justrhe[dot]blogsome[dot]com

March20, 2008

Chenese Food

Filed under: entry ga penting

cf

Maksudnya? Makanan kenes? Makanan sinis?

Ini saya temukan di daftar menu warung tenda favorit saya sejak pindah ke Depok, lokasinya di Jl. Margonda dekat Gg. Pinang depan The Patch seberang Gundar (nah lho). Masakannya asli mak nyoss, terutama cap cay nya, mantabs. Tapi musti sabar soalnya masaknya lumayan lama. Lemotnya, setelah sekian lama, saya baru menemukan tulisan di daftar menu itu tadi malam hehehe. Ya iya lah, kita kan lebih perhatian membaca deretan daftar makanan ketimbang tulisan atasnya :p
Eh, tapi tulisan di luarnya Chinese Food lho

March12, 2008

Setelah mengkonsumsi roti dan obat kadaluarsa…

Filed under: me myself & I
Tenang… tenang… saya tidak sedang melakukan usaha percobaan bunuh diri kok. Tongseng ayam Jl. Kapuk masih terlalu enak untuk ditinggal mati (lagi ngiler tongseng).

Jadi begini kronologisnya…
Sabtu malam tanggal 8 Maret kemarin saya nitip ke ario Sari Roti Coklat, “Yo, nitip Sari Roti yang coklat ya!”, begitu kira-kira teriakan saya. Jadilah Ario membawakan kantong plastik berisi 2 buah Sari Roti Coklat.

Minggu pagi, tanggal 9 Maret saya ambil salah satu roti, saya cek tanggal kadaluarsanya masih tanggal 11 Maret. Aman! Makan dengan lahap sementara 1 roti lagi saya masukkan ke dalam tas.

Senin pagi, 10 Maret saya makan roti yang tinggal 1 kemarin untuk sarapan sebelum meeting. Bentuknya sudah penyet di dalam tas kegencet buku, tapi rasanya tak berubah. Kebetulan waktu itu selera makan sedang kurang bagus jadi roti masih tinggal 1/3 bagian, saya masukkan ke dalam tas.
Siang, masih di ruang meeting, saya merasa agak pusing dan makin lama rasa pusing itu makin bertambah hebat. Klimaksnya sore hari, saya sudah berada di kosan. Kondisi masih sepi, belum pada pulang, sementara di luar hujan deras dan petir sambar-menyambar. Saya mencoba memejamkan mata, tidur, berharap rasa sakit di kepala itu menghilang, karena saya memang tak suka minum obat, sayangnya rasa sakit tak mau pergi juga. Akhirnya saya putus asa, saya cari obat sakit kepala di kotak obat, seingat saya, saya masih punya Panadol Extra di situ. Nemu, 2 biji. Saya baca tanggal kadaluarsanya, MAR…, bagian tahunnya kepotong. Dari 1 pak obat, saya memang sengaja memotong-motong untuk disebar di tas, dompet, dll. Beginilah jadinya, waktu kadaluarsanya ga lengkap. Saya beli obat itu sudah cukup lama, tahun 2007, di apotik Setiabudi, wong saya kosnya masih di Setiabudi. Saya asumsikan tahunnya adalah tahun 2010 karena biasanya jangka waktu obat lebih lama. Catat! Waktu itu di luar hujan deras (ingat kan?), anak kosan belum pada balik, dan saya sudah tidak bisa menahan sakit kepala yang saya derita. Dengan gambling dan bismillah, akhirnya saya telan 1 butir. Glek! Kemudian kembali tidur dan baru bangun ketika mendengar ponsel berdengung, saya lupa ada janji dengan seorang teman. Waktu di ponsel saya menunjukkan pukul 18.50, untungnya waktu itu saya sedang cuti shalat. Pusing sudah berkurang meskipun masih ada sedikit rasa sakit, tapi sudah memungkinkan untuk jalan-jalan ke luar. Pulangnya saya langsung tidur lagi.

Selasa pagi, 11 Maret, saya bangun dengan segar bugar. Ketika beres-beres kamar plus isi tas, saya temukan roti yang masih 1/3 bagian itu. Di situlah, saya baru sadar kalau roti itu kadaluarsa tanggal 9 Maret 08, sementara tanggal 10 kemarin saya masih makan tu roti. Hmmm… saya makan roti kadaluarsa. Mungkin ini penjelasan sakit kepala saya kemarin. Lha wong satunya tanggal kadaluarsanya tanggal 11, ya saya asumsikan satunya lagi sama, tanggal 11 juga jadi tanggal 10 maih boleh dimakan.
Malamnya, sepulang kuliah, ketika sedang mencari-cari flash disk di dompet HP, saya temukan 1 biji Panadol Extra, ternyata sambungan dari 2 biji Panadol tanpa tahun itu. Dan tebak di situ tulisannya apa? …08. Jadi jika digabungkan, EXP. MAR 08. Wakakakakaka… suer waktu itu saya tertawa. Hmmm… dalam sehari saya tubuh saya mencerna dan mengasup 2 benda kadaluarsa. Bodooooohhhhhhh….

Alhamdulillah, sampai sekarang saya baik-baik saja, rupanya Allah masih mengijinkan saya hidup untuk bertobat. Saya ga sampai mati konyol karena kebodohan melihat tanggal kadaluarsa, meskipun sedikit amnesia akibat efek samping Panadol. Sakit kepala? Sudah lupa tuh!
Oh iya, ketika tidur, saya sempat merasakan nafas saya berhenti beberapa detik. Ga tau beneran atau imajinasi saya saja ya hahahahahaha….

March9, 2008

Saya jatuh cinta lagi

Filed under: me myself & I
Dari dulu, teman saya selalu beranggapan kalau saya mempunyai selera yang aneh terhadap pria. Kalau saya bilang sih, engga ah, cuma saya memang melihat dari sisi yang berbeda saja. Alah.

Jaman SMA dulu, ketika mereka gandrung sama Bertrand Antolin, Indra L Bruggman atau Ari Wibowo, saya malah menggilai Dik Doank. Alasannya, orangnya lucu, mukanya charming, ga neko-neko, ga sok ganteng, dan yang pasti dia baik bo. Baiiiiik banget dan peduli sama anak-anak. Rumahnya unik, luas dan ada sawahnya, trus dia bikin lapangan bola plus masjid buat anak-anak sekitar rumahnya. Pokoknya cintaaaaaa….. hahahahaha.

Jaman kuliah, dulu ada seorang cowok, dia salah satu tim robot yang abis menang di Jepang. Orangnya slengekan tapi pinternya ga ketulungan, bertahun-tahun jadi tumpuan (caelah) tim robot kami (wakakaka sepertinya rahasia mulai terbuka). Mulanya biasa sajaaaa… (nyanyi nih). Tapi kemudian pada suatu malam yang mana dia sedang mencoba robot karyanya, saya dan RK Team diijinkan memegang remote control dan menjalankan tu robot. Saya memperlakukan si remote control seperti menggendong bayi berusia 2 minggu, super hati-hati. Entah kenapa, tiba-tiba si robot ngadat (tapi bukan salah kami lho), nah si pinter langsung mengambil obeng dan mengutak-atik selama kurang dari 3 menit. Kemudian saya memberikan si remote control padanya untuk mencoba robot, dan voila! Dia jalan. Dia bertanya apa kami mau mencoba lagi, kami menggeleng. Dan tebak apa yang dia lakukan, dia membuang remote control kemudian pergi. Saya ternganga. Sejak itu saya jatuh cinta padanya, hanya karena cara dia membuang remote control yang saya perlakukan seperti bayi hehehehe. Sekarang dia sudah menikah, denger-denger yang menjodohkan adalah mantan direktur PENS, mantan rektor ITS yang sekarang menjabat Menkominfo. Hebad.

Saya pernah jatuh cinta pada pengamen bertopi Eiger di bis Surabaya-Malang ketika pergi ke Batu bersama RK Team. Saya masih ingat lagu yang dinyanyikan… berjalan di tepi pantai… tertiup angin berhembus…

Saya pernah jatuh cinta sama pengarang 5 cm, Donny Dhirgantoro, setelah membaca bukunya. Meskipun ada kalimat yang membuat saya ilfil, “Dia kemudian menyapukan blast on ke pipinya”. Saya meng-add ID Y!Mnya dan baru diapprove 2 tahun kemudian ahahahahaha

Saya pernah jatuh cinta pada admin tktq.net karena pertanyaan yang dia bikin. Kesannya cuerdaaaasss dan kreatiiiifff banget.

