justrhe[dot]blogsome[dot]com

October30, 2008

lah, emang sekretaris kerjanya ngapain?

Filed under: entry ga penting
HR Jabotabek membuka lowongan untuk :

A. Posisi Sekretaris (SCR) dengan kualifikasi sebagai berikut :

Wanita usia maksimal 25 tahun, dan belum menikah
Pendidikan minimal D3 jurusan sekretaris atau administrasi dengan IPK min. 2.80 (PTN) dan 3.00 (PTS)
Berpengalaman lebih diutamakan (minimal 2 tahun pada posisi yang sama)
Berpenampilan dan kepribadian menarik (Berat Badan dan tinggi badan proporsional)
Bersedia dikontrak selama 2 (dua) tahun, dan tidak menikah selama masa kontrak
Fasih berbahasa Inggris (oral & written)

Apabila ada teman atau saudara yang berminat menjadi sekretaris dengan kualifikasi di atas, silahkan mengirimkan surat lamaran dengan kode SCR ke :

PT *********
Gedung ********* Lt. 6
Jl. H.R. Rasuna Said Kav *****
Jakarta Selatan 12910

Atau via email ke *********@*********.co.id (lengkap dengan CV, ijazah dan Transkrip)

Ditunggu paling lambat tanggal 7 NOVEMBER 2008 (Cap Pos)

Hanya kandidat yang memenuhi kualifikasi saja yang akan dipanggil untuk mengikuti seleksi calon karyawan.

Emang kenapa kalau usianya lebih dari 25 tahun? Usia 50 tahun selama belum menopause juga masih produktif lho (apa hubungannya yak?)
Meskipun sudah menikah, masa mau bawa-bawa suami ke kantor pas jam kerja? :P
Nah, ini yang menarik… “Berpenampilan dan kepribadian menarik (Berat Badan dan tinggi badan proporsional)”. Apa si sekretaris mau diikutkan ajang putri-putrian atau kontes kecantikan?

Emang, si sekretaris mau disuruh ngapain?

note. dapat dari broadcast message via Y!M dari seorang teman, yang tentunya tidak ditujukan untuk saya yang otomatis tercoret dari poin 4 xixixixi….

October17, 2008

menurut saya itu pertanyaan konyol

“telur dulu atau ayam dulu?”
Seringkali pertanyaan itu muncul dalam sebuah debat kusir atau forum lainnya. Dan anehnya, sudah menjadi semacam quote yang terkenal seterkenal “Eureka!” nya Archimedes, “Veni Vidi Vici” nya Julius Caesar atau “Terlalu!” nya Rhoma Irama (ehehehe). Lebih anehnya lagi, orang masih saja terdiam bingung mendengar pertanyaan tersebut seolah merupakan retorika terbaik sepanjang abad.

Sekarang saya balik tanya, menurut Anda, apa dulunya Tuhan itu menciptakan kita dalam bentuk embrio atau zigot? Jadi, kenapa masih pusing dengan telur dan ayam? (pusing gimana beli telur dan ayam, mungkin.)

October12, 2008

Singkong goreng

Filed under: belajar nulis
ACIL

Udara malam ini lebih panas dari biasanya, sepertinya akan hujan. Begitu kata Ibuku kalau kegerahan, tanpa bisa memberikan penjelasan lebih logis kenapa bisa demikian. Yang pasti aku jadi cepat merasa lelah hari ini, perutku juga sudah lapar. Kuputuskan untuk istirahat dulu, aku duduk di salah satu sudut emperan Detos, mengamati lalu lalang orang di depanku. Ember plastik yang sedari tadi aku bawa-bawa aku letakkan di sampingku. Kuangkat sobekan koran bekas yang menutupinya, kuamati sebentar. Masih ada 11 gorengan di dalamnya, termasuk 4 buah yang aku sisihkan dalam sebuah plastik karena sedikit kotor. Tadi sore Ibuku bilang ada 20 gorengan di dalam ember, ada pisang goreng, singkong goreng, dan bakwan, jadi malam ini aku harus membawa pulang uang 10000 ke rumah.

Ah, coba si Rudi sialan itu tidak bikin gara-gara, tentunya sekarang aku tidak pusing memikirkan alasan kenapa bisa ada gorengan yang berpasir. Tidak mungkin aku jujur pada Ibu kalau aku baru saja berkelahi, bisa-bisa semalaman aku tidak tidur karena omelannya. Salahku juga sih, tidak berhati-hati meletakkan ember sebelum menempeleng Rudi, jadinya isinya tumpah karena tertabrak kepalaku ketika tersungkur akibat tonjokan Rudi. Sampai sekarang rasa ngilu di pelipis kiriku masih terasa, meskipun bekas lebamnya bisa ditutupi pake rambutku yang model polem, poni lempar. Tapi Rudi memang pantas ditempeleng, aku tidak menyesal meskipun aku kalah telak waktu perkelahian tadi. Maklum, aku belum pernah berkelahi sebelumnya. Tapi aku juga tidak mungkin diam saja ketika Rudi seenak udelnya menulis dengan huruf besar-besar di tembok stasiun, “ACIL ANAK MALING”.

Almarhum Bapakku bukan orang yang jahat, itu yang aku tahu. Beliau baru pertama kali itu mencuri, seekor ayam jago di pasar yang celakanya berkokok nyaring di pagi buta itu membuat ayahku kemudian meninggal dihajar massa. Tak banyak yang tahu kalau malam sebelumnya ayah mengalami pergolakan batin yang hebat. Panik dan tidak bisa tidur melihat Ibu yang sudah mulas-mulas hendak melahirkan Ipul sementara ayah belum punya persiapan apapun. Akhirnya Ipul lahir dengan bantuan mpok Darsih dan beberapa Ibu tetangga yang lain, subuh itu juga. Aku yang gembira mendengar tangisan adikku bingung mencari ayah untuk mengabari kalau di rumah ada anaknya yang menunggu bisikan adzan dari mulut ayah. Begitu menerima kabar bahwa mayat yang tergeletak di lorong pasar itu adalah ayahku, aku berlari ke rumah mencari Ipul. Berbekal juara kedua lomba adzan Agustusan, aku mengumandangkan adzan di telinga kanan adikku. Kemudian kuceritakan juga bahwa ayahnya baru saja meninggal, sebagai pahlawan. Siangnya, Ibuku pingsan setelah mendengar kabar tentang ayahku dari mpok Darsih. Sementara aku sendiri, tidak pingsan tidak juga menangis, hanya rasanya seperi ada batu besar di dalam dadaku yang membuatkku sesak napas.

Tak banyak yang tahu juga kalau aku, Acil, sebenarnya punya nama lengkap yang cukup keren. Muhammad Nazriel Mahardika. Mirip dengan nama aslinya Ariel Peterpan, tapi nasib kami berbeda. Jauh beda, beda jauh. Banyak tetangga dan teman-temanku mengidolakan Ariel. Dinding triplek rumah Rozi penuh dengan poster Ariel, Bontek hanya mau menyanyikan lagi Peterpan kalau mengamen, kemarin Bang Dul si tukang cukur kebingungan gara-gara Mamat minta dicukur seperti Ariel. Tapi itu tidak berlaku buat Samsul. Entah kenapa dia membenci kembaran namaku itu, Samsul selalu bilang kalau Ariel itu playboy. Ketika kutanya apa itu playboy, dia hanya bilang “Pokoknya bukan orang baik-baik lah”. Akhirnya aku mencari tahu sendiri dari Kamus Bahasa Inggris 1 miliard pemberian Bang Toha sekitar dua bulan yang lalu, katanya sih sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-11. Play artinya bermain, boy artinya anak laki-laki. Oooh, sekarang aku paham, jadi waktu kecil si Ariel Peterpan ini kerjanya main-main doang, pantesan Samsul sirik sama dia. Dasar playboy. Anak laki-laki yang bermain.

Jelas beda sama aku, boro-boro bisa bermain. Sebelum subuh aku sudah harus bangun memompa air sampai bak kamar mandi penuh, beres-beres rumah yang malamnya diacak-acak Ipul, sampai membantu Ibuku memasak tetek bengek nasi uduk yang harus siap pagi-pagi ketika orang sarapan. Kemudian aku mandi dan berangkat bekerja, mengamen di KRL. Di sinilah aku bertemu Bang Toha, pria baik hati yang kesehariannya menjual Kamus Bahasa Inggris di KRL, meskipun cuma mengerti kalimat “I love you” dan merasa keren kalau sudah bisa bilang “Fuck you”. Bang Tohalah yang memfasihkan keterampilan membacaku hasil asahan ayah semasa hidup. Bang Toha juga yang melindungiku dari palakan preman-preman stasiun.

Sorenya, aku pulang. Jika gorengan bikinan Ibuku sudah siap, aku berkeliling menjajakan gorengan bikinan Ibuku ke warung-warung makan atau emperan mall tempat orang banyak berkumpul.

***

RUDI

“Gopek…! Koran gopek… korannya gopek…!!!
eh waduh
“Kompas gopek…! Kompas gopek… Tempo… Berita Kota… Warta Kota… gopek… gopek!!!”

Untung saja tidak ada bang Mahdi di sini, kalau ada bisa-bisa perutku jadi sasaran jepitan jari jempol dan telunjuknya hanya karena menyebut kata “koran”. Sudah 2 kali perutku ngilu karena cubitannya, plus bonus jeweran sekali. Bang Mahdi si tukang jualan tahu Sumedang yang sok ustadz itu paling sensitif dengan kata-kata, contohnya ya kata “koran” ini. Kata Bang Mahdi, koran itu bahasa Inggris, yang artinya Al Qur’an. “Mau kalau Al Quran disamain dengan surat kabar? Makanya kalau jualan jangan bilang koran, tapi surat kabar”, begitu katanya dengan nada membentak. Ga kebayang kalau aku harus berteriak “Surat kabar… surat kabar…!!!”, selain terlalu panjang juga sedikit asing di telinga. Jadinya aku akali dengan menyebut merk, Kompas, Tempo, Media Indonesia, Bola, dan lain-lain.

Ah, sedih rasanya harus menjual koran-koran… eh surat kabar ini jadi kurang dari setengah harga. Tapi mau bagaimana lagi, sudah semalam ini tapi masih sisa banyak. Dari pada nggak laku sama sekali mending ga dapet untung lah. Tapi meskipun sudah banting harga sebanting-bantingnya kok ya ga ada yang minat beli juga. Beritanya sudah basi mungkin.

Akhir-akhir ini memang makin sedikit orang yang mau beli surat kabar. Kata Yono, mungkin karena orang-orang lebih suka baca berita lewat internet. Hayah, bahasa apa lagi itu? Meskipun kerjanya luntang-lantung ga jelas, tapi tetangga sebelah rumah petakku ini otaknya encer dan gaul, sayangnya pelit. Ketika aku tanya apa itu internet dan bilang mau ikut ketika dia dan teman-temannya bermain internet, dia hanya tersenyum. Katanya aku belum cukup umur, nanti kalo aku sudah seumuran dia barulah aku boleh ikut. “Pokoknya internet itu keren banget deh, banyak gambar cewek-cewek, banyak film-film panas. Lu belom boleh nonton gituan”, begitu katanya. Aku yang semakin bingung akhirnya menghapus kata internet dari otakku.

Aaaawwwwwhhhh… rahangku rasanya masih sakit kalau digerakkan, gara-gara bogeman Acil tadi. Sial! Ternyata kuat juga tonjokannya, padahal sepertinya dia anak bau kencur yang sepertinya gampang dimainin. Berani juga dia menempelengku yang jelas-jelas menang dari segi ukuran badan maupun pengalaman berkelahi, dasar kurang ajar. Sebenarnya gampang kalo mau cari gara-gara sama Acil, tinggal singgung aja tentang Bapaknya pasti langsung muntab dia. Entah kenapa dia mati-matian menjaga harga diri bapaknya mati sebagai maling itu. Ah, harusnya itu juga yang kulakukan ketika hari kedua aku berjualan di stasiun ini. Ketika om-om berbadan gempal iku mengusirku dari stasiun dengan alasan ini adalah daerah dia, jadi aku tidak boleh jualan di daerah itu. Aku masih ingat betul kata-katanya, “Eh, anak siapa lo? Jangan jualan di sini!!”. Dikiranya ini tanah nenek moyang dia apa? Yah meskipun aku pengen marah, tapi mana berani aku sama om-om yang ukuran badannya 3 kali badanku?

“Anak siapa lo?” Duh, rasanya sakiit mendengar kata-kata itu. Kalau sudah begitu, kadang aku duduk diam dan berandai-andai dalam hati. Kalau saja abangku cukup bertanggung jawab sebagai anak pertama dan ga sok berani bergelayutan di pintu KRL, tentunya dia tidak akan jatuh dan mati. Akibatnya, tanggung jawab menghidupi Ibu dan nenekku secara otomatis jatuh ke tanganku. Kalau saja Ibuku bukan wanita yang selalu keluar malam dengan baju minim dan make up menor, tentunya aku punya bapak yang jelas yang menanggung semua bebanku saat ini. Itulah yang membuatku iri pada Acil. Kita sama-sama miskin, tapi paling tidak dia lebih beruntung mempunyai keluarga normal.

***

ACIL

Pelan-pelan aku bersihkan lagi pasir yang menempel di pisang goreng dengan sobekan kertas koran yang aku gunakan untuk menutup ember. Sambil sesekali melirik Bang Jani yang sibuk di balik gerobaknya, mulai dari mengaduk adonan tepung, memotong-motong bahan, sampai menggorengnya. Dagangan Bang Jani jauh lebih banyak dari daganganku, gorengan-gorengan itu ditumpuk di dalam kaca berdasarkan jenisnya, sedangkan daganganku jumlahnya bisa dihitung dengan jari dan hanya diletakkan dalam sebuah ember plastik kecil yang ditutup kertas. Gorengan Bang Jani lebih enak karena dijual dalam keadaan hangat, bandingkan dengan gorengan yang kujajakan, sudah dingin. Dan beruntungnya lagi Bang Jani tidak perlu jalan ke sana ke mari sepertiku, cukup berdiri di belakang gerobaknya yang diparkir di pedestrian dekat mall.

Aku sudah keluar masuk warung makan di sepanjang Jalan Margonda. Di warung soto, mbak yang sedang asyik makan itu hanya tersenyum sambil mengangkat tangannya tanda tak berminat, mas-mas di tenda nasi uduk bahkan sibuk mengobrol sambil merokok seperti aku tak ada, seorang Ibu warung Padang melihat daganganku sejenak tapi tak jadi membeli. Hal-hal seperti tadi sudah biasa aku alami, apalagi kalau hanya sekedar berdiri di pojokan sini sambil berkata “gorengan, mbak… gorengan, mas…. gorengan, bu… pak…”

Tik… tik… tetesan besar air yang menimpa kepalaku menyadarkanku dari lamunan. Prediksi Ibuku benar karena tak lama setelah itu tetesan makin banyak dan berubah menjadi hujan deras. Keadaan menjadi semakin ramai dengan lari-larian orang mencari tempat perlindungan, termasuk aku yang langsung melindungi isi ember dan berlari ke dekat pintu masuk Detos. Pinginnya sih masuk mall seperti orang-orang kebanyakan, tapi tidak mungkin, pasti diusir sama Pak Satpam.

Pelataran mall sepi, hanya aku, gorenganku, dan suara hujan. Aku berdiri memegang emberku sambil mengamati macetnya jalanan. Sudah bisa ditebak, jalanan macet akan semakin macet jika hujan, beberapa angkot dan bis berhenti untuk menaikkan penumpang memperparah kemacetan, orang-orang berpayung atau berjaket nekat menunggu kendaraan umum di pinggir jalan di tengah hujan. Wajar, ada yang menunggu mereka di suatu tempat, tidak sepertiku.

Teplek… teplek… suara langkah sandal tergesa-gesa mendekat ke arahku. Mbak-mbak perpayung merah itu setengah berlari menuju mall. Baju dan tasnya yang juga merah cukup bisa mengalihkan perhatianku dari angkot-angkot tadi, sepertinya ada yang baru pulang dari kampanye PDI, pikirku. Mbak merah itu semakin mendekat, aku ragu menawarkan gorenganku, pasti dia memilih langsung masuk ke mall mencari makanan dan minuman yang enak dan hangat di dalam sana, tidak mungkin melirik gorenganku.

