justrhe[dot]blogsome[dot]com

May30, 2008

Rama dan Shinta

Kemarin saya menemukan poster yang sudah tidak utuh lagi di satu sudut halte. Bunyinya kira-kira, Pertunjukkan Sedratari Rama-dan Shinta, kisah cinta abadi… bla bla bla (sudah sobek-sobek jadi tak terbaca). Heu? Masih ada ya orang yang menganggap kisah mereka adalah kisah cinta abadi, sejati atau whateverlah. Yakin?

Oke, coba saya flashback lagi cerita Rama dan Shinta ini (CMIIW)

Pada jaman dahulu kala, ketika para pria menyanggul rambutnya dan memakai mahkota tetapi tidak memakai baju (kasarnya: telanjang dada), ada seorang raja yang sedang mencarikan calon suami untuk putrinya, Shinta. Shinta ini bukan bintang wanita biasa, bukan hanya lebih putih dari Shanti, tetapi dia adalah wanita tercantik di negeri itu, negeri kayangan. Maka, sang raja juga tidak mau putrinya mendapat pendamping yang estede. Jadilah, sang raja menggelar sebuah sayembara, barang siapa dapat merentangkan busur panah secara sempurna sebuah panah super yang disiapkan baginda raja, maka dialah yang berhak mempersunting sang putri, tak peduli tua atau muda, brewokan atau berkumis, kuku jari jempol atau kelingking yang dipanjangkan, penyanyi dangdut atau instruktur aerobik.

Berbondong-bondonglah warga kayangan menuju istana seperti rombongan demonstran kenaikan BBM menyerbu istana Merdeka. Satu persatu mereka mencoba merentangkan busur panah keramat itu. Sayangnya, tak ada yang cukup kuat untuk melakukannya, bahkan ada yang mengangkat panah pun tak mampu. Sampai, ada seorang pemuda tampan dan bertubuh layaknya model L-Men. Dengan percaya diri dia maju dan mengangkat panah tersebut, kemudian mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menarik tali busur panah. Wajah yang tampan itu perlahan berubah. Dahi mengkerut, alis menyatu, bibir mecucu bergetar, mirip orang ngeden. Dan, voila!! Dia berhasil merentangkan busur panah dengan sempurna. Dialah Rama. Singkat kata, Rama dan Shinta resmi menjadi suami istri.

-end of season #1-

Pada suatu hari, Rama dan Shinta pergi ke sebuah hutan, dengan ditemani adik Rama, Laksmana. Tiba-tiba, Shinta melihat ada seekor Kijang Emas berlari-lari kecil melintas di depan mereka. Shinta ingin memiliki Kijang Emas tersebut, maka dia meminta suaminya, Rama, untuk mengejar dan menangkap Kijang Emas tersebut. Demi rasa cinta pada sang istri, Rama pun menyanggupi keinginan Shinta dan bergegas pergi mengejar Kijang Emas. Namun sebelumnya, dia meminta Laksmana untuk menjaga Shinta selama Rama pergi. Laksmana pun menuruti permintaan kakaknya.

Beberapa lama setelah Rama pergi, Shinta mulai gelisah dan menyesal karena meminta Rama menangkap Kijang Emas tersebut. Tiba-tiba, dari kejauhan, Shinta mendengar teriakan Rama. Shinta pun mulai merasa khawatir dan cemas, kemudian menyuruh Laksmana mencari Rama. Laksmana tidak tega membiarkan Shinta sendiri di dalam hutan, lagi pula dia juga punya tanggung jawab moral pada kakaknya untuk menjaga Shinta. Akhirnya, Laksmana membuat lingkaran untuk melindungi Shinta sehingga orang jahat dari luar tidak akan mampu mengganggu Shinta. Kemudian Laksmana pergi mencari kakaknya.

