg oerjgpjgq pogj-qg jqpjq pogj ngp3gn rgp grtnj.
Tulisan di atas bukan error, setelah membaca curhatan mas Hanung di sini, saya jadi merasa bersalah dan menghapus semua tulisan sok tahu dan analisa cetek saya tentang film ini. Iya, pantesan aneh masa Fedi Nuril dubbingnya suara cewek hehehe. Nanti lah setelah tanggal 28 atau setelah saya mantengin tu film di bioskop saya cuap-cuap lagi.

Untuk mas Hanung (caelah mas), filmnya bagus, mas (buset pake mas lagi). Maaf sudah nonton bajakannya, tapi saya cuma penikmat bajakan kok mas bukan pembajak. Nanti kalo ada waktu (tadi panggil mas, sekarang sok sibuk) saya pasti nonton ke bioskop ;) .
Abisnya, dipamerinnya dah dari tahun kemaren tapi ga tayang-tayang, siapa yang ga sabar? (saya). Trus ada gosip kalau diputernya nunggu Valentine, saya sempat berpikir, masa film Islami dilaunchingnya moment Valentine, oksimoron banget ga siy? Untungnya ga jadi.
Selamat Berkarya!!!

February20, 2008

For you, a thousand times over

Memvisualisasikan sebuah buku menjadi film bukanlah hal yang dianggap asing lagi, bahkan terasa ada semacam hukum tak tertulis yang memfardhukan untuk memproduksi film dari sebuah novel bertag “Best Seller”. Tercatat sudah beberapa judul film adaptasi buku yang membuat rumah produksi meraup keuntungan besar dan melejitkan nama aktor/aktrisnya. Misalnya Harry Potter yang ,buku seri selanjutnya sudah full booked bahkan sebelum JK Rowling menyelesaikan paragraf pertamanya, mungkin Warner Bros bakal ditimpukin jika iseng tidak mau melanjutkan kisah petualangan Harry Potter dalam bentuk gambar 3 dimensi bergerak. The Da Vinci Code, Perfume (Story of a Murderer), dan sekarang saya sedang menunggu Ayat-Ayat Cinta a.k.a AAC (jangan selipkan huruf D ya) yang tak kunjung premiere sedangkan gosipnya sudah ada bajakan yang beredar yang mana dapatnya dari badan sensor (ahaha paraaah pol polan kalo bener).

The Kite Runner, novel tahun 2003 karya seorang penulis kelahiran Afghanistan Khaled Hosseini. Novel bersetting Kabul, Afghanistan (tempat kelahiran Khaled Hosseini) tahun ‘70 an ini berisi tentang persahabatan, hubungan Ayah dan anak, loyalitas, keberanian, pengorbanan, dengan disertai gambaran kondisi penduduk negara itu atas perang yang terjadi serta penguasaan Taliban atasnya. Kisahnya bikin mewek, tapi bukan karena kelembekan tokoh di dalamnya tapi justru karena kekuatannya. Ada beberapa bagian yang sepertinya kisah klasik, pasaran dan biasa, tapi mungkin karena cara penulisan Khaled yang membuatnya menghasilkan sensasi yang tak biasa ketika membacanya. Misalnya ketika ternyata Hassan adalah…, atau ketika Ibu Hassan…

International best seller, diterjemahkan dalam 42 bahasa, mendapat penghargaan dari UNHCR, mungkin itulah yang beberapa alasan Paramount membeli hak buku tersebut untuk diangkat dalam layar lebar dengan memproduksi filmnya. Setelah mengalami penundaan launching film karena kekhawatiran atas keselamatan aktor-aktor cilik di dalamnya, akhirnya pada Desember 2007 kemarin The Kite Runner movie dilaunching, meskipun beberapa waktu kemudian keempat aktor ciliknya diungsikan dari Afghanistan.

Saya rasa ada beban tersendiri bagi produser film yang mengadaptasi dari buku, terutama best seller yang dibaca jutaan manusia di dunia. Jutaan otak ini pasti memiliki imajinasi dan persepsi masing-masing dari buku tadi. Nah, film yang mengadaptasinya harus bisa membangun karakter, setting, alur dan plot dalam 3 dimensi yang mewakili imajinasi mayoritas otak tadi.

Saya sudah menonton filmnya beberapa hari yang lalu. Terima kasih untuk teman saya yang saya rampok bandwidthnya untuk mendownload film ini, percayalah kau tidak akan menyesal setelah menyaksikan filmnya, sayang suaranya kecil banget. Dan saya rasa Marc Forster dan krunya sudah bekerja keras untuk membuat film berdurasi sekitar 125 menit ini. Meskipun ada beberapa bagian yang dihilangkan (itu pasti) tapi film ini sudah mampu mewakili apa yang bergerak di otak saya ketika membaca novel ini sekitar 2 tahun yang lalu, kecuali pada penataan rumah Afghanistan tahun 1978 yang saya pikir tidak semodern di film itu.

Aktor-aktor cilik pemeran Amir, Hassan, Sohrab dan Assef semuanya adalah aktor baru, jadi ini adalah debut mereka, tapi mereka sudah menampilkan karakter yang kuat atas tokoh yang mereka perankan. Saya suka Ahmad Khan Mahmidzada yang memerankan Hassan kecil, wajahnya bloon bloon lucu, pengen rasanya menciumnya. Hal yang membuat sangat miris adalah adegan di panti asuhan yang mana pemandangan anak-anak kecil berlari dengan satu kali dibantu kruk, anak kecil dengan lengan kemeja terkulai karena tak ada lengan di dalamnya, seakan menjadi hal yang biasa. Kemudian pengasuh panti asuhan dengan dilemanya harus menyerahkan 1 anak tiap 1 bulan pada Taliban dan membiarkan Allah menjadi hakimnya.