“Gorengan, mbak…”, ah kenapa suara itu keluar juga? Sudah cukup aku mengalami penolakan hari ini. Mbak merah itu menoleh dan tak kusangka… berhenti. Dia menatapku, kemudian melihat jam tangan di lengannya. Tapi akhirnya dia bertanya “Ada apa aja?”. Dengan enggan kubuka koran yang menutupi ember, sementara dia sibuk melipat payung merahnya, pasti si mbak ini cuma basa-basi. Dia mengamati gorenganku yang sudah hampir beku. “Ini apa?, tanyanya sambil menunjuk.
“Um, itu bakwan jagung”
“Oh, singkong gorengnya aja deh, semua.”
“Eh, iya.” jawabku sambil setengah kaget. Akhirnya ada pembeli juga, alhamdulillah. Cepat-cepat kumasukkan 4 singkong goreng ke kantong kertas yang sudah disiapkan Ibuku dan kuberikan ke mbak merah.
“Berapa?”
“Dua ribu”
Dia mengambil dompet di tasnya dan mengeluarkan uang pecahan sepuluh ribu, diberikannya padaku.
“Yah, nggak ada kembaliannya. Nggak ada uang kecil aja, mbak? Saya cuma ada 4500, masih kurang 3500″
“Mbak nggak ada. Udah, kembaliannya buat kamu aja”
“Nggak, mbak. Ini mbak pegang dulu 4500, saya cari tukeran dulu, mbak tunggu di sini ya” kataku sambil memberikan uang 4500 yang ada di kantong.
“Kamu mau nuker ke mana?”
“Ke tukang pinggir jalan itu pasti banyak”
“Jangan! Kan hujan. Udah kembaliannya buat kamu aja, nggak papa kok”
“Nggak mau, mbak. Atau mbak mau beli semua gorengan saya? Tapi, ada yang kotor, tadi habis jatuh”
“Yah, nggak bisa ngabisin tar kalo banyak-banyak”
“Kalau gitu biar saya cari tukeran dulu, bentar aja kok mbak”
“Hmmm… ya udah deh saya beli semua gorengannya aja”
“Makasih, mbak. Tapi ada yang kotor gimana?”
“Mana yang kotor? Kamu pisahin aja”
“OK!!” jawabku bersemangat sambil tersenyum sumringah, mbak itu pun tersenyum entah kenapa. Akhirnya aku berikan semua sisa gorenganku yang sudah dingin, juga uang 4500 yang dari tadi belum diterima mbak merah.
“Ini apa? Nggak usah, kamu pegang aja”
“Ini kembaliannya, mbak, 4500″
“Udah nggak usah, makasih ya” jawabnya sambil tersenyum dan berlari masuk.
“Lho, mbak!!” aku mengejarnya tapi dihadang Satpam di pintu masuk. Yah, sudahlah, mungkin hari ini rejekiku lebih.

Akhirnya, aku bisa pulang dan memberikan uang 14500 ke Ibuku. Tapi sebelumnya harus kuceritakan dulu kenapa uang yang kuberikan bisa lebih, dari pada Ibu mengomeliku tentang kejujuran. Hujan masih cuku deras, kutatap lagi uang 4500 di tanganku, mau kuapakan ya? Perutku lapar. Apa aku belikan makanan saja ya, toh ini hasil jerih payahku dan Ibu pasti tidak akan marah. Aku mengedarkan pandanganku ke pinggir jalan raya yang penuh dengan penjual makanan, berpikir makanan apa yang bisa kubeli dengan uang 4500.

Kumasukkan uang 4500 itu ke kantong kertas untuk bungkus gorengan kemudian kukantongi di celana bututku. Ah, tempe goreng dan sambel bikinan Ibuku lebih enak. Aku duduk lagi di lantai, menunggu hujan reda.

***

RUDI

Aaaaaarrrrghhhh!!!! Hujan sialan!!! Basah semua daganganku. Kering aja nggak laku apa lagi basah?!?!?!?!

Aku ketiduran di stasiun. Aku terlambat sadar hujan turun dan menyelamatkan daganganku. Ah, sial! Sekarang aku harus berpikir bagaimana cara bilang ke Mang Ipul yang galak itu kalau surat kabar yang aku ambil darinya gagal kembali dalam bentuk uang dan justru kembali dalam keadan kisut-kisut terkena air.

Aku ada ide!! Bik Iyah yang jualan nasi pecel itu pakai kertas surat kabar bekas untuk membungkus, siapa tau dia mau membeli daganganku. Aku bergegas ke warung Bik Iyah di salah satu sudut stasiun, semoga masih buka. Setibanya, ternyata sudah tutup, aku gedor-gedor dan panggil Bik Iyah tidak ada jawaban. Sepertinya sudah pulang, dan aku tidak tahu rumah beliau ada di mana.