Dan Brown, saya sangat menyukai bukunya. Awalnya saya kira orangnya sudah tua, botak rambut putih dan berjenggot, eh ga taunya guantengg. Tambah cintaaaa….

Dan sekarang, pada tau Pandji Pragiwaksono kan? Kalau belum tau, dia penyiar Hard Rock FM, saya suka mendengarnya siaran pagi hari di GMHR. Akhir-akhir ini dia jadi presenter di TV juga, yang acara Hole in the Wall atau apa itu namanya yang orang suruh nglewatin tembok bolong itu. Beberapa hari yang lalu, di radio, Hard Rock FM tentunya, saya mendengar dia bakal mengeluarkan album dan sempat diputar salah satu lagunya yang feat Tompi (Tompiiiiiiiii!!!!!!), saya langsung suka lagunya secara ada Tompi gitu lho. Sampai tadi malam, saya menemukan ini, whaaaaa ternyata liriknya keren-keren apalagi yang Mulanya Biasa Saja (lucu hahaha), Kembali Tertawa (romantis) Ghost Song (pedes), Dulu Dia Bukan Siapa-Siapa (dalem), dan semua dan semua. Jadi ga sabar nunggu albumnya keluar. Pandjiiiiii…. sepertinya aku bakal lebih rajin mendengarkanmu di pagi hari kekekekeke… Aku jatuh cinta padamu setelah membaca lirik lagumu ahahahahaha…

Kamu kamu, yang berniat memberiku sesuatu (ngarep), CD Provocative Proactive ini bisa dijadikan bahan pertimbangan ;)

ps. bo, saya cuma menghiperbola kok ketika bilang jatuh cinta, hanya ketertarikan dan kekaguman berlebih xixixixi… kalau jatuh cinta beneran sih ga sebanyak itu dan tak ada yang kusebut di situ wek :p

March8, 2008

Sudah siap jadi Juno atau punya anak seperti Juno?

Beberapa hari yang lalu saya nonton Juno. Film tentang seorang gadis 16 tahun bernama Juno MacGuff (Ellen Page) yang pada suatu hari mendapati test pack yang berisi urine-nya menunjukkan tanda + (positif). Ayah dari si calon bayi adalah sahabatnya sendiri, Paulie Bleeker (Michael Cera), yang mukanya, oh so, 11 12 sama Mr. Bean. Juno, yang masih SMP itu, sempat mencoba gantung diri tapi nggak jadi, pernah pula mendaftarkan namanya ke sebuah klinik aborsi, tapi akhirnya berlari keluar masih dalam keadaan bernyawa dua. Akhirnya dia memutuskan untuk melahirkan bayi itu dan mencari orang tua asuh yang bersedia mengadopsi bayi dalam perutnya.

Pikiran saya kemudian meloncat ke sinetron-sinetron Indonesia yang bertemakan gadis hamil di luar nikah. Kenapa sinetron-sinetron? Ya karena sinetron macam gini banyak, jamak. Dan tidak mungkin saya saya menuliskannya sebagai sinetrons, cukup Chincha Lowra yang membuat JS Badudu ngelus dada. Apa hal pertama yang membuat pikiran saya tiba-tiba terlempar ke sini? Judul. Ya, judulnya nama orang, nama si hamil. Bedanya Juno itu film, yang durasinya sekitar 100-110 menit, sementara sinetron-sinetron ini diputar tiap hari selama 1 jam (plus jeda iklan tentunya), sampai berbulan-bulan belum tamat juga. Menurut analisa saya, yang lebih banyak negatif dari pada positifnya, mereka memilih judul nama agar mudah mengglambyarkan tema. Ceritanya mau ngalor ngidul, dari drama ke horor, dari komedi ke action, selama masih ada tokoh dengan nama seperti judul, cerita ga lari dari tema toh?