Sayangnya, emosinya sedikit kurang dibanding ketika saya membaca novelnya. Saya nggak bilang filmnya jelek, tapi lebih bagus novelnya. Jadi sebelum nonton film ini saya sarankan baca novelnya dulu. Karena bisa jadi film ini terkesan biasa tanpa membaca novelnya, bisa jadi kesan yang terbaca atas sikap tokohnya tidak terwakili, bisa jadi sikap Amir yang sebenarnya menderita karena rasa bersalah tertangkap sebagai sikap anak nakal yang menyebalkan.

Dari 2 novel Khaled Hosseini, semuanya happy ending, meskipun banyak kehilangan sebelumnya. Kisah The Kite Runner diakhiri dengan Amir yang berlari mengejar layang-layang untuk Sohrab dan mengatakan kalimat yang dulunya selalu diucapkan Hassan, ayah Sohrab, pada Amir, “For you, a thousand times over”.

Saya tidak akan membuat sinopsis film ini, sebaiknya langsung ikuti sendiri kisahnya dan termehe mehe selama 2 jam. Saya berani menjamin yang nonton pasti tidak akan kecewa (kalau kecewa boleh jitak saya deh hehehe). Kalian yang sudah baca novelnya, buruan nonton. Yang belum baca novelnya, buruan nonton (juga) tapi baca dulu novelnya. Meskipun bukan puyer, tapi saya memberi novel dan buku ini bintang tujuh ahahaha.

Oh iya, saya sedang menunggu novel kedua Khaled Hosseini, A Thousand Splendid Suns, difilmkan juga ;)

February13, 2008

Bali 28-31 Januari 2008

Filed under: me myself & I

UPDATED 17 Feb 2008

Untukmu, yang pernah bilang “ya udah, nanti kita bulan madunya di Bali aja”… aku sudah ke Bali… tanpamu, walaupun aku berharap partnerku adalah kamu. Semoga kamu bahagia selamanya…

Karena ada seorang teman yang sedang “ngidam” berlibur ke Bali, kemudian ketika dia tahu saya baru pulang dari sana, kemudian tanya ini tanya itu, seperti akomodasi, transportasi, konsumsi, bule seksi, dll. Sayangnya tak tepat waktu, ketika itu mood saya kurang baik untuk banyak cakap, jadi saya menjanjikan untuk menulisnya di blog.

Perjalanan saya dan partner jalan saya, Anggia, kemarin bisa dibilang dadakan, meskipun sebelumnya memang sudah ada keinginan ke sana tapi “mulek” ga kunjung keluar kata deal, karena berbagai alasan. Akhirnya, ketika tahu bahwa beberapa airlines sedang promo dalam rangka Gong Xi Fat Chai, Anggia merayu bosnya untuk cuti mendadak. Sayapun begitu, untungnya supervisor saya yang baik hati langsung menulis OK dan menandatangani form pengajuan cuti saya :)

Sebelum berangkat sempat browsing sana sini, blog ini dan blog ini sangat membantu kami.
28 Jan 08
Berangkat dari Jakarta pukul 09.35 WIB dan sampai Denpasar pukul 12.20 WITA. Kami memesan taksi setelah lebih dulu mencomot beberapa brosur travel agent yang ada di dekat pintu keluar bandara. Taksi bandara di sana tidak pakai argometer seperti di sini. Kita memesan taksi di counter dekat pintu keluar, sebutkan tujuannya dan langsung bayar di situ, waktu itu kami ke Poppies Lane tarifnya 45 ribu. Kemudian sopir taksi langsung mengantar kita ke tempat tujuan, jadi kalau ga tau jalan ga perlu khawatir diputer-puterin toh kita bayarnya segitu, kalau si sopir muter-muterin dianya yang rugi :D
Di daerah Poppies Lane banyak penginapan murah, waktu itu kami menginap di Cempaka 2 di Jl.Poppies Lane II. Tarifnya 70 ribu per malam untuk 2 orang, tempatnya bersih dan cukup luas, dengan fasilitas 1 bed gedhee, kipas angin, kamar mandi dalam (kayak kosan aja), breakfast berupa jaffle (kayak roti isi gitu, isinya tergantung selera) dan teh manis atau kopi, udah gitu bli-nya baik.
Kalau perginya ga rame-rame, seperti kita yang berdua saja, untuk perjalanan dekat mending nyewa motor saja (untuk yang bisa nyetir), sewa per harinya hanya 30 ribu (24 jam bo). Hotel tempat kami menginap juga menyediakan persewaan motor, jadi kami menyewa dari situ.

Setelah istirahat beberapa saat, kami langsung cabut ke tujuan pertama, Garuda Wisnu Kencana yang kata bli-nya sih cuma sekitar 15 menit perjalanan dengan motor (kalau ga nyasar). Berhubung saya kurang expert dalam mengendarai motor, jadilah partner yang menyetir, sedangkan saya berbekal peta hasil gugling yang diprint berperan sebagai navigator (yang kenal saya pasti ngakak jaya mengetahui saya jadi navigator). Ahahaha, bukankah ada buku yang bilang kalau wanita itu tidak bisa baca peta (bo, cewek yang pinter baca peta di dunia ini cuma satu, Dora), apalagi saya yang punya penyakit amnesia jalanan dan tukang nyasar ini. Dan ternyata, partner saya yang cantik itu pelupa juga, perfect! Setelah muter-muter di jalan dalam kota (asli jalanannya membingungkan), tanya anak kecil, satpam toko, pekerja mebel, dan tukang bakso, dan mencatat waktu kira-kira 1 jam, ketemu juga batu besar berukir GWK itu. Kalau dari Kuta, gimana caranya pokoknya bisa keluar sampai Jl Bypass Ngurah Rai, kemudian ketemu Universitas Udayana masuk aja (universitas ini mirip-mirip ITS atau UI, antara satu fakultas dengan fakultas yang lain terpisahkan oleh “hutan”), ikuti saja jalannya sampai ketemu SPBU belok kiri jalan terus, nah GWK ada di kiri jalan.

Tiket masuknya 15 ribu per orang, kalau bawa mobil bayar lagi tapi maaf saya ga perhatikan tarifnya. Tempat ini sangat luwaaasss, didominasi batu kapur di mana-mana dan kadang rerumputan hijau yang membuat saya ingin menyebutnya sebagai stepa. Nantinya akan dibangun patung Wisnu mengendarai Garuda (sesuai namanya) dengan ukuran super jumbo di tempat ini. Saat ini patung yang sudah jadi adalah kepala garuda, kepala dan badan Wisnu, dan kedua tangan Wisnu (masih terpisah dari badannya). Di dalamnya juga ada gedung teater tempat pertunjukkan seperti tari-tarian, sayang waktu ada di sana sedang tidak ada pertunjukkan.

Setelah itu kami pergi ke pantai Dreamland, sebenarnya hanya 15 menit dari GWK tapi berhubung kami nyasar keterusan jadinya sekitar 30 menit :( . Kalau dari GWK terus saja ikuti jalan sampai ketemu Pecatu Indah Resort, nah masuknya dari situ. Senangnya di Bali itu pantainya ga ada yang berbayar, jadi di sini cuma perlu bayar parkir, motor 5 ribu. Pantainya sangat cantik, pasirnya putih kekuningan, lautnya biru, ombaknya lumayan gede. Kami menghabiskan waktu sambil menunggu sunset di sini. Oh iya, sebaiknya anda tidak lapar di sini, cuma ada 1 tempat makan, makanannya kurang enak, dan mahal. Nasi goreng dengan hiasan telor ceplok, sate 2 tusuk, kerupuk udang, dan sayuran dibandrol 20 ribu, di menu yang tertulis bakmi ayam juga 20 ribu, walaupun isinya tak lain adalah mie sedap dengan asesoris yang sama dengan nasi goreng. Di sebelahnya ada wastafel yang kalau mau pake musti bayar 5 ribu (di Gambir sudah bisa mandi 2 kali plus pipis sekali).

Hari ini, kami menyebut diri kami: BACKPACKER. Ahahahaha….

29 Jan 08
Hari kedua kami sudah berencana bermain Water Sport di Tanjong Benoa dan sudah memesan ke Bli Komang. Jam 9 pagi (seperti yang kami minta) kami sudah dijemput Batara Watersport ke Tanjong Benoa yang ditempuh sekitar 30 menit. Kalau mesen di Bli Komang bisa antar jemput gratis untuk domisili Kuta, Seminyak, Legian dan sekitarnya. Sampai di sana kami langsung dipameri foto-foto bermacam permainan air. Saya yang dari Jakarta mupeng ber-parasailing terpaksa harus kecewa karena infonya angin hari itu kurang mendukung, kalau mau parasailing mendaratnya di batu koral, buset!! Akhirnya kami memilih 3 jenis: diving (200 ribu), banana boat (50 ribu), flying fish (120 ribu, ps. udah mahal, ga seru blas. mending jangan pilih yang ini), kalau mau direkam dan difoto di dalam air bayar per CDnya 250 ribu. Oh iya, ini harga dari Bli Komang lho ya, kalau langsung ke watersportnya bisa lebih mahal, thanks bli. Yang paling berkesan adalah diving, awalnya kita dibriefing tentang pernafasan dan apa yang harus dilakukan jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, seperti telinga yang pasti terasa sakit karena perbedaan tekanan udara, air yang masuk ke masker, dll. Saran saya, jangan mudah panik, ketenangan sangat diperlukan di sini. Kami masuk ke air, melihat terumbu karang, dan kami dibekali roti untuk kasih makan ikan. Durasinya hanya sekitar 25 menit, kata guidenya kalau pemula waktunya segitu, padahal kan masih pengeeeeennnnn…..

Hal yang cukup menyulitkan di sini adalah masalah perut dan lidah. Di daerah Poppies Lane memang banyak tempat makan, tapi makanan bule semua. Lha wong saya ini perutnya perut agraris, ya belum makan namanya kalau belum makan nasi. Ujung-ujungnya ya Mc D atau Pizza Hut di dekat pantai. Tapi siang ini setiba dari Tanjong Benoa sekitar pukul 13.30 dalam keadaan tepar, hitam, asin dan berpasir, setelah mandi dalam keadaan kelaparan, kami jalan mencari makanan yang manusiawi dimakan orang jawa. Dan akhirnya, di Gg Ronta, kami menemukan masakan Indonesia, bahkan bentuknya mirip-mirip warteg. Saya memesan nasi setengah, buncis tumis, telur sambel merah, bakwan jagung, dan sambel goreng kentang. Inilah makanan terenak semenjak tiba di sini.

Kemudian jalan lagi sedikit ke arah Legian, eh nemu Monumen Bom Bali, poto2 dulu deh walaupun matahari lagi pamer panasnya. Kemudian balik lagi ke Hotel untuk istirahat. Sorenya jalan-jalan ke Pantai Kuta yang jauuuh kerenan Dreamland. Sayang baru 15 menit eh turun hujan, ngiyuplah kita.

30 Jan 08
Kami menemukan paket perjalanan dari salah satu brosur yang kami comot di bandara. Dengan 250 ribu per orang untuk 13 jam perjalanan, sudah termasuk mobil, bbm, sopir, guide, tiket masuk tempat wisata, makan siang dan makan malam. Dan jadilah hari itu kami berkeliling dari nonton Tari Barong di Batubulan, Celuk, Ubud, Tampaksiring, makan siang di Kintamani, Besakih, Sukawati (udah sore dah pada tutup), nonton Tari Kecak di Batubulan, dan diakhiri makan malam di Jimbaran.
Karena saya bayar paket dalam perjalanan ini, jadi saya tidak bisa beri info mengenai tarif tempat-tempat wisata tadi. Tapi saya pernah baca kalau masuk pura-pura tarifnya masih di bawah 10 ribu, yang mahal nonton tarinya, sekitar 50 ribu, katanya sih.

Berhubung saya lebih suka pada alam dibanding buatan manusia, maka perjalanan kali terasa cukup membosankan bagi saya. Ubud, saya bukan penggemar lukisan dan ga ngerti lukisan, jadi cuma muter-muter sambil mendangarkan bli-nya nerangin jenis lukisan tanpa bisa menyembunyikan kebosanan saya. Pura, hmm saya lebih memilih menggosongkan kulit saya yang hitam di Dreamland. Dan, saya yang rada susah diatur ini kurang suka dengan kehadiran seorang guide. Aduh, maaf beribu maaf. Tapi, saya agak terganggu ketika menikmati apa yang bisa saya lihat tiba-tiba harus memperhatikan keterangan dan penjelasan ini itu yang sebenarnya saya tidak ingin tahu (mau ga didengerin juga ga enak), pose berfoto saya jadi kurang maksimal (gubrak!) karena serasa ada yang mengamati, misalnya tidak enaknya saya ketika ingin berpose membentuk formasi jutsu di tengah 2 buah patung di sebuah pura ketika sang guide mengawasi dengan tatapan yang saya rasa kurang enak (saya juga sih yang salah), dan saya kurang suka dengan jadwal-jadwal yang seolah selalu terburu-buru, yah inilah tidak enaknya ikut paket tour. Enaknya, kita tinggal duduk atau tertidur di mobil, sampai deh tanpa harus nyasar ehehehe.

Bagian yang saya suka adalah ketika makan siang di Kintamani yang dingin, memandang gunung dan danau dari tempat kami makan, kemudian ketika nonton tari orang kesurupan (lupa nama tarinya) yang membuat cewek-cewek Korea di depan saya heboh jejeritan, dan terakhir, makan malam di Jimbaran.

Oh iya, kalau ke Besakih sebaiknya bawa kain sendiri, adat masuk ke pura berbeda-beda tergantung puranya. Kalau ke Tampaksiring, pake celana panjang diperbolehkan masuk. Jika anda memakai celana pendek, rok pendek atau bawahan pendek apapun, ada peminjaman kain dan selendang untuk masuk. Lain halnya di Besakih, pakai celana ga boleh masuk, kemudian tidak ada peminjaman kain seperti halnya di Tampaksiring. Sebagai gantinya banyak orang yang berjualan atau menyewakan kain dengan tarif cukup mahal. Saya waktu itu ditawari kain yang di Sukawati bisa seharga 10 ribu, di sini 30 ribu sedangkan sewa 15 ribu.

31 Jan 08
Pagi sekitar jam 06.30 jalan ke pantai Kuta. Ternyata sudah banyak orang meskipun tidak seramai sore kemarin. Ada yang mancing, ada yang mandiin anjing, ada bule jogging, ada yang mengajak bayinya jalan-jalan, dua cewek Korea dengan bra dan rok panjang saling memoto. Saya, moto-moto sambil main air, kemudian jalan dan foto narsis di sepanjang pantai sambil sarapan burger Mc D 5 ribuan ehehehe.

Jam 11 siang, kami check out dan sudah memesan mobil untuk ke tanah Lot selama 5 jam dengan biaya 170 ribu. Perjalanan ditempuh kira-kira 45 menit, tapi menurut Pak Ketut, driver kami waktu itu, bisa lebih lama jika sore hari karena macet. Jalan akses ke Tanah Lot yang ga begitu lebar itu akan penuh dengan kendaraan orang-orang yang memang berniat ke Tanah Lot yang ingin melihat sunset, dan orang-orang pulang kerja yang sebagian besar menggunakan jalan tersebut. Jadi jika tidak berniat melihat sunset, sebaiknya perginya pagi atau siang saja. Tiket masuk ke sini 7500 untuk turis domestik dan 10 ribu untuk turis asing, sedangkan untuk mobil cukup 5 ribu.
Tanah Lot, pura yang dibangun di atas tanah yang menyembul di tengah laut. Kami tidak menyeberang ke Pura karena air laut cukup tinggi sementara kami sedang malas untuk berbasah-basah karena sudah mau pulang, jadinya menatap dari kejauhan saja. Di tempat ini juga terdapat ular yang katanya ular suci, cuma harus bayar lagi untuk melihatnya. Saya sih ogah membayar untuk nantinya bergidik bahkan menjerit.
Di sini juga ada pasar kesenian semacam Sukawati, tapi harganya sedikit lebih mahal tentunya. Pinter-pinter nawar aja. Oh iya, makanan di sini lebih bersahabat dengan lidah dan dompet.

Sebelum pulang kami sempatkan ke Joger, cukup lama kami muter-muter di sana dan akhirnya cabut ke bandara untuk kembali ke Jakarta penerbangan pukul 18.50.

ps. beberapa foto ada di sini

Semoga bermanfaat ;)

February11, 2008

KRL (bagian 2)

21 Maret 07

Kau tahu apa yang kusuka dari KRL? Banyak orang dagang di sana hehehe… Yap, di KRL kalian bisa menemukan barang-barang kebutuhan. Mulai dari makanan, minuman, mainan, sampai printilan macam peniti, asesoris rambut, gunting kuku, sampai pencabut bulu keti. Bahkan ada yang jualan pisau, racun tikus, kamus Bahasa Inggris, sampai atlas (kali aja ada orang Bulgaria yang nyasar di Kalibata, naek KRL trus ketemu tukang jualan atlas). Dan semuanya dijual dengan harga yang murah. Aku sih suka membeli buah-buahan, jeruk medan yang biasanya 1 biji seribu rupiah di KRL bisa cuma 500; salak 5 biji seribuan; mangga arum manis yang lumayan gede 5000 dapet 3, kalo beruntung bisa dapet 4 sampe 5 biji.

Dan sejak pertemuanku dengan pria itu, aku lebih semangat naik KRL. Aku sudah terbiasa dengan desak-desakan, berebut tempat, nyelip-nyelip di antara orang-orang, bisa dibilang aku sudah expert dalam hal per-KRL-an. Sejak saat itu pula, aku berusaha sebisa mungkin mendapatan tempat di pojokan dekat pintu, tempat ketika tatapan mata itu menoreh dalam di hatiku. Ternyata tempat ini sangat strategis, selain aman dari senggolan dengan orang lain, tempat ini juga memberi angin segar dan memudahkan untuk keluar. Tapi, cukup sulit mendapatkan tempat strategis ini. Sebenarnya, aku mengharapkan bisa bertemu lagi dengan pria bermata elang itu. Aku percaya, kalau kami berjodoh, kami pasti dipertemukan lagi.

3 Mei 07
Enaknya jadi bos, bisa nyuruh ini itu seenak udelnya, dengan kalimat favorit…”Saya nggak mau tau, pokoknya….” yang membuat lawan bicaranya ber-iyaiya tapi mengumpat di belakang. Seperti yang aku alami hari ini, tepat pukul 16.23 waktu jam di komputer saya, ketika aku sedang bertelepon ria dengan seorang teman merencanakan untuk kabur (bahasa halusnya pulang lebih awal) ke Ambasador hanya untuk duduk di salah satu sudut Chow King untuk menyeruput segarnya Nai Cha. Ponsel masih terkepit di antara telinga dan bahu sementara kedua tangan sibuk berbenah memasukkan beberapa barang ke dalam tas, tiba-tiba led merah pesawat telepon di mejaku berkedip-kedip (aku memang sengaja meng-off-kan tone nya, biar ga berisik), dengan enggan kuangkat handset dan kukeluarkan kata “halo” yang dijawab oleh suara yang sangat kukenal, bosku. Dari awal mendengar suaranya aku sudah merasa ada hal yang tidak enak, dan jangan sekali-kali meremehkan insting perempuan. Bos meminta saya mengerjakan suatu laporan keuangan yang biasanya dikerjakan seharian penuh, kali ini Bos tercinta meminta sudah ada di mejanya paling lambat jam 8, berarti aku harus tenggang waktuku hanya sekitar 3 jam. Edan.

Ga tau gimana caranya, pokoknya kisah sedih di hari Jumat ini berakhir dengan indah. Tumpukan kertas itu ada di meja Bos jam 7:57 PM, si Bos menerimanya dengan dingin, bahkan tak mengucapkan terima kasih. Aaarrrgggghhhhh!! Sudahlah, si Bos orang Indonesia kok, jadi aku maklum.

Aku naik ojek ke Stasiun Kota agar dapat mengejar kereta terakhir, dan benar saja, bapak penjual karcis berkata padaku agar cepat-cepat karena kereta terakhir sebentar lagi berangkat. Sialnya aku lupa mengganti stiletto 7 cm ku dengan sandal, jadi aku harus berlari dengan tumit menapak pada benda runcing setinggi 7 cm. Semoga saja kakiku tidak cedera.

Di depan pintu masuk aku melihat KRL terakhir itu sudah bergerak perlahan, aku mempercepat lariku, kakiku terasa semakin ngilu. Jarak 5 meter lagi, tapi kereta semakin cepat sementara kakiku rasanya sudah tidak bisa berlari lagi, sakit sekali, beberapa orang di dalam kereta menatapku, ada yang tertawa geli, ada yang berwajah harap harap cemas, ada juga yang berbaik hati mengulurkan tangannya dan menyemangatiku untuk berlari lebih cepat. Tapi jalannya kereta lebih cepat dari lariku,kurasa aku akan ketinggalan kereta. Aku memilih menyerah dan memperlambat lariku, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menggenggam tanganku, erat, sangat erat. Aku serasa mengalami déjà vu, rasa terkesiap, jantung yang tiba-tiba berdetak kencang dan rasa ngilu yang mendesir di ulu hati. Tangan itu menarikku mengikuti larinya yang cepat, mau tak mau aku harus mempercepat langkahku. Ajaib. Rasa sakit di kakiku menghilang, serasa mati rasa. Tapi aku semakin mendekat ke pintu kereta yang tak pernah tertutup itu. Di depan pintu yang bergerak, lengan itu mengangkat tubuhku kemudian kami berdua meloncat ke dalam kereta, bukan, sebenarnya bukan kami yang meloncat, hanya dia, tapi dia membawaku serta. Di dalam kereta orang-orang bertepuk tangan dan bersuit-suit seolah baru menyaksikan adegan Peter Parker menyelamatkan Mary Jane. Aku tak punya waktu untuk tersipu, baru sekarang aku rasakan sakit menajalar bukan hanya di kakiku, tapi semua badanku. Aku berbalik sambil meringis menahan sakit untuk mengucapkan terima kasih pada pemilik tangan yang menggandengku berlari dan lengan yang mengangkatku masuk ke dalam KRL.

Oh, Tuhan, inikah jawabanMu atas doaku? Tapi apakah tidak terlalu cepat? Mata elang yang dulu pernah kukagumi dari kejauhan itu sekarang ada di hadapanku, bukan hanya itu bahkan mata itu menatap mataku, serasa dia mengetahui kombinasi angka kunci brankas hatiku dan sekarang sedang memutar perlahan-lahan menuju angka-angka tersebut dan akhirnya klik, voila! Jika aku pernah bilang bahwa Paolo Maldini adalah pria pemilik mata terindah di dunia, teoriku runtuh ketika melihat mata itu perlahan menyipit, dia tersenyum. Tidak, dia tidak hanya tersenyum, dia tersenyum… padaku. Dan aku langsung meleleh demi hanya mendengar pertanyaannya, “sakit, ya?”

Namanya Ridwan, seorang konsultan IT yang berkantor di daerah Kota. Dia menuju ke Lenteng Agung, di situlah rumah orang tuanya. Aku tak henti-hentinya mencubit tubuhku memastikan bahwa aku tidak bermimpi ketika dia menanyakan nomor HPku.

28 Oktober 07
Aku kini tak sendiri lagi setiap “berjuang” di KRL, aku sudah punya partner KRL yang selalu menemaniku. Ridwan Anggoro, pria yang mempunyai mata lebih indah dari mata Paolo Maldini, pria yang menyatakan ingin menitipkan hatinya padaku untuk selamanya tepat 97 hari 9 jam 27 menit dan 18 detik sejak perkenalan pertama kami.

Setiap pagi ketika berangkat kerja dia turun dulu di Cawang untuk kemudian berangkat bersama menuju Kota. Kini aku merasa aman karena ada dia bersamaku, dialah penjagaku, penjaga raga, hati dan jiwaku. Kami melalui hal-hal seru bersama, terutama di KRL. Mulai dari lari-larian mengejar KRL, bete menunggu karena KRL mogok, deg-degan takut terlambat masuk kerja karena jadwal kereta yang tiba-tiba molor berjam-jam, mengamati lalu lintas pedagang di KRL yang berlomba dengan pengemis. Suatu hari aku pernah minta naik KRL di atap gerbong, dia menjawab dengan lototan mata. Ah, mata itu terlalu indah untuk tampak galak walaupun dia melotot.

4 Nopember 07
Hari ini kami berencana pergi ke Kebun Raya Bogor. Sudah hampir 6 tahun aku tinggal di Jakarta (4 tahun di Depok ketika kuliah), tetapi belum pernah sekalipun aku berkeinginan mengunjungi obyek wisata di kota hujan itu. Aku naik KRL dari Cawang menuju Bogor sekitar pukul 9 pagi, Ridwan akan berangkat dari Lenteng Agung. Aku sudah bilang padanya kalau aku duduk di gerbong paling depan.

Kereta terasa berjalan lebih lambat dari biasanya, untungnya hari ini tidak terlalu penuh jadi aku dapat tempat duduk. Di depanku duduk seorang Ibu sedang bercanda dengan bayi berusia sekitar 1 tahun di pangkuannya, di sebelahnya seorang gadis sedang serius membaca buku tebal , sepertinya dia mahasiswi, di sebelah kananku seorang bapak sedang tidur nyenyak bersandar pada dinding gerbong, nyenyak sekali bahkan teriakan nyaring penjual koran tak membangunkannya. Aku diam merekam semua kejadian di depanku ke temporary files memori otakku.

Seorang Ibu tua berjalan dengan pantatnya, mungkin ada yang menyebut ngesot. Tapi aku tidak menggunakan kata “ngesot” karena Ibu ini berjalan dengan pantat sementara kakinya menjulur ke depan, istilah ngesot yang ada di benak saya adalah cara jalan dengan pantat miring dan kaki di belakang. Ini yang saya tangkap dari beberapa film horor Indonesia yang menampilkan suster ngesot. Pantat Ibu ini dilapisi kain tebal, sepertinya untuk melindungi kulitnya saat bergesekan dengan jalanan, yang ditempelkan ke baju belakang dan celananya dengan peniti di sana sini. Kakinya ditutup dengan celana panjang dan kaos kaki yang pada bagian pergelangan kakinya diikat karet gelang, hingga tak seinchipun kulit kakinya tampak. Dia tidak berucap sepatah katapun, tapi teko plastik bekas yang dia seret seiring perpindahan tubuhnya mengisyaratkan dia sedang meminta belas kasihan pada siapapun yang dia lewati. Aku yang sudah berkomitmen tidak akan memberi uang pada pengemis, hanya memandanginya menjauh. Sejenak sebelum aku berniat mengalihkan pandanganku, tiba-tiba seorang Bapak dengan tas di tangannya berjalan dari arah belakang dan mengambil teko plastik Ibu tadi. Aku terkejut. Kenapa Ibu tadi tidak marah atau berusaha mengambil haknya? Jika perkiraanku tidak salah, usia Bapak tadi sekitar 5 atau 10 tahun lebih muda dari si Ibu. Si Bapak kemudian berjongkok di depan pintu, dan tanpa percakapan apapun, si Ibu memeluk si Bapak dari belakang. Pada saat kereta berhenti di stasiun Pasar Minggu, si Bapak menggendong si Ibu untuk turun. Oh, rupanya mereka sudah saling mengenal. Kereta berjalan lagi perlahan, aku masih mengamati pasangan tadi. Si Ibu dengan pasrah diturunkan, si Bapak meletakkan tasnya kemudian menghitung kepingan dan mungkin lembaran uang yang ada di teko plastik bekas tadi. Kereta semakin cepat meninggalkan Pasar Minggu, perlahan pasangan tadi menghilang dari pandanganku. Berbagai pikiran berputar di kepalaku. Ibu tadi, seorang wanita, dengan usia yang dalam ilmu ekonomi sudah termasuk usia tidak produktif, dengan kondisi tubuh seperti itu, mungkinkah Bapak tadi memintanya atau menyuruhnya mencari uang? Kalau iya, kenapa? Kenapa bukan dia?

Kereta sudah sampai di Lenteng Agung, aku celingukan mencari Aa. Hehehe, Ridwan yang asli Bandung tapi besar di Jakarta ini memintaku memanggilnya Aa, sedang dia memanggilku Bebe. Aku suka panggilan baru kami. Ternyata aku celingukan ke arah yang salah, dia datang dari arah belakangku. Perjalanan sepanjang apapun takkan terasa membosankan saat ada orang yang kaucintai di sampingmu. Itulah yang aku rasakan saat itu.

Kereta dari Bogor menuju Jakarta masih sepi, masih sekitar jam 2 siang, masih banyak bangku kosong. Kami duduk di salah satu sudutnya. Perlahan orang berdatangan mengisi satu persatu bangku dan mulai penuh saat kereta mulai berjalan. Kami ngobrol sambil memandang satu sama lain, sampai datang seorang Ibu hamil yang berdiri di depanku. Spontan Aa berdiri dan memberikan tempat duduknya untuk calon Ibu atau mungkin Ibu tadi. Aa berniat mengantarkanku sampai kos. Ah, aku kan bukan cewek manja, aku bisa pulang sendiri, lagi pula kasihan dia pasti capek, mana besok sudah harus mulai kerja lagi, jadi kusuruh dia turun di Lenteng Agung. Toh aku juga sudah cukup akrab dengan calon Ibu (iya, ini kehamilan pertamanya) bernama Retno yang nantinya turun di Manggarai ini.

Setelah Aa turun, digantikan 3 anak kecil yang masuk dari pintu yang sama tempat Aa keluar. Seorang anak berusia sekitar 15 tahun (sebut saja A), dan 2 anak berusia sekitar 8 tahun (sebut saja B dan C, maaf ya). Si A membawa beberapa batang lidi yang jika disatukan belum bisa disebut sapu dan mulai mengulik-ulik sampah di kereta untuk dikumpulkan sambil tangannya sesekali menengadah dengan muka dan penampilan tubuh yang sangaaat memelas. Sementara si B tanpa ba bi bu langsung berkeliling sambil menengadahkan tangan, sedangkan si C hanya lari-larian sambil tertawa-tawa menuju gerbong lain. Ah, seperti itulah seharusnya anak kecil. Jarak 3 meter dari tempat startnya, si A berhenti, di tengah jalan. Aku tahu dia belum mendapatkan sepeserpun dalam rentang 3 meter itu. Dia diam, menatap keluar, tak peduli pada kertas dan plastik bekas yang dia kumpulkan tadi satu persatu berserakan lagi oleh ulang angin. Cukup lama sampai aku bertanya-tanya apa yang dia lakukan atau apa yang dia pikirkan saat itu. Kemudian dia berjalan ke pintu, ketika ada kereta dari arah lain yang lewat, dia berteriak-teriak dengan kata-kata yang tak jelas kudengar. Sepertinya dia berteriak pada temannya yang di kereta lain tadi, padahal tadi dia seperti anak yang tidak makan 3 hari 2 malam.

Aku menarik nafas panjang, kuhirup semampuku semua oksigen di gerbong ini yang sudah tak murni lagi. Biarlah bulu hidung dan paru-paruku yang menyaringnya, toh itu sudah tugas mereka. Belum lepas semua gas karbon dari paru-paruku, aku tercekat. Seorang anak berusia kira-kira 8 tahun berjalan dengan pantatnya (aduh, tolong berikan aku istilah untuk cara jalan ini, tapi jangan ngesot), badan dan mukanya kotor, matanya memberi sorot penderitaan, dia menengadahkan tangan sepanjang jalan. Aku tidak mungkin salah lihat, aku tidak mungkin salah ingat. Aku yakin aku pernah melihatnya sebelumnya, 10 menit yang lalu dia berlari-lari seakan ada layangan putus yang harus dia tangkap, 10 menit yang lalu aku melihatnya tertawa memamerkan giginya yang tak kumplit. Dia adalah si C. Sepertinya dia mengalami lumpuh instan.

17 Juni 2009
Sudah bertahun-tahun aku jadi penumpang setia KRL, tapi keadaan tidak banyak berubah. Kondisi yang kotor, pengemis di mana-mana, namun tetap jadi favorit jutaan umat. Aku dan Aa naik KRL jurusan Jakarta dari stasiun Depok Baru, di dalam tidak terlalu penuh tapi semua tempat duduk sudah terduduki. Kamipun berdiri di satu sudut yang agak longgar, Aa memeluk memberi perlindungan untukku. Untungnya, tak berapa lama seorang anak lelaki, sepertinya mahasiswa, memanggilku dan memberikan tempat duduknya untukku. Aku duduk sambil tersenyum mengucapkan terima kasih kemudian menatap Aa, lihat, A, Tuhan tahu, tapi menunggu. Tuhan membalas apa yang kau lakukan pada mba Retno sekitar 2 tahun yang lalu, bukan secara langsung padamu, tapi istrimu. Usia kandunganku yang sudah menginjak 6 bulan memang tidak bisa menyembunyikan kehamilanku.

Aku duduk sementara Aa berdiri di depanku. Di tempat duduk seberangku, di pinggir pintu duduk seorang Ibu muda bersama putrinya yang kira-kira berusia 10 tahun. Gadis kecil itu tidak bisa diam, lagu Vina Panduwinata Kumpul Bocah terlintas di benakku. Samar aku mendengar percakapan mereka.
“Ma, kok di sini banyak yang minta-minta? Beda sama kereta yang kita naiki kemarin.”
“Beda, sayang. Ini kan kereta ekonomi, nah kereta yang kita naiki waktu ke rumah kakek itu kereta eksekutif.”
“Memang kalau kereta ekonomi banyak yang minta-minta ya?”
“Iya, sayang.”
“Kenapa? Bukannya yang naik kereta ekonomi itu orang miskin? Kenapa mereka minta ke orang miskin? Bukan orang kaya yang naik kereta eksekutif?”

Si Ibu terlihat diam bingung menjawab, tapi akhirnya dia menjawab beberapa kalimat, sayangnya aku tidak bisa mendengarnya karena mendadak ada kereta lain dari arah berlawanan yang suaranya seakan minta perhatian semua telinga. Aku tersenyum, iya juga ya, sekarang kenapa orang rela berdesak-desakan di kereta ekonomi merasakan bau yang campur aduk, kegerahan atau basah kedinginan karena atap gerbong yang bocor saat hujan, bahkan sampai naik di atap gerbong. Kenapa? Karena murah, bahkan kalau ada yang nakal bisa saja mereka naik tanpa karcis. Lha kok pengemis-pengemis ini minta ke orang yang “ngirit”?. Aa pun nyeletuk, “Coba kalau ketauan orang Indovision, bisa dijadiin bintang iklan tuh anak. Waaah, pinter beneer.” Aku tertawa kemudian tersenyum mengelus perut buncitku sambil menatap pria bermata paling indah sedunia di hadapanku. Ridwan Anggoro, yang dulu hanyalah partner KRLku, sejak setahun yang lalu jadi partner hidupku. Dan kami sedang membangun istana sederhana kami di Depok.

2013
Suara ting tong nyaring mengikuti palang pintu perlintasan kereta api yang perlahan bergerak turun, tepat ketika kami akan lewat. Setelah kelahiran Kenzo, kami memutuskan tidak lagi menggunakan jasa kereta api untuk pergi kemana-mana, kasihan putra kecil kami. Alhamdulillah kami bisa mencicil sebuah mobil, Ken memang membawa berkah dan rejeki bagi kami. Lucunya, Ken seperti sangat terobsesi pada kereta, dia selalu girang saat melihat deretan gerbong berjalan itu. Saat dia mengungkapkan keinginannya menjadi masinis, aku dan Aa hanya tersenyum. No wonder, wong janinnya tumbuh di kereta, kereta ekonomi hehehe. Kami hanya berdoa semoga permata hati kami ini selalu diberi yang terbaik dan diberkahi Allah.

Seperti saat ini, dia sangat gembira mengetahui mobil kami terpaksa mengalah untuk mendahulukan jalannya kereta api. Dia sangat girang hingga terlonjak ke jendela sambil berteriak-teriak, “Bunda, I want to see the train!”. Aku dan Aa memang sengaja mengajarkan bahasa Inggris pada Ken sejak dia kecil, tanpa melupakan bahasa negeri sendiri dan bahasa Ibu tentunya. Kemudian ketika barisan gerbong itu lewat, justru dia diam, seakan membisu. Mulutnya setengah terbuka, matanya tak mau berkedip, sorot mata itu cukup mewakili apa yang dia rasakan saat itu. Suatu hari dia menanyakan suatu hal yang sangat sulit kujawab,”Bunda, what is KRL stand for?”

-TAMAT-

ehehehe akhirnya diupdate juga. Btw, ada yang tahu kepanjangan KRL?

ps. Kisah ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan cerita, tokoh atau tempat kejadian, itu hanya perasaan anda saja :p