Sayangnya, di suatu sudut hutan, seseorang dengan niat jahat di hatinya sedang mengintai dan menunggu saat yang tepat untuk menculik Shinta. Orang itu adalah, Rahwana. Rahwanalah yang membuat suara palsu Rama dengan tujuan agar Laksmana mencari kakaknya dan Shinta ditinggalkan sendiri. Rencananya berjalan lancar. Keluarlah dia dari persembunyiannya dan langsung mencoba mengambil Shinta dari dalam lingkaran Laksamana, tetapi ternyata gagal karena lingkaran tersebut tidak dapat ditembus Rahwana. Dia pun pergi dan menyusun siasat baru. Akhirnya Rahwana menyamar sebagai lelaki tua yang kelaparan dan memohon Shinta agar memberinya bantuan. Shinta pun tak tega dan sama sekali tidak menyangka bahwa pria itu adalah Rahwana yang beberapa saat lalu berusaha menculiknya. Setelah sempat ragu beberapa saat, akhirnya Shinta keluar dari lingkaran tersebut. Berhasillah Rahwana membawa Shinta ke negerinya, Alengka.

-end of season #2-

Laksmana pun bertemu Rama dan gembira mendapati kakaknya baik-baik saja, tetapi setelah keduanya sampai di tempat Shinta mereka terkejut tidak menemui Shinta di sana. Akhirnya Rama memerintahkan Hanoman, sang raja kera, untuk mencari Shinta dengan membawa cincin Rama agar Shinta mengenali dan percaya bahwa Hanoman adalah suruhan Rama. Hanoman pun berhasil menemui Shinta dan segera menunjukkan cincin tersebut. Saat berusaha menyelamatkan Shinta, Hanoman tertangkap Rahwana.

Di tempat lain, Rama yang bertemu Sugriwa membantu Sugriwa berperang melawan musuh Sugriwa (maaf ga tau namanya) dan akhirnya mereka memenangkan perang tersebut. Sebagai balas budi, Sugriwa, yang ternyata adalah adik Rahwana, bersedia membantu Rama menyelamatkan Shinta dan membunuh Rahwana. Rama dan Sugriwa beserta pasukan keranya berangkat menyerang Alengka. Akhirnya Shinta dan Hanoman terselamatkan, sementara Hanoman terbunuh oleh Sugriwa, adik kandungnya.

And then they live happily ever after? Tunggu dulu.

Shinta yang berhasil keluar dari kurungan Rahwana merasa sangat bahagia dan berlari memeluk suaminya, Rama. Malangnya, Rama menolak, dengan alasan meragukan kesucian Shinta setelah sekian lama bersama Rahwana. Shinta pun akhirnya menyeburkan dirinya ke dalam api untuk membuktikan cinta dan kesuciannya. Shinta berhasil keluar dari api dalam keadaan hidup, barulah Rama menerimanya.

Yup, begitulah kira-kira kisahnya. Masih ada yang menganggap kisah mereka adalah kisah cinta sejati, kisah cinta abadi? Kalau saya sih, itu cuma kisah tentang keegoisan seorang pria. Rama cuma menganggap Shinta adalah sebuah trophy yang pantas dimenangkan, bukan partner untuk saling mendampingi dan mempercayai. Lepas dari apakah Shinta masih suci atau tidak, tapi Shinta kan diculik. Bukan kemauan dia untuk dibawa ke Alengka. Lagi pula salah siapa sampai Shinta bisa diculik? Siapa yang tidak bisa menjaga istrinya dengan baik? Trus udah tau gitu bukannya langsung nyelametin, malah nyuruh monyet bawa-bawa cincinnya. Begitu sang istri selamat, malah ditolak dengan alasan meragukan kesuciannya. Cih, pria macam apa itu?

Jadi ya, untuk semua saja, yang mau menganalogikan sebuah kisah cinta sejati dengan kisah Rama dan Shinta, pikir-pikir dulu deh. Pilih yang lain saja, Shrek dan Fiona, misalnya ;) .

May29, 2008

Titi DJ vs Rock Lee

Filed under: eh, tau ngga sih?
titi lee

(Abaikan pria bertato yang pandangannya senantiasa terhalang itu). Kebayang dong, betapa bangganya Maito Gai melihat model rambutnya dan murid tersayangnya jadi inspirasi seorang Diva, kemudian mereka mengangkat jempol plus senyum kebanggaan *TING*

btw, di Indonesian Idol pas Dela pulang kemaren, Dewi Sandra juga pake model rambut gitu lho. Kayaknya lagi musim deh. Ada yang mau ikutan??

May17, 2008

Earth, selamatkan bumi dari global warming

Akhirnya, keinginan nonton film Earth itu terpenuhi juga, meskipun nontonnya bukan di Blitzmegaplex dan alih-alih malah nonton di studio pribadi a.k.a kamar kos. Semalam, dengan dalih mengobati patah hati saya akibat tim Thomas Indonesia yang main kurang greng di semifinal melawan Korea, saya lahap juga film “Discovery Channel” itu.

Film ini merupakan film untuk kampanye menyelamatkan bumi dari Global Warming. Bedanya, Patrick Stewart sang narator tidak berbicara kepada kita seakan “Hei, kalian itu jangan begini, kalian itu harusnya begitu!!”, tetapi sekedar menunjukkan “Ini lho jadinya kalo kalian begini”, selanjutnya, terserah. Bagi yang suka film action, mungkin film ini jadinya membosankan. “Ah, ini kan discovery channel”. Memang, bisa dibilang ini adalah discovery channel, tapi lebih dari discovery channel biasanya. Bisa dibilang, yaa katakanlah… discover the heart within your planet (yang mau muntah silakan buru-buru ke tempat yang layak untuk untuk muntah sementara saya siapkan tameng dulu sebelum kalian menemukan benda yang tepat untuk nimpukin saya ehehehehe).

Selama 99 menit, saya disuguhi pemandangan yang tak biasa. Lihat ratusan mobil di Gatot Subroto pagi dan sore hari kan biasa, tapi kalau lihat 3 juta kijang jalan rame-rame kan ga biasa? Merasakan tumpukan manusia di KRL ekonomi sudah pernah, tapi kan belom pernah berenang bareng sama jutaan ikan di laut. Lihat deretan mengular orang ngantri wahana Kora-Kora di Dufan waktu holiday kan biasa, tapi lihat barisan ribuan gajah bermigrasi mencari air berjalan 4 minggu kan ga biasa? Denger orang rebutan tiket TUC di Senayan biasa aja tuh, tapi belum pernah lihat kan gimana kalau gajah dan singa rebutan air? Ada yang sudah tahu kalo di Arctic sana ada masa di mana selama 4 bulan adalah malam a.k.a tak ada matahari?

Sepanjang film ini, tak hentinya terucap kata Subhanallah… Wow… Wah… (yang diikuti refleks nganga) melihat pemandangan alam yang… tak terdeskripsikan. Lucu, melihat anak-anak bebek belajar terbang, spesies burung yang menari seperti balerina yang sedang konser solo, monyet rakus memasukkan beberapa biji buah langsung ke mulutnya sampai penuh, monyet yang berjingkat-jingkat berjalan di sungai kemudian belajar berenang, anak beruang kutub main perosotan di salju. Atau, ber-hyaks tapi amaze melihat bagaimana jamur tumbuh.

Pada akhirnya, kita akan ditunjukkan, bagaimana global warming mempengaruhi kehidupan mereka. Perjuangan paus dan anaknya, gajah yang harus berjalan berminggu-minggu hanya untuk mendapatkan air. Beruang kutub di Arctic tidak pernah tahu bahwa es yang mereka pijaki menipis dan bisa patah kapan saja sehingga mencelakakan mereka. Salah siapa? Gue? Salah gue? Salah temen-temen gue? Yang pasti, bukan salah binatang-binatang ini. Mereka mungkin cuma bertanya-tanya, “lho kok jadi gini sih? perasaan gue ga ngapa-ngapain deh?”.