Oke balik ke masalah sinetron-sinetron hamil tadi. Judul beda, pemain beda, tapi tema awalnya sama, hamil. Cerita seorang gadis, usia sekitar akhir belasan atau awal 20, yang dihamili pacarnya tapi kemudian si pacar meninggalkannya untuk wanita lain yang judes bersasak tinggi tapi tajir. Si hamil menangis-nangis memohon dinikahi sementara si penghamili ga mau tau dan malah memilih dinikahi wanita lain. Si hamil kemudian menemukan pria lain yang ganteng, pinter, baik hati, suka menabung, rajin beramal, blablabla pokoknya lengkap deh dasa dharma pramuka. Dan yang pasti, pria ini mencintai si hamil dan anaknya (yang sudah lahir) sepenuh hati. And then they live happily ever after. Hal pertama yang saya tangkap, cerita yang menjual mimpi.

Oh iya, saya juga menangkap karakter yang terlalu hitam dan putih di sinetron-sinetron tersebut, ga ada abu-abu. Yang jahat sudah sejahat Firaun, sementara yang baik terlampau baik sehingga kesan yang saya dapat, orang baik itu bodoh. Gampang dikerjai, gampang difitnah, pasrah disiksa, dll.

Kemudian, beberapa hari yang lalu (juga), sebelum saya nonton Juno, saya sempat membaca headline sebuah surat kabar (saya lupa namanya) sedang dibaca seseorang, yang bunyinya kira-kira “Marak Video Porno Biru-Putih, Akibat Sinetron ABG”. Saya kurang tahu sinetron ABG yang dimaksud karena saya kurang gaul masalah dunia persinetronan Indonesia, tetapi saya tahu maksud dari “Biru-Putih” di situ adalah lambang seragam SMP. Kita asumsikan sinetron yang dimaksud adalah sinetron-sinetron hamil yang saya bicarakan tadi, meskipun tokoh di situ sudah bukan anak SMP lagi, atau coba ingat-ingat lagi sinetron jaman dulu yang mana Agnes Monica dan Sahrul Gunawan jadi pemeran utama. Sip anda benar, Pernikahan Dini. Kalau melihat jam tayang sinetron-sinetron tadi, yang mayoritas di bawah jam 10 malam (bo, jam malam anak sekarang jam berapa sih? atau pertanyaan saya basi? anak sekarang ga ada jam malam), masuk akal juga sinetron-sinetron tadi punya andil terhadap maraknya video porno tersebut. Secara tidak langsung tayangan televisi bisa dianggap sebagai suri tauladan Cruise bagi pemirsanya.

Satu hal yang cukup mencuri perhatian saya di film Juno adalah ketika Juno mengatakan pada Ayahnya dan Ibu tirinya bahwa dia sedang hamil dan sudah menemukan orang tua yang nantinya akan merawat bayinya. Reaksi mereka? Si Ayah tidak terkena serangan jantung mendadak, si Ibu tidak pingsan, mereka seakan berkata “Oh, hamil. Ya udah mau diapain terserah”. Mereka sepenuhnya mendukung keputusan sang anak. Dan lagi, reaksi Juno ketika pertama kali mengetahui dirinya hamil, dia tidak spontan menangis kemudian menelpon si cowok untuk berkata “Aku hamil… nikahi aku…”. Si Juno juga lantas dikeluarkan dari sekolah atau terkucil dari pergaulan. Nah, kalau hal seperti tadi terjadi di Indonesia, apa reaksi yang timbul?

Jadi, apakah kita sudah siap dengan tayangan hamil-hamilan tadi? Saya sih tidak menyalahkan sepenuhnya pada produser yang memproduksi sinetron-sinetron tadi. Mereka produsen yang membuat produk sesuai selera konsumen dengan mengeluarkan satu produk “percobaan” dulu untuk melihat reaksi konsumen. Kalau konsumen suka ya jalan terus, kalau ternyata konsumen tidak suka ya stop atau cari alternatif produk lain. Jadi, selama sinetron-sinetron tadi ratingnya melejit, artinya respon konsumen positif, dan menggeser sinetron yang original macam Jomblo (suer aku masih ga ikhlas dan ga habis pikir), ya mereka terus memproduksi produk semacam, dan stasiun tv juga memilih mengeliminasi sinetron macam Jomblo yang katanya ratingnya anjlok tadi. Selama orang-orang masih suka film horor yang membuat jejeritan sambil berharap si pacar langsung memeluk, mereka (baca: produsen) bakal terus membuat film yang memfitnah hantu. Kok memfitnah? Lha iya, setau saya tidak pernah ada hantu yang membunuh manusia, atau hantu yang lancang keluar dari wilayahnya macam suster ngesot yang sambang ke rumah orang.