Sudah jam 9, aku harus segera ke rumah. Ibu pasti sudah berangkat entah ke mana meninggalkan Nenek sendirian. Tidak tega aku membiarkan Nenekku yang sudah sakit-sakitan itu sendirian malam-malam. Sudahlah, aku pulang saja, masalah Mang Ipul dan surat kabar sialan ini diurus besok saja.

Aku berjalan di pinggir jalan Margonda, melawan arus angkot-angkot yang menuju Pasar Minggu atau kendaraan lain yang menuju entah ke mana. Aroma bermacam makanan di sepanjang jalan yang kulewati membuat perutku semakin keroncongan. Hari ini sial sekali, pikirku. Sudah benjut ditonjok Acil, masih harus puasa makan malam, di rumah juga pasti tidak ada makanan, kalaupun ada hanya cukup untuk Nenekku.

Tiba-tiba, ada yang memanggilku. Atau aku cuma ge er ya?
“Dek…”
Aku menoleh.
Ternyata cewek itu memang memanggilku. Baju dan tasnya yang berwarna mengingatkanku pada iklan salah satu rokok di televisi.
“Ini buat kamu” katanya tersenyum sambil memberikan bungkusan kertas.
Aku menerimanya sambil bengong dan menatapnya pergi sebelum mengucapkan terima kasih. Kubuka bungkusan itu, ternyata isinya gorengan. Horeeee!!! Aku tidak jadi puasa malam ini. Langsung kulahap pisang goreng, kemudian bakwan dan tahu, aku memakannya sambil berjalan. Bodo amat.

Aku terhenti. Dari jalan kulihat Acil duduk di emperan Detos, isengin dulu ah.
“Heh, gimana dagangan?” tanyaku.
Acli melihatku setengah kaget, tapi tidak menjawab. Aku duduk di sebelahnya, kulihat embernya sudah kosong.
“Ciye… laris manis nih. Apa dibuang semua?” Yang ditanya masih tidak menjawab. Malah perutnya yang bersuara, kyuruuukkkkk…..
“Hahahaha…. Lo lapar ya? Nih, gue ada gorengan”. Kuintip bungkusan kertas yang kupegang, masih ada 2 singkong goreng. Kuberikan pada Acil. Dia menoleh, menatap ragu-ragu, tapi akhirnya diambil juga bungkusan kertas itu. Diambilnya 1 buah singkong dan sisanya dikembalikan padaku.
“Udah, buat lo semua aja. Gue udah kenyang kok”. Acil menggeleng. Kuambil lagi singkong goreng terakhir, dan memakannya bersama Acil.
“Gue sial hari ini, Cil. Liat nih, dagangan gue basah semua. Gara-garanya tadi gue ketiduran pas hujan, ya salah gue juga sih. Udah dagangan masih banyak, basah lagi. Makanya gue lagi bingung nih, gimana ngomongnya ke bos gue…”, entah kenapa aku jadi curhat ke anak yang tadi sore tempeleng-tempelengan sama aku, tapi aku tidak punya orang lain lagi untuk dicurhatin. Meskipun Acil tidak menjawab sepatah katapun, mulutku tak berhenti bicara.

“Hujan udah brenti tuh. Lu mau pulang ga?”, akhirnya Acil bersuara. Aku yang sebenarnya masih mau cerita banyak akhirnya bangkit juga dari lantai dingin emper mall mewah yang mungkin sudah terganggu dengan pemandangan anak-anak seperti aku dan Acil, mengikuti Acil yang sudah berjalan dengan ember kosong di tangannya.

Di perjalanan, kami tidak berbicara sama sekali meskipun Acil hanya berjarak 1 meter di depanku. Di persimpangan jalan gelap tempat kami berpisah jalan, Acil berhenti dan berbalik ke belakang. Dirogohnya kantong celana hitamnya, dan mengeluarkan bungkusan kertas dari kantongnya.
“Ini buat elu, kali aja bisa bantu”, katanya sambil menarik tangan kananku, meletakkan bungkusan kertas itu di genggamanku kemudian pergi.

Aku masih bengong. Ketika kubuka, isinya beberapa lembar uang ribuan dan receh gopekan.

Jumlahnya 4500.

end

nb. cerita ini murni fiktif, jka ada kesamaan apapun, itu hanya perasaan anda saja :p. harap dimaklumi segala kekurangan, maklum masih belajar :D