justrhe[dot]blogsome[dot]com

November10, 2008

Cinta Setaman

cs

Setelah menonton Cinta Setaman semalam, saya dengan sotoynya menyimpulkan bahwa film ini adalah proyek keroyokan artis-artis yang bermain di dalamnya, yang sudah begah dengan genre perfilman Indonesia dan muak dengan acara TV Indonesia.

Ketika menonton Cinta Setaman semalam, saya jadi bertanya-tanya, hei, kenapa film macam begini promosinya terkesan minim? Atau saya yang kurang gaul? sehingga baru tahu hari Sabtu kemarin padahal film ini sudah mulai tayang tanggal 16 Oktober kemarin.

Setelah menyelesaikan satu cerita di film onmibus ini, saya jadi bertanya-tanya, apa Nicholas Saputra masih mau ngopi di Starbucks?

Sebelum menonton Cinta Setaman semalam, dan disuguhi thriller Mas Suka Masukin aja dan Kawin Kontrak Lagi, timbul pertanyaan dalam otak saya. Bagaimana bisa film macam begini punya ijin tayang setelah disahkan UU Pornografi? Iklannya mondar-mandir di mana-mana pula, jauh lebih kenceng dibanding Cinta Setaman.

Film ini menyentil, bukan nabok. Tapi cukup menohok. Ga percaya? Tonton sendiri ;)

Belum pernah liat Julia Perez turun dari Metro Mini sambil bawa sekarung beras, kan? Kira-kira, apa yang dilakukan Lukman Sardi sebagai guru PMP ketika digoda siswi SMPnya dengan jurus yang dia pelajari dari seorang PSK? Penasaran gimana seperti apa Joni Iskandar sekarang? (untuk menyegarkan ingatan tentang Joni Iskandar, “Aku bukan pengemis cintaaaaaaaaaa… aaaa…”)

Makanya, dari pada dumel-dumel kehabisan Quantum of Solace, mending nonton film yang ini deh.

November8, 2008

analisa dodol tentang cara membuka manisan

Filed under: me myself & I

updated 12 Nop 2008

Tanggal 11 Nop 2008 pukul 14.47, Carica telah berhasil dibuka dengan cara yang sempat terucap dalam analisa dodol tapi tak dilakukan, pembuka botol. Tempat Carica tidak mengalami kerusakan sedikitpun, kecuali tutupnya yang mengalami beberapa luka goresan.
Rasanya? Well, NO PAIN NO GAIN.
Es, kok ngasinya cuma 1 sih? :D

carica

Beberapa minggu lalu, malam-malam ketika saya bengong di depan kulkas (ngapain coba?), saya baru ingat kalau saya punya oleh-oleh manisan dari Esti beberapa minggu yang lalu. Cacica insyrup (carica di dalam sirup?), produksi Dieng, Wonosobo (edited. maap buat orang Bondowoso yang merasa terfitnah :D ). Warna buahnya kuning muda, dipotong kecil-kecil, diberi air dan dikemas dalam wadah kaca mirip tempat selai. Rasanya? Nah itu yang saya coba cari tahu, berhubung baru kali ini saya mendengar nama buah tersebut. Saya ambil dan mulai mencoba membuka dengan memutar tutupnya sebagaimana kalau saya membuka selai. Tapi, ALAMAK!! Alot, seret, tak bergerak sedikitpun, malah tangan saya yang muter-muter. Apa karena basah jadi licin? Oke, saya lap pake kaos yang saya pake (bujug!! joroookkk), ga ada perubahan. Saya coba lagi, kali ini saya alirkan sebagian besar energi chakra (preeet) saya ke tangan kanan, tetap bergeming. Menyerah, saya pun minta tolong ke teman kosan, kebetulan waktu itu ada Diana. Korban pertama saya, gagal.

Di tengah usaha tanpa henti, timbullah analisa dodol antara anak elektro (saya) dan anak IT (Diana)

Diana: Gila, keras banget sih (sambil mengerahkan tenaga memutar tutup manisan)
Saya: Kayaknya yang ngasi ga ikhlas nih hihihihi (what an old school)
Diana: Ini buah apaan sih, Mba? Baru denger Diana ada buah namanya Carica.
Saya: Aku juga ga tau, orang ini dikasi
Saya: Apa karena dia ada airnya ya makanya kemasannya dibikin serapet mungkin jadi biar ga tumpah? Tapi kenapa ga dilapisin plastik aja ya, ato dibungkus plastik sekalian. (kritis)
Diana: Arah mutarnya salah kali, Mba.
Saya: (memutar balik tutup) Ah, ga kira-kira nih yang bikin.
Diana: Tar malah tambah rapet
Saya: (sebel)
Diana: Apa cara bukanya salah?
Saya: (membolak-balik kemasan) Masa dicungkil pake bukaan botol? Kalo dilihat dari formatnya sih ga mungkin soalnya ada cakramnya, jadi pasti diulir. Ini kan kayak tempat selai gitu kan?
Diana: Cakram… Yang cakram di motor itu apa? