justrhe[dot]blogsome[dot]com

February13, 2008

Bali 28-31 Januari 2008

Filed under: me myself & I

UPDATED 17 Feb 2008

Untukmu, yang pernah bilang “ya udah, nanti kita bulan madunya di Bali aja”… aku sudah ke Bali… tanpamu, walaupun aku berharap partnerku adalah kamu. Semoga kamu bahagia selamanya…

Karena ada seorang teman yang sedang “ngidam” berlibur ke Bali, kemudian ketika dia tahu saya baru pulang dari sana, kemudian tanya ini tanya itu, seperti akomodasi, transportasi, konsumsi, bule seksi, dll. Sayangnya tak tepat waktu, ketika itu mood saya kurang baik untuk banyak cakap, jadi saya menjanjikan untuk menulisnya di blog.

Perjalanan saya dan partner jalan saya, Anggia, kemarin bisa dibilang dadakan, meskipun sebelumnya memang sudah ada keinginan ke sana tapi “mulek” ga kunjung keluar kata deal, karena berbagai alasan. Akhirnya, ketika tahu bahwa beberapa airlines sedang promo dalam rangka Gong Xi Fat Chai, Anggia merayu bosnya untuk cuti mendadak. Sayapun begitu, untungnya supervisor saya yang baik hati langsung menulis OK dan menandatangani form pengajuan cuti saya :)

Sebelum berangkat sempat browsing sana sini, blog ini dan blog ini sangat membantu kami.
28 Jan 08
Berangkat dari Jakarta pukul 09.35 WIB dan sampai Denpasar pukul 12.20 WITA. Kami memesan taksi setelah lebih dulu mencomot beberapa brosur travel agent yang ada di dekat pintu keluar bandara. Taksi bandara di sana tidak pakai argometer seperti di sini. Kita memesan taksi di counter dekat pintu keluar, sebutkan tujuannya dan langsung bayar di situ, waktu itu kami ke Poppies Lane tarifnya 45 ribu. Kemudian sopir taksi langsung mengantar kita ke tempat tujuan, jadi kalau ga tau jalan ga perlu khawatir diputer-puterin toh kita bayarnya segitu, kalau si sopir muter-muterin dianya yang rugi :D
Di daerah Poppies Lane banyak penginapan murah, waktu itu kami menginap di Cempaka 2 di Jl.Poppies Lane II. Tarifnya 70 ribu per malam untuk 2 orang, tempatnya bersih dan cukup luas, dengan fasilitas 1 bed gedhee, kipas angin, kamar mandi dalam (kayak kosan aja), breakfast berupa jaffle (kayak roti isi gitu, isinya tergantung selera) dan teh manis atau kopi, udah gitu bli-nya baik.
Kalau perginya ga rame-rame, seperti kita yang berdua saja, untuk perjalanan dekat mending nyewa motor saja (untuk yang bisa nyetir), sewa per harinya hanya 30 ribu (24 jam bo). Hotel tempat kami menginap juga menyediakan persewaan motor, jadi kami menyewa dari situ.

Setelah istirahat beberapa saat, kami langsung cabut ke tujuan pertama, Garuda Wisnu Kencana yang kata bli-nya sih cuma sekitar 15 menit perjalanan dengan motor (kalau ga nyasar). Berhubung saya kurang expert dalam mengendarai motor, jadilah partner yang menyetir, sedangkan saya berbekal peta hasil gugling yang diprint berperan sebagai navigator (yang kenal saya pasti ngakak jaya mengetahui saya jadi navigator). Ahahaha, bukankah ada buku yang bilang kalau wanita itu tidak bisa baca peta (bo, cewek yang pinter baca peta di dunia ini cuma satu, Dora), apalagi saya yang punya penyakit amnesia jalanan dan tukang nyasar ini. Dan ternyata, partner saya yang cantik itu pelupa juga, perfect! Setelah muter-muter di jalan dalam kota (asli jalanannya membingungkan), tanya anak kecil, satpam toko, pekerja mebel, dan tukang bakso, dan mencatat waktu kira-kira 1 jam, ketemu juga batu besar berukir GWK itu. Kalau dari Kuta, gimana caranya pokoknya bisa keluar sampai Jl Bypass Ngurah Rai, kemudian ketemu Universitas Udayana masuk aja (universitas ini mirip-mirip ITS atau UI, antara satu fakultas dengan fakultas yang lain terpisahkan oleh “hutan”), ikuti saja jalannya sampai ketemu SPBU belok kiri jalan terus, nah GWK ada di kiri jalan.

Tiket masuknya 15 ribu per orang, kalau bawa mobil bayar lagi tapi maaf saya ga perhatikan tarifnya. Tempat ini sangat luwaaasss, didominasi batu kapur di mana-mana dan kadang rerumputan hijau yang membuat saya ingin menyebutnya sebagai stepa. Nantinya akan dibangun patung Wisnu mengendarai Garuda (sesuai namanya) dengan ukuran super jumbo di tempat ini. Saat ini patung yang sudah jadi adalah kepala garuda, kepala dan badan Wisnu, dan kedua tangan Wisnu (masih terpisah dari badannya). Di dalamnya juga ada gedung teater tempat pertunjukkan seperti tari-tarian, sayang waktu ada di sana sedang tidak ada pertunjukkan.

Setelah itu kami pergi ke pantai Dreamland, sebenarnya hanya 15 menit dari GWK tapi berhubung kami nyasar keterusan jadinya sekitar 30 menit :( . Kalau dari GWK terus saja ikuti jalan sampai ketemu Pecatu Indah Resort, nah masuknya dari situ. Senangnya di Bali itu pantainya ga ada yang berbayar, jadi di sini cuma perlu bayar parkir, motor 5 ribu. Pantainya sangat cantik, pasirnya putih kekuningan, lautnya biru, ombaknya lumayan gede. Kami menghabiskan waktu sambil menunggu sunset di sini. Oh iya, sebaiknya anda tidak lapar di sini, cuma ada 1 tempat makan, makanannya kurang enak, dan mahal. Nasi goreng dengan hiasan telor ceplok, sate 2 tusuk, kerupuk udang, dan sayuran dibandrol 20 ribu, di menu yang tertulis bakmi ayam juga 20 ribu, walaupun isinya tak lain adalah mie sedap dengan asesoris yang sama dengan nasi goreng. Di sebelahnya ada wastafel yang kalau mau pake musti bayar 5 ribu (di Gambir sudah bisa mandi 2 kali plus pipis sekali).

Hari ini, kami menyebut diri kami: BACKPACKER. Ahahahaha….

29 Jan 08
Hari kedua kami sudah berencana bermain Water Sport di Tanjong Benoa dan sudah memesan ke Bli Komang. Jam 9 pagi (seperti yang kami minta) kami sudah dijemput Batara Watersport ke Tanjong Benoa yang ditempuh sekitar 30 menit. Kalau mesen di Bli Komang bisa antar jemput gratis untuk domisili Kuta, Seminyak, Legian dan sekitarnya. Sampai di sana kami langsung dipameri foto-foto bermacam permainan air. Saya yang dari Jakarta mupeng ber-parasailing terpaksa harus kecewa karena infonya angin hari itu kurang mendukung, kalau mau parasailing mendaratnya di batu koral, buset!! Akhirnya kami memilih 3 jenis: diving (200 ribu), banana boat (50 ribu), flying fish (120 ribu, ps. udah mahal, ga seru blas. mending jangan pilih yang ini), kalau mau direkam dan difoto di dalam air bayar per CDnya 250 ribu. Oh iya, ini harga dari Bli Komang lho ya, kalau langsung ke watersportnya bisa lebih mahal, thanks bli. Yang paling berkesan adalah diving, awalnya kita dibriefing tentang pernafasan dan apa yang harus dilakukan jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, seperti telinga yang pasti terasa sakit karena perbedaan tekanan udara, air yang masuk ke masker, dll. Saran saya, jangan mudah panik, ketenangan sangat diperlukan di sini. Kami masuk ke air, melihat terumbu karang, dan kami dibekali roti untuk kasih makan ikan. Durasinya hanya sekitar 25 menit, kata guidenya kalau pemula waktunya segitu, padahal kan masih pengeeeeennnnn…..

Hal yang cukup menyulitkan di sini adalah masalah perut dan lidah. Di daerah Poppies Lane memang banyak tempat makan, tapi makanan bule semua. Lha wong saya ini perutnya perut agraris, ya belum makan namanya kalau belum makan nasi. Ujung-ujungnya ya Mc D atau Pizza Hut di dekat pantai. Tapi siang ini setiba dari Tanjong Benoa sekitar pukul 13.30 dalam keadaan tepar, hitam, asin dan berpasir, setelah mandi dalam keadaan kelaparan, kami jalan mencari makanan yang manusiawi dimakan orang jawa. Dan akhirnya, di Gg Ronta, kami menemukan masakan Indonesia, bahkan bentuknya mirip-mirip warteg. Saya memesan nasi setengah, buncis tumis, telur sambel merah, bakwan jagung, dan sambel goreng kentang. Inilah makanan terenak semenjak tiba di sini.

Kemudian jalan lagi sedikit ke arah Legian, eh nemu Monumen Bom Bali, poto2 dulu deh walaupun matahari lagi pamer panasnya. Kemudian balik lagi ke Hotel untuk istirahat. Sorenya jalan-jalan ke Pantai Kuta yang jauuuh kerenan Dreamland. Sayang baru 15 menit eh turun hujan, ngiyuplah kita.

30 Jan 08
Kami menemukan paket perjalanan dari salah satu brosur yang kami comot di bandara. Dengan 250 ribu per orang untuk 13 jam perjalanan, sudah termasuk mobil, bbm, sopir, guide, tiket masuk tempat wisata, makan siang dan makan malam. Dan jadilah hari itu kami berkeliling dari nonton Tari Barong di Batubulan, Celuk, Ubud, Tampaksiring, makan siang di Kintamani, Besakih, Sukawati (udah sore dah pada tutup), nonton Tari Kecak di Batubulan, dan diakhiri makan malam di Jimbaran.
Karena saya bayar paket dalam perjalanan ini, jadi saya tidak bisa beri info mengenai tarif tempat-tempat wisata tadi. Tapi saya pernah baca kalau masuk pura-pura tarifnya masih di bawah 10 ribu, yang mahal nonton tarinya, sekitar 50 ribu, katanya sih.

Berhubung saya lebih suka pada alam dibanding buatan manusia, maka perjalanan kali terasa cukup membosankan bagi saya. Ubud, saya bukan penggemar lukisan dan ga ngerti lukisan, jadi cuma muter-muter sambil mendangarkan bli-nya nerangin jenis lukisan tanpa bisa menyembunyikan kebosanan saya. Pura, hmm saya lebih memilih menggosongkan kulit saya yang hitam di Dreamland. Dan, saya yang rada susah diatur ini kurang suka dengan kehadiran seorang guide. Aduh, maaf beribu maaf. Tapi, saya agak terganggu ketika menikmati apa yang bisa saya lihat tiba-tiba harus memperhatikan keterangan dan penjelasan ini itu yang sebenarnya saya tidak ingin tahu (mau ga didengerin juga ga enak), pose berfoto saya jadi kurang maksimal (gubrak!) karena serasa ada yang mengamati, misalnya tidak enaknya saya ketika ingin berpose membentuk formasi jutsu di tengah 2 buah patung di sebuah pura ketika sang guide mengawasi dengan tatapan yang saya rasa kurang enak (saya juga sih yang salah), dan saya kurang suka dengan jadwal-jadwal yang seolah selalu terburu-buru, yah inilah tidak enaknya ikut paket tour. Enaknya, kita tinggal duduk atau tertidur di mobil, sampai deh tanpa harus nyasar ehehehe.

Bagian yang saya suka adalah ketika makan siang di Kintamani yang dingin, memandang gunung dan danau dari tempat kami makan, kemudian ketika nonton tari orang kesurupan (lupa nama tarinya) yang membuat cewek-cewek Korea di depan saya heboh jejeritan, dan terakhir, makan malam di Jimbaran.