Semua tergantung pada pilihan konsumen juga. Kalau reaksinya masih stroke mendadak ketika mendengar gadisnya hamil, ya pilihkan program tayangan yang lain. Atau reaksi klasik setumpuk piring jatuh dari tangan ketika si anak bilang “Ma, saya hamil”, ya jangan ngomel ketika channel tv diganti dari sinetron ke pertandingan bola.

Btw, bukankah kita punya badan yang membaurekso acara pertelevisian? Kalau iklan rokok dilarang tayang sebelum jam 9 malam (saya mulai sok tau), kenapa sinetron hamil boleh tayang jam 7 malam? Apa artinya kita ga boleh merokok tapi boleh hamil sebelum nikah? Atau, karena program yang ditawarkan isinya itu-itu saja jadi susah mengatur jadwal? Atau, karena sinetron tadi tidak menampilkan bentuk pornografi dan pornoaksi sehingga masih layak tayang? Bagaimana dengan nilai moral? Seks pranikah apakah sudah “benar-benar” dianggap wajar di sini?

Oh iya, entah bagaimana, seks antara Juno dan Paulie, kesan yang saya tangkap di situ bukan nafsu, tapi semacam eksperimen atas rasa ingin tahu anak-anak.

March1, 2008

Tentang si Master Mister Ahmad Dhani

Filed under: entry ga penting
Enggak kok, saya tidak sedang akan membicarakan tentang seteru-seteruan Mas Dhani dengan mbak Maia. Saya cuma mau ngomongin si Makhluk Tuhan Paling Seksi, Mulan Jameela. Nah lo.
Tergelitik gothic atas jeritan hati mbak Kirana Kuswardhani di sini,saya cuma pengen bilang, Mba, itu kan lagunya Dhani ehehehehe. So what kalo Dhani?

Coba buka-buka lagi deh folder Music lama di komputer atau laptop masing-masing, masih ingat lagu Sedang Ingin Bercinta? Saya rasa Makhluk Tuhan Paling Seksi adalah kelanjutan lagu tersebut, sebelumnya masih pengen doang, nah sekarang kesampean ahahahaha. Dhani oh Dhani…

Setiap ada kamu.. mengapa jantung ini
Berdetak lebih kencang..seperti genderang mau perang
Setiap ada kamu..mengapa darah ini mengalir lebih cepat
Dari ujung kaki ke ujung kepala
Setiap ada kamu..otak ku berpikir
Bagaimana caranya untuk berdua bersama kamu
Aku sedang ingin bercinta karena
Mungkin ada kamu… aku ingin…

Bo, itu kan lagu tentang orang pengen ML, tapi toh sampai sekarang baik-baik saja. Ga dicekal kayak Yang Kumau-nya Melly, atau cover Tempo beberapa saat yang lalu setelah wafatnya “Hokage Kedua”. Yah, oke itu masalah agama, memang ekstrim. Mari letakkan lagu ML ini ke masalah moral, tapi dia ga diserbu massa sampai merusak gedung sambil membakar majalah dengan Andara Early tersenyum di sampulnya. Trus kenapa?

Bisa jadi karena kepiawaian si Master Mister ini memilih kata sehingga lagu vulgar terimplisit menjadi sesuatu yang wajar di telinga semua kalangan, termasuk anak-anak. Mungkin juga karena nama besar si Mas (Master Mister Mastur Mistar gitu loh) jadinya sisi negatifnya tak tersentuh massa. “Apapun lagumu, pokoknya aku padamu”. Atau, apa karena badan sensor moral yang kurang peka? Oh iya saya lupa, kita cuma punya badan sensor film ya?

Btw, bukankah KPAI juga bisa cawe-cawe menyikapi masalah seperti ini? (hai Kak Seto)

Jadi, si Master Mister yang kelewat hebad atau badan sensor yang lewat aja?