For you, a thousand times over
The Kite Runner, novel tahun 2003 karya seorang penulis kelahiran Afghanistan Khaled Hosseini. Novel bersetting Kabul, Afghanistan (tempat kelahiran Khaled Hosseini) tahun ‘70 an ini berisi tentang persahabatan, hubungan Ayah dan anak, loyalitas, keberanian, pengorbanan, dengan disertai gambaran kondisi penduduk negara itu atas perang yang terjadi serta penguasaan Taliban atasnya. Kisahnya bikin mewek, tapi bukan karena kelembekan tokoh di dalamnya tapi justru karena kekuatannya. Ada beberapa bagian yang sepertinya kisah klasik, pasaran dan biasa, tapi mungkin karena cara penulisan Khaled yang membuatnya menghasilkan sensasi yang tak biasa ketika membacanya. Misalnya ketika ternyata Hassan adalah…, atau ketika Ibu Hassan…
International best seller, diterjemahkan dalam 42 bahasa, mendapat penghargaan dari UNHCR, mungkin itulah yang beberapa alasan Paramount membeli hak buku tersebut untuk diangkat dalam layar lebar dengan memproduksi filmnya. Setelah mengalami penundaan launching film karena kekhawatiran atas keselamatan aktor-aktor cilik di dalamnya, akhirnya pada Desember 2007 kemarin The Kite Runner movie dilaunching, meskipun beberapa waktu kemudian keempat aktor ciliknya diungsikan dari Afghanistan.
Saya rasa ada beban tersendiri bagi produser film yang mengadaptasi dari buku, terutama best seller yang dibaca jutaan manusia di dunia. Jutaan otak ini pasti memiliki imajinasi dan persepsi masing-masing dari buku tadi. Nah, film yang mengadaptasinya harus bisa membangun karakter, setting, alur dan plot dalam 3 dimensi yang mewakili imajinasi mayoritas otak tadi.
Saya sudah menonton filmnya beberapa hari yang lalu. Terima kasih untuk teman saya yang saya rampok bandwidthnya untuk mendownload film ini, percayalah kau tidak akan menyesal setelah menyaksikan filmnya, sayang suaranya kecil banget. Dan saya rasa Marc Forster dan krunya sudah bekerja keras untuk membuat film berdurasi sekitar 125 menit ini. Meskipun ada beberapa bagian yang dihilangkan (itu pasti) tapi film ini sudah mampu mewakili apa yang bergerak di otak saya ketika membaca novel ini sekitar 2 tahun yang lalu, kecuali pada penataan rumah Afghanistan tahun 1978 yang saya pikir tidak semodern di film itu.
Aktor-aktor cilik pemeran Amir, Hassan, Sohrab dan Assef semuanya adalah aktor baru, jadi ini adalah debut mereka, tapi mereka sudah menampilkan karakter yang kuat atas tokoh yang mereka perankan. Saya suka Ahmad Khan Mahmidzada yang memerankan Hassan kecil, wajahnya bloon bloon lucu, pengen rasanya menciumnya. Hal yang membuat sangat miris adalah adegan di panti asuhan yang mana pemandangan anak-anak kecil berlari dengan satu kali dibantu kruk, anak kecil dengan lengan kemeja terkulai karena tak ada lengan di dalamnya, seakan menjadi hal yang biasa. Kemudian pengasuh panti asuhan dengan dilemanya harus menyerahkan 1 anak tiap 1 bulan pada Taliban dan membiarkan Allah menjadi hakimnya.
Sayangnya, emosinya sedikit kurang dibanding ketika saya membaca novelnya. Saya nggak bilang filmnya jelek, tapi lebih bagus novelnya. Jadi sebelum nonton film ini saya sarankan baca novelnya dulu. Karena bisa jadi film ini terkesan biasa tanpa membaca novelnya, bisa jadi kesan yang terbaca atas sikap tokohnya tidak terwakili, bisa jadi sikap Amir yang sebenarnya menderita karena rasa bersalah tertangkap sebagai sikap anak nakal yang menyebalkan.
Dari 2 novel Khaled Hosseini, semuanya happy ending, meskipun banyak kehilangan sebelumnya. Kisah The Kite Runner diakhiri dengan Amir yang berlari mengejar layang-layang untuk Sohrab dan mengatakan kalimat yang dulunya selalu diucapkan Hassan, ayah Sohrab, pada Amir, “For you, a thousand times over”.
Saya tidak akan membuat sinopsis film ini, sebaiknya langsung ikuti sendiri kisahnya dan termehe mehe selama 2 jam. Saya berani menjamin yang nonton pasti tidak akan kecewa (kalau kecewa boleh jitak saya deh hehehe). Kalian yang sudah baca novelnya, buruan nonton. Yang belum baca novelnya, buruan nonton (juga) tapi baca dulu novelnya. Meskipun bukan puyer, tapi saya memberi novel dan buku ini bintang tujuh ahahaha.
Oh iya, saya sedang menunggu novel kedua Khaled Hosseini, A Thousand Splendid Suns, difilmkan juga



AAC sudah tayang di 3gxxx XXI studio 1, untuk pemesanan tiket tekan “nonton”"AAC” kirim ke 6330
Comment by whk — February21, 2008 @ 3:16 pm
Nice post
Comment by Komentator Gadungan — February21, 2008 @ 10:38 pm
@whk: mauuuuuuu
@Komentator Gadungan: thank you
Comment by justrhe — February23, 2008 @ 5:08 pm
http://www.indowebster.com/Ayat_Ayat_Cinta_01.html
http://www.indowebster.com/Ayat_Ayat_Cinta_02.html
http://www.indowebster.com/Ayat_Ayat_Cinta_03.html
dapat dari Acong.
Comment by Komentator Gadungan — February23, 2008 @ 8:01 pm
ini ttg apa sie??
Tlg rangkumin yah bu..ato ngga dongengin aja kekkekekekekekek
Comment by bondy — February25, 2008 @ 8:12 pm
rangkum? emang pelajaran bahasa Indonesia?
tonton aja sendiri, di situ ada kok bon, tanya iwan atau whk deh
Comment by justrhe — February26, 2008 @ 7:45 am
Saw Perfume recently, well done in general, good character building, the story moves along at a good pace… it says a lot about human nature as well.
Comment by patrick — February28, 2008 @ 1:17 am