Oke, sekarang saya akan mencoba membuat daftar dosa saya pada mereka, pada bumi, dan peciptanya.
1. Boros air. Banget. Saya suka berlama-lama berdiri di bawah shower (ga pake menangis trus bunuh diri kaya Alia di AADC), bukan apa-apa, seger aja. Ibuku yang suka sebel kalau saya lama di kamar mandi bilang, “Reny itu cebok aja ngabisin 5 menit” (hiperbola kok).
2. Boros tisu. Bahan pembuatan tisu kan sama dengan bahan pembuatan kertas, bukan?
3. Boros listrik. Selama saya ada di kamar kos, yang wajib ON adalah radio dan kipas angin. Meskipun dingin, tetap nyala tapi diarahkan ke tempat lain. Biarpun saya sedang nonton, hanya mengecilkan volume radio. Tidur? justru wajib ON karena saya susah tidur kalo ga ada bunyi-bunyian. Jarang matiin lampu kamar mandi, suka parno sendiri kalo liat kamar mandi gelap.
4. Suka ga abis kalo makan, akhirnya terbuang dan membusuk. Padahal, menurut penelitian (serius ini), makanan busuk itu menghasilkan gas (yang aku lupa namanya) yang bisa merusak ozon.
Kalau diteliti lagi pasti masih banyak, hanya saja saya lupa atau ga sadar kalau itu bisa merusak bumi.

Tapi, saya sudah mengurangi pemakaian plastik dengan menolak memakai plastik kalau membeli barang selama masih bisa saya bawa tanpa plastik, menghemat penggunaan kertas, mengumpulkan karet bekas bungkus makanan dengan niatan dikasi lagi ke penjualnya agar bisa dipakai kembali tapi masih bingung gimana ngasinya. Semua dimulai dari hal kecil, dear.

Kalau kalian bagaimana?

Indonesia… bukan Endonesia

Sedih….
Final Thomas Cup di Istora Senayan tanpa Indonesia :( . Yah, tapi mereka sudah berjuang sampai jatuh bangun kayak Meggy Z. Kecuali Taufik Hidayat ya (maaf para penggemar Taufik), saya merasa dia belum menunjukkan semangat dan penampilan terbaiknya untuk Indonesia. Sepertinya ini orang musti ganti mertua deh. Kalo nggak, seperti kata teman saya, kayaknya keberatan kalung deh. Suruh naik KRL aja, biar dijambret ahahaha.

Baru saja saya nonton acara infotainment di salah satu televisi swasta yang menampilkan beberapa artis Indonesia (ga usah disebutin namanya satu persatu deh) yang semalam nonton langsung di Istora. Ngomong bla bla bla sambil beryel-yel menyemangati tim Thomas…

EN DO NE SIA… dung dung dung dung…
EN DO NE SIA… jeng jreng jeng jrengg…

Duh, sebagai mantan tim Paduan Suara di SMA dulu (halah), kuping saya kok merasa risih ya. Ini INDONESIA bung, bukan ENDONESIA. Dulu guru pembina PS (yang bukan Play Stasion) saya, selalu menekankan… IN bukan EN. Hai Denias, kau sudah bisa melafalkan Indonesia dengan benar toh?

Ini bangsa sendiri gitu loh…. *sigh* Can’t they just spell it right?

Semangat!! Tim Uber Indonesia. Uber piala UBER!!!

IN-DO-NE-SIA… jenjreng… jenjrengg… jrengg…
IN-DO-NE-SIA… jenjreng… jenjrengg… jrengg…

*sok nasionalis* ihihihihi…

May15, 2008

Seuntai doa…

Filed under: me myself & I
“Jika mereka berdoa agar dapat menikahi pria yang mereka cintai, maka aku berdoa semoga aku dapat mencintai pria yang menikahiku” *mencomot dari cover sebuah buku yang aku lupa judulnya*

Aku hanya minta Kau berikan aku yang terbaik dan berikan aku petunjukmu, aku serahkan semuanya padaMu, ya Allah…

Aku hanya manusia bodoh dan egois yang tak tahu apa yang aku pinta, doa tadi mungkin adalah doa terpintar yang pernah aku ucapkan

Kisah Tx dan Rx

Filed under: entry ga penting
Alkisah, di suatu sudut kota, berdiri sebuah antena Transmitter A (selanjutnya kita panggil TxA) pada sebuah tower tua. Konon, dia adalah sectorized. Di sudut yang lain, sebuah antena receiver (selanjutnya kita panggil Rx), diam menanti sinyal yang datang padanya.
Suatu hari, dengan power yang dia miliki, TxA memancarkan sinyalnya pada Rx. Sayangnya, sinyal tersebut tak pernah diterima oleh Rx. TxA bertanya-tanya, apakah yang membuat sinyalnya tidak pernah sampai pada Rx padahal mereka berdua dalam kondisi LoS, tak ada obstacle sedikitpun. Akhirnya dia berusaha mati-matian agar sinyalnya dapat diterima Rx. Dia pontang-panting mempointing dirinya pada Rx, sekuat tenaga meningkatkan powernya, tapi semua belum juga membuahkan hasil.
Usut punya usut, ternyata ada antena transmitter lain (selanjutnya kita panggil TxB) yang memancar omni dengan frekuensi yang sama. Sekarang TxA tahu, sinyalnya terinterferensi oleh TxB yang notabene jaraknya lebih dekat ke Rx dibanding jarak TxA ke Rx. Sekeras apapun TxA berusaha, tak kan pernah berhasil karena Rx sendiri sibuk mempointing dirinya pada TxB. TxA yang malang…
Malang juga bagi Rx, sinyal yang dia dapat dari TxB tidak pernah utuh. Sesekali dia mendapatkan sinyal TxB, tapi tak jarang pula sinyal itu tiba-tiba menghilang. Sampai pada suatu ketika, harapan Rx pupus karena TxB mengubah frekuensinya. Pudarlah mimpi Rx untuk mendapatkan sinyal dari TxB, karena dia tidak mempunyai kemampuan untuk mengubah frekuensinya.
Kini Rx hanyalah seonggok besi tertunduk lesu. Perlahan dia mencari sinyal TxA yang dulu cukup kuat memancar padanya tapi dia acuhkan begitu saja. Tapi sinyal itu kini perlahan menghilang. Apakah dia terlalu lemah untuk memancarkan sinyalnya? Apakah dia sudah mendapatkan Rx lain ?
Dalam diam, Rx berkata dalam hati… “TxA… tidak, mungkin aku harus memanggilmu Tx saja, karena mungkin hanya sinyalmulah yang mampu menjadikanku utuh sebagai antena receiver, sebagai Rx sejati. Masihkah ada power tersisa untuk kaupancarkan sinyalmu untukku lagi…?”

*I know… katrok! ahahahahaha….
but it’s truly comes from Rx’s heart

May11, 2008

Ge eR itu normal kok :D

Filed under: me myself & I
Yoi. Judulnya merupakan pembenaran atas apa yang terjadi pada diri saya saat ini. Ya siapa yang ga Ge eR kalau ada yang bilang…
“Itu tulisan kamu, Ren? Bagus juga”
“Ternyata kamu pinter nulis ya” –> ini yang bilang mantan spv saya hehehe (hai, mba!)
“Blognya kok lama ga diupdate, Ren, padahal aku suka lho sama tulisanmu. Lucu.”
“Kamu tuh punya bakat nulis lho, kembangin dong.”
“Kamu ga bikin buku aja, Ren? Dari blog kamu udah ketauan kalo kamu bisa nerbitin buku.”
“Iya, tulisan lo emang keren kok.”
de el el de el el (gayanya de el el kayak yang bejibun aja)
Sampai ada yang bilang…
“Kenapa blognya ga dibukuin aja? Isinya bagus-bagus lho.”

