Seperti biasa, tiap saya sahur pasti ada PPT yang menemani. Bukan power point, tapi Para Pencari Tuhan (jilid 2), yang kerap kali membuat sensorik saya membypass informasi yang masuk langsung ke hati, mampir bentar sih di otak tapi ga pake ngetem. Episode hari ini, membuat hati saya terjedug, yang hasilnya adalah terjadinya konflik antara hati dan otak (halah). Tapi ga sampe bikin tawuran apalagi kerusuhan.
Ternyata…. selama ini saya jadi pengamal yang pemilih…
Bagi yang nonton pasti ingat adegan ketika ada orang dari yayasan/panti asuhan meminta sumbangan ke kantor Azzam. Ketika si Menkeu (baca: Menejer Keuangan) memperingatkan Azzam mengenai panti asuhan fiktif, Azzam dengan santai menjawab “Siapapun dia, kalo bukan orang kekurangan ga mungkin minta-minta.” (jedug! 1). Dan kemudian dilanjutkan “Saya kan cuma mencoba beramal, mengenai dia bohong atau tidak itu urusan dia sama Allah”. (jedug! 2).
Jujur, selama ini saya tidak asal memberi kalo ada peminta-minta. Ada beberapa pertimbangan di otak saya. Misalnya, kalau ada yayasan panti asuhan seperti tadi, atau bantuan bencana alam, saya langsung kasih tanpa peduli entah itu asli atau bukan. Tapi, kalau ada yang meminta bantuan untuk sumbangan pembangunan Masjid, maaf saya nggak kasih lho. Kenapa? Dulu, saya pernah mendengar seorang Ustadz yang saya lupa siapa (maaf) berkata kurang lebih seperti ini “Yang namanya Kyai itu ikut bekerja bersama murid-muridnya, mulai dari cari batu dan pasir di sungai sampai manjat masang genteng. Dan bukan duduk manis berceramah sambil menyuruh muridnya cari sumbangan”. Saya bukan mau bilang kalau tempat ibadah itu kurang penting, tapi ya memang menurut saya bantuan untuk yang memang membutuhkan itu lebih penting. Beribadah bisa di mana saja, tapi masa mau membiarkan anak-anak yang tidak punya orang tua itu telantar? Lebih parahnya kalau terus jadi anak jalanan.
Berbicara mengenai anak jalanan, jujur saya cukup strict mengenai masalah ini. Saya tidak pernah memberi mereka uang, kalau saya kebetulan sedang membawa makanan mending saya beri makanan. Atau kalau mereka jualan sesuatu, koran atau gorengan misalnya, mending saya membeli apa yang mereka jual. Yang pasti, saya tidak mau memberi mereka uang cuma-cuma. Bukan apa-apa, saya hanya tidak mau uang tadi mereka belanjakan untuk sesuatu yang negatif, untuk nyabu ngelem (istilah ini saya dapat dari film Daun di Atas Bantal), misalnya. Tapi kalau ternyata Sari Roti atau Ultra Milk yang saya berikan malah mereka jual untuk ditukar Aibon atau beberapa batang rokok ya itu kebangetan.
Pengemis, saya menggunakan sensor hati untuk yang satu ini. Yah, meskipun hati kadang bisa salah, atau mungkin otak yang salah menterjemahkan bahasa hati. Kisah Cak To membuat saya lebih hati-hati pada pengemis. Okelah, saya salut dengan kegigihan Cak To dalam mengemis dan juga sifat kedermawannya. Yang saya sesalkan, kenapa dengan modal yang dia punya bukannya membangun bidang usaha lain malah mengajak teman-temannya untuk jadi pengemis? Diajari pula trik-trik untuk menjadi pengemis yang baik. Hal seperti ini yang membuat mereka malas, “gue cuma minta-minta udah bisa makan, itu Cak To pengemis bisa beli CRV, jadi kenapa gue musti kerja?”. Karena itulah, saya menggunakan hati untuk memilih pengemis yang benar-benar butuh atau sekedar malas.
Kalau Anda sering naik KRL ekonomi, pasti pemandangan bermacam model pengemis ada di sini. Beberapa gambarannya ada di sini dan di sini. Ada satu yang membuat saya marah meskipun tak berhak marah dan tak bisa mengubah kemarahan dalam suatu tindakan. Bukan marah sih, hanya hati jadi panas aja mungkin. Adalah, model wanita paruh baya dengan alat musik kotak entah apa namanya yang mengeluarkan musik dangdut dengan frekuensi yang langsung menusuk kuping. Apa yang membuat saya panas? Alat musik tadi? Bukan. Wanita tadi biasanya membawa 1 atau 2 bocah balita yang kadang bertugas menyanyi, berjoget atau memegang kantong uang untuk diedarkan. Cukup panas? Sudah biasa mungkin. Yang tidak saya tolerir adalah ketika si wanita mengendalikan si anak dengan memegang kepalanya, menolehkan kepala si anak ke kanan atau ke kiri untuk menentukan arah yang ingin si wanita tuju. Bo, bisa ga sih pegang bahunya atau lengennya? Panas saya melihatnya.
Adalah ucapan Aya, “Saya nggak mau nantinya di akhirat kesalahan kecil saya juga diperhitungkan sama Allah” yang mengakhiri pertikaian dengan kekalahan telak di pihak hati, setelak kekalahan AC Milan 2-0 malam ini. Bisakah saya beramal tanpa pilih kasih? Salahkah apa yang saya lakukan selama ini? Ya Allah, semua kuserahkan padaMu, hakim paling adil sejagat raya.