Sudah siap jadi Juno atau punya anak seperti Juno?
Pikiran saya kemudian meloncat ke sinetron-sinetron Indonesia yang bertemakan gadis hamil di luar nikah. Kenapa sinetron-sinetron? Ya karena sinetron macam gini banyak, jamak. Dan tidak mungkin saya saya menuliskannya sebagai sinetrons, cukup Chincha Lowra yang membuat JS Badudu ngelus dada. Apa hal pertama yang membuat pikiran saya tiba-tiba terlempar ke sini? Judul. Ya, judulnya nama orang, nama si hamil. Bedanya Juno itu film, yang durasinya sekitar 100-110 menit, sementara sinetron-sinetron ini diputar tiap hari selama 1 jam (plus jeda iklan tentunya), sampai berbulan-bulan belum tamat juga. Menurut analisa saya, yang lebih banyak negatif dari pada positifnya, mereka memilih judul nama agar mudah mengglambyarkan tema. Ceritanya mau ngalor ngidul, dari drama ke horor, dari komedi ke action, selama masih ada tokoh dengan nama seperti judul, cerita ga lari dari tema toh?
Oke balik ke masalah sinetron-sinetron hamil tadi. Judul beda, pemain beda, tapi tema awalnya sama, hamil. Cerita seorang gadis, usia sekitar akhir belasan atau awal 20, yang dihamili pacarnya tapi kemudian si pacar meninggalkannya untuk wanita lain yang judes bersasak tinggi tapi tajir. Si hamil menangis-nangis memohon dinikahi sementara si penghamili ga mau tau dan malah memilih dinikahi wanita lain. Si hamil kemudian menemukan pria lain yang ganteng, pinter, baik hati, suka menabung, rajin beramal, blablabla pokoknya lengkap deh dasa dharma pramuka. Dan yang pasti, pria ini mencintai si hamil dan anaknya (yang sudah lahir) sepenuh hati. And then they live happily ever after. Hal pertama yang saya tangkap, cerita yang menjual mimpi.
Oh iya, saya juga menangkap karakter yang terlalu hitam dan putih di sinetron-sinetron tersebut, ga ada abu-abu. Yang jahat sudah sejahat Firaun, sementara yang baik terlampau baik sehingga kesan yang saya dapat, orang baik itu bodoh. Gampang dikerjai, gampang difitnah, pasrah disiksa, dll.
Kemudian, beberapa hari yang lalu (juga), sebelum saya nonton Juno, saya sempat membaca headline sebuah surat kabar (saya lupa namanya) sedang dibaca seseorang, yang bunyinya kira-kira “Marak Video Porno Biru-Putih, Akibat Sinetron ABG”. Saya kurang tahu sinetron ABG yang dimaksud karena saya kurang gaul masalah dunia persinetronan Indonesia, tetapi saya tahu maksud dari “Biru-Putih” di situ adalah lambang seragam SMP. Kita asumsikan sinetron yang dimaksud adalah sinetron-sinetron hamil yang saya bicarakan tadi, meskipun tokoh di situ sudah bukan anak SMP lagi, atau coba ingat-ingat lagi sinetron jaman dulu yang mana Agnes Monica dan Sahrul Gunawan jadi pemeran utama. Sip anda benar, Pernikahan Dini. Kalau melihat jam tayang sinetron-sinetron tadi, yang mayoritas di bawah jam 10 malam (bo, jam malam anak sekarang jam berapa sih? atau pertanyaan saya basi? anak sekarang ga ada jam malam), masuk akal juga sinetron-sinetron tadi punya andil terhadap maraknya video porno tersebut. Secara tidak langsung tayangan televisi bisa dianggap sebagai suri tauladan Cruise bagi pemirsanya.
Satu hal yang cukup mencuri perhatian saya di film Juno adalah ketika Juno mengatakan pada Ayahnya dan Ibu tirinya bahwa dia sedang hamil dan sudah menemukan orang tua yang nantinya akan merawat bayinya. Reaksi mereka? Si Ayah tidak terkena serangan jantung mendadak, si Ibu tidak pingsan, mereka seakan berkata “Oh, hamil. Ya udah mau diapain terserah”. Mereka sepenuhnya mendukung keputusan sang anak. Dan lagi, reaksi Juno ketika pertama kali mengetahui dirinya hamil, dia tidak spontan menangis kemudian menelpon si cowok untuk berkata “Aku hamil… nikahi aku…”. Si Juno juga lantas dikeluarkan dari sekolah atau terkucil dari pergaulan. Nah, kalau hal seperti tadi terjadi di Indonesia, apa reaksi yang timbul?
Jadi, apakah kita sudah siap dengan tayangan hamil-hamilan tadi? Saya sih tidak menyalahkan sepenuhnya pada produser yang memproduksi sinetron-sinetron tadi. Mereka produsen yang membuat produk sesuai selera konsumen dengan mengeluarkan satu produk “percobaan” dulu untuk melihat reaksi konsumen. Kalau konsumen suka ya jalan terus, kalau ternyata konsumen tidak suka ya stop atau cari alternatif produk lain. Jadi, selama sinetron-sinetron tadi ratingnya melejit, artinya respon konsumen positif, dan menggeser sinetron yang original macam Jomblo (suer aku masih ga ikhlas dan ga habis pikir), ya mereka terus memproduksi produk semacam, dan stasiun tv juga memilih mengeliminasi sinetron macam Jomblo yang katanya ratingnya anjlok tadi. Selama orang-orang masih suka film horor yang membuat jejeritan sambil berharap si pacar langsung memeluk, mereka (baca: produsen) bakal terus membuat film yang memfitnah hantu. Kok memfitnah? Lha iya, setau saya tidak pernah ada hantu yang membunuh manusia, atau hantu yang lancang keluar dari wilayahnya macam suster ngesot yang sambang ke rumah orang.
Semua tergantung pada pilihan konsumen juga. Kalau reaksinya masih stroke mendadak ketika mendengar gadisnya hamil, ya pilihkan program tayangan yang lain. Atau reaksi klasik setumpuk piring jatuh dari tangan ketika si anak bilang “Ma, saya hamil”, ya jangan ngomel ketika channel tv diganti dari sinetron ke pertandingan bola.
Btw, bukankah kita punya badan yang membaurekso acara pertelevisian? Kalau iklan rokok dilarang tayang sebelum jam 9 malam (saya mulai sok tau), kenapa sinetron hamil boleh tayang jam 7 malam? Apa artinya kita ga boleh merokok tapi boleh hamil sebelum nikah? Atau, karena program yang ditawarkan isinya itu-itu saja jadi susah mengatur jadwal? Atau, karena sinetron tadi tidak menampilkan bentuk pornografi dan pornoaksi sehingga masih layak tayang? Bagaimana dengan nilai moral? Seks pranikah apakah sudah “benar-benar” dianggap wajar di sini?
Oh iya, entah bagaimana, seks antara Juno dan Paulie, kesan yang saya tangkap di situ bukan nafsu, tapi semacam eksperimen atas rasa ingin tahu anak-anak.