Walaaaahhhh… saya langsung Ge eR jaya dan senyum-senyum sendiri ahahahiauheiohohohiehehe…

Nanti Raditya Dika si Kambing Jantan itu punya saingan dong ahahahaha…
Ga lah bo. Yang namanya blog ya blog, buku ya buku. Selain itu saya juga mempertimbangkan faktor-faktor:
Satu:
Kalo dibikin buku, yang mau baca musti beli (atau minjem hehehe). Harga buku sekarang minimal 15 ribu lah. Nah kalau online kan, yang di kantornya ada fasilitas internet bisa baca gratis, yang ke warnet bayar 4000/jam udah bisa baca yang laen juga. Ya gimana mau bebas dari illiterasi kalau semua serba bayar dan mahal? Gimana bisa meningkatkan minat baca kalau ga ada bacaan gratis? (sok peduli pendidikan nasional).
Dua:
Berapa banyak pohon ditebang untuk bikin kertas? (sok peduli lingkungan).
Tiga:
Persatuan Indonesia
Yaa… siapa tahu para pengakses situs porno itu (terutama anak-anak) beralih ke blog saya, toh di sini juga tidak ada unsur pornografi maupun SARA (sok peduli moral bangsa tapi narsis).
Empat:
Nah, ini yang paling penting. SAYA SADAR DIRI. Masa blog begini dibukukan? Sapa yang mau beli? Yang ada malah bikin sumpek rak toko buku ihihihihi…

Kecuali…
hmmm….

Meskipun begitu… saya GR lho…. ehehehehehe *blushing*

ketika dulu saya berkata pengen jadi dokter…

Dulu, profesi apa yang paling beken buat dijadiin cita-cita jaman ketika kita masih anak-anak? Dokter, bukan? Hayo yang pernah punya cita-cita jadi dokter ngacung? *tunjuk jari*
Termasuk saya, dulu ketika guru SD saya, Pak Miftah, bertanya saya pengen jadi apa, saya jawab dokter. Alasannya saya sendiri ga tau kenapa, kayaknya sih asal njeplak, karena saya sendiri belum pernah merasa sangat mengagumi seorang dokter. Kalau kalian alasannya kenapa?

Sekarang, kalau saya pikir-pikir, untung saya tidak melanjutkan cita-cita saya sebagai dokter. Yah, meskipun sekarang terjebak di dunia yang mayoritas cowok ini. Pekerjaan dokter itu ekstrim, dan hubungannya sama nyawa manusia, jadi pertanggungjawabannya berat.

Pada setuju ga kalo Fear Factor itu ekstrim? Coba inget-inget deh, salah satu tantangan yang mana peserta diharuskan obok-obok jeroan binatang. Itu baru jeroan binatang, binatang mati pula. Nah bandingkan dengan dokter yang sedang membedah pasiennya. Yang diobok-obok jeroan manusia, masih hidup pula. Jadi bayangkan, di depan anda ada sebujur manusia, kemudian anda iris bagian tubuhnya… darah mengalir… dan ciluuukk… baaaa…!!! terbukalah jeroan si pasien, jantung, hati, ginjal, semuanya bergerak-gerak menanti kepiawaian tangan anda. Obok-oboknya Fear Factor sih ga ada bandingannya, apalagi Joshua yang cuma obok-obok air.

Dokter itu harus kuat mental. Ga boleh nangis liat balita kena tumor otak, ga boleh bergidik menangani pasien macam manusia kutil atau manusia akar, ga boleh miris ketika berjalan di Rumah Sakit kemudian melewati kamar pasien yang menangis kesakitan, ga boleh takut kalau diharuskan berada di kamar mayat sendirian malam-malam.
Nyawa manusia bukan di tangan dokter, semua orang tahu itu. Tapi setiap dokter harus siap menghadapi keadaan seperti:
“Dokter, tolong selamatkan Ayah saya, hanya dia yang saya punya di dunia ini”. Padahal sang Ayah sudah dalam keadaan koma dan sebentar lagi isdet.
“Dok, saya belum mau mati. Putra saya masih terlalu kecil untuk kehilangan seorang Ibu”
“Dokter macam apa Anda? Masa operasi kanker otak saja ga becus!!”
“Berikan saja kedua mata saya untuknya, Dok. Saya sangat mencintainya”. Alah.
Atau ketika harus menyampaikan berita buruk pada keluarga pasien. Sang dokter keluar dari ruang operasi dengan muka lelah setelah berjibaku dengan pisau, gunting, jarum, featuring organ dalam, sedang di luar sudah banyak orang yang menatap dengan cemas menanti kata-kata yang keluar dari mulut sang Dokter. Dan ketika berita itu terucap…
Ada yang menjerit menangis
Ada yang pingsan
Yang cowok meninju tembok kemudian menangis
Ada yang langsung duduk tertunduk di lantai
Parahnya, jika ada yang tak mengeluarkan suara apapun tapi melancarkan pandangan mata yang menusuk hati.
Belum lagi jika harus menghadapi konflik antara jiwa sosial dengan regulasi Rumah Sakit tempat bekerja yang unfortunately matre, yang mendingan dibangunnya di laut aje, jadi bukan cuma cewek matre yang ke laut aje. Sebagai dokter pengen menolong, tapi pihak Rumah Sakit tidak mendukung karena pasien dari golongan kurang mampu. Dan kalaupun dia mau menolong sendiri itupun sulit karena semua peralatan dan tetek bengeknya juga dari Rumah Sakit.

Ah, saya jadi ingat pengalaman teman saya yang menggalang dana untuk seorang anak buruh cuci yang terkena kanker di kakinya. Ketika si anak dibawa ke sebuah Rumah Sakit Kanker ternama dengan membawa surat keterangan tidak mampu, petugas mengatakan bahwa sudah tidak ada lagi room yang kosong, padahal ada yang melihat masih banyak room yang kosong. Akhirnya dicarilah dana agar si anak bisa dioperasi dan dirawat di Rumah Sakit tersebut. Sekitar sebulan kemudian, ketika dana sudah terkumpul sudah terlambat karena kanker sudah menjalar kemana-mana dan dokter sudah angkat tangan. Menyedihkan.

Seorang dokter, jika membuat suatu kesalahan, konsekuensinya dengan nyawa manusia. Salah mendiagnosa, salah memberi obat, meninggalkan gunting di tubuh pasien setelah operasi. Jika berakibat pada kematian, saya yakin itu dokter pasti dihantui rasa bersalah seumur hidupnya. Coba bandingkan dengan pekerjaan saya sekarang, kalaupun berbuat kesalahan, palingan hubungannya sama duit, sama orang-orang berduit. Eh, tapi beda lagi ceritanya kalau mengalami yang dialami si bantat di sini.

Jadi, anak-anak kecil yang cita-citanya masih mencla-mencle… pikir-pikir dulu deh sebelum bilang pengen jadi dokter hehehehe…

Tapi, derita tadi sebanding seandainya sukses menyelamatkan sang pasien. Yah, no pain no gain lah. Salut untuk semua dokter di dunia.

May5, 2008

sedih…

Filed under: me myself & I

pokoknya sedang sedih… banget…

entah kenapa tiba-tiba aku mencari namamu di list Y!Mku cuma untuk bilang “aku sedih…

sayangnya, kamu ga online :(

sedih ga sih, bo?

May4, 2008

Pernah ga sih….?

Filed under: entry ga penting
Meng-iya-kan ajakan kencan, tetapi kemudian ketika bertemu si pengajak dan berada di atas motor dia tiba-tiba muncul perasaan… “AAAARRRRGGGHHHH…. WHAT I HAVE DONE???

… dan ketika ingin mengkonversi rasa sesal tersebut ke sebuah tulisan dalam dalam suatu Short Message Service untuk dikirim ke seorang sahabat, gagal karena pulsa kartu prabayarnya habis :(

kemudian senyum-senyum sendiri sementara di dalam hati….

AHAHAHAHAHAHAHAHA….