justrhe[dot]blogsome[dot]com

May11, 2008

ketika dulu saya berkata pengen jadi dokter…

Dulu, profesi apa yang paling beken buat dijadiin cita-cita jaman ketika kita masih anak-anak? Dokter, bukan? Hayo yang pernah punya cita-cita jadi dokter ngacung? *tunjuk jari*
Termasuk saya, dulu ketika guru SD saya, Pak Miftah, bertanya saya pengen jadi apa, saya jawab dokter. Alasannya saya sendiri ga tau kenapa, kayaknya sih asal njeplak, karena saya sendiri belum pernah merasa sangat mengagumi seorang dokter. Kalau kalian alasannya kenapa?

Sekarang, kalau saya pikir-pikir, untung saya tidak melanjutkan cita-cita saya sebagai dokter. Yah, meskipun sekarang terjebak di dunia yang mayoritas cowok ini. Pekerjaan dokter itu ekstrim, dan hubungannya sama nyawa manusia, jadi pertanggungjawabannya berat.

Pada setuju ga kalo Fear Factor itu ekstrim? Coba inget-inget deh, salah satu tantangan yang mana peserta diharuskan obok-obok jeroan binatang. Itu baru jeroan binatang, binatang mati pula. Nah bandingkan dengan dokter yang sedang membedah pasiennya. Yang diobok-obok jeroan manusia, masih hidup pula. Jadi bayangkan, di depan anda ada sebujur manusia, kemudian anda iris bagian tubuhnya… darah mengalir… dan ciluuukk… baaaa…!!! terbukalah jeroan si pasien, jantung, hati, ginjal, semuanya bergerak-gerak menanti kepiawaian tangan anda. Obok-oboknya Fear Factor sih ga ada bandingannya, apalagi Joshua yang cuma obok-obok air.

Dokter itu harus kuat mental. Ga boleh nangis liat balita kena tumor otak, ga boleh bergidik menangani pasien macam manusia kutil atau manusia akar, ga boleh miris ketika berjalan di Rumah Sakit kemudian melewati kamar pasien yang menangis kesakitan, ga boleh takut kalau diharuskan berada di kamar mayat sendirian malam-malam.
Nyawa manusia bukan di tangan dokter, semua orang tahu itu. Tapi setiap dokter harus siap menghadapi keadaan seperti:
“Dokter, tolong selamatkan Ayah saya, hanya dia yang saya punya di dunia ini”. Padahal sang Ayah sudah dalam keadaan koma dan sebentar lagi isdet.
“Dok, saya belum mau mati. Putra saya masih terlalu kecil untuk kehilangan seorang Ibu”
“Dokter macam apa Anda? Masa operasi kanker otak saja ga becus!!”
“Berikan saja kedua mata saya untuknya, Dok. Saya sangat mencintainya”. Alah.
Atau ketika harus menyampaikan berita buruk pada keluarga pasien. Sang dokter keluar dari ruang operasi dengan muka lelah setelah berjibaku dengan pisau, gunting, jarum, featuring organ dalam, sedang di luar sudah banyak orang yang menatap dengan cemas menanti kata-kata yang keluar dari mulut sang Dokter. Dan ketika berita itu terucap…
Ada yang menjerit menangis
Ada yang pingsan
Yang cowok meninju tembok kemudian menangis
Ada yang langsung duduk tertunduk di lantai
Parahnya, jika ada yang tak mengeluarkan suara apapun tapi melancarkan pandangan mata yang menusuk hati.
Belum lagi jika harus menghadapi konflik antara jiwa sosial dengan regulasi Rumah Sakit tempat bekerja yang unfortunately matre, yang mendingan dibangunnya di laut aje, jadi bukan cuma cewek matre yang ke laut aje. Sebagai dokter pengen menolong, tapi pihak Rumah Sakit tidak mendukung karena pasien dari golongan kurang mampu. Dan kalaupun dia mau menolong sendiri itupun sulit karena semua peralatan dan tetek bengeknya juga dari Rumah Sakit.

Ah, saya jadi ingat pengalaman teman saya yang menggalang dana untuk seorang anak buruh cuci yang terkena kanker di kakinya. Ketika si anak dibawa ke sebuah Rumah Sakit Kanker ternama dengan membawa surat keterangan tidak mampu, petugas mengatakan bahwa sudah tidak ada lagi room yang kosong, padahal ada yang melihat masih banyak room yang kosong. Akhirnya dicarilah dana agar si anak bisa dioperasi dan dirawat di Rumah Sakit tersebut. Sekitar sebulan kemudian, ketika dana sudah terkumpul sudah terlambat karena kanker sudah menjalar kemana-mana dan dokter sudah angkat tangan. Menyedihkan.

Seorang dokter, jika membuat suatu kesalahan, konsekuensinya dengan nyawa manusia. Salah mendiagnosa, salah memberi obat, meninggalkan gunting di tubuh pasien setelah operasi. Jika berakibat pada kematian, saya yakin itu dokter pasti dihantui rasa bersalah seumur hidupnya. Coba bandingkan dengan pekerjaan saya sekarang, kalaupun berbuat kesalahan, palingan hubungannya sama duit, sama orang-orang berduit. Eh, tapi beda lagi ceritanya kalau mengalami yang dialami si bantat di sini.

Jadi, anak-anak kecil yang cita-citanya masih mencla-mencle… pikir-pikir dulu deh sebelum bilang pengen jadi dokter hehehehe…

Tapi, derita tadi sebanding seandainya sukses menyelamatkan sang pasien. Yah, no pain no gain lah. Salut untuk semua dokter di dunia.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://justrhe.blogsome.com/2008/05/11/pikir-pikir-dulu-deh/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>