Oh iya, kalau ke Besakih sebaiknya bawa kain sendiri, adat masuk ke pura berbeda-beda tergantung puranya. Kalau ke Tampaksiring, pake celana panjang diperbolehkan masuk. Jika anda memakai celana pendek, rok pendek atau bawahan pendek apapun, ada peminjaman kain dan selendang untuk masuk. Lain halnya di Besakih, pakai celana ga boleh masuk, kemudian tidak ada peminjaman kain seperti halnya di Tampaksiring. Sebagai gantinya banyak orang yang berjualan atau menyewakan kain dengan tarif cukup mahal. Saya waktu itu ditawari kain yang di Sukawati bisa seharga 10 ribu, di sini 30 ribu sedangkan sewa 15 ribu.

31 Jan 08
Pagi sekitar jam 06.30 jalan ke pantai Kuta. Ternyata sudah banyak orang meskipun tidak seramai sore kemarin. Ada yang mancing, ada yang mandiin anjing, ada bule jogging, ada yang mengajak bayinya jalan-jalan, dua cewek Korea dengan bra dan rok panjang saling memoto. Saya, moto-moto sambil main air, kemudian jalan dan foto narsis di sepanjang pantai sambil sarapan burger Mc D 5 ribuan ehehehe.

Jam 11 siang, kami check out dan sudah memesan mobil untuk ke tanah Lot selama 5 jam dengan biaya 170 ribu. Perjalanan ditempuh kira-kira 45 menit, tapi menurut Pak Ketut, driver kami waktu itu, bisa lebih lama jika sore hari karena macet. Jalan akses ke Tanah Lot yang ga begitu lebar itu akan penuh dengan kendaraan orang-orang yang memang berniat ke Tanah Lot yang ingin melihat sunset, dan orang-orang pulang kerja yang sebagian besar menggunakan jalan tersebut. Jadi jika tidak berniat melihat sunset, sebaiknya perginya pagi atau siang saja. Tiket masuk ke sini 7500 untuk turis domestik dan 10 ribu untuk turis asing, sedangkan untuk mobil cukup 5 ribu.
Tanah Lot, pura yang dibangun di atas tanah yang menyembul di tengah laut. Kami tidak menyeberang ke Pura karena air laut cukup tinggi sementara kami sedang malas untuk berbasah-basah karena sudah mau pulang, jadinya menatap dari kejauhan saja. Di tempat ini juga terdapat ular yang katanya ular suci, cuma harus bayar lagi untuk melihatnya. Saya sih ogah membayar untuk nantinya bergidik bahkan menjerit.
Di sini juga ada pasar kesenian semacam Sukawati, tapi harganya sedikit lebih mahal tentunya. Pinter-pinter nawar aja. Oh iya, makanan di sini lebih bersahabat dengan lidah dan dompet.

Sebelum pulang kami sempatkan ke Joger, cukup lama kami muter-muter di sana dan akhirnya cabut ke bandara untuk kembali ke Jakarta penerbangan pukul 18.50.

ps. beberapa foto ada di sini

Semoga bermanfaat ;)

4 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://justrhe.blogsome.com/2008/02/13/bali-28-31-januari-2008/trackback/

  1. waduchhh hebat…dah mepet kebali..naek apa ren??ngeteng jadi pedagang asongan yah???wakakkakakakakkaka :D :D:D:D:D *peace*

    Comment by bondy — February14, 2008 @ 9:08 pm

  2. he he he …
    semakin terobsesi touring bali lombok …

    **kira2 kalo nunggu kantor yang ngadain tour bali-lombok ato singapore-KL perlu berapa lama ya ???

    Comment by whk — February15, 2008 @ 7:45 pm

  3. @bondy: ngasong? enak aja!! kita ngamen tau :p
    @whk: hmmm… kantornya mana dulu niy? :p udahlah jangan menggantungkan harapan pada yang lain, kalau pengen nabung aja trus berangkat deh. setuju? ;)

    Comment by justrhe — February17, 2008 @ 10:16 am

  4. Visit: http://www.tanahlot.net

    Comment by ayumi — May24, 2008 @ 2:10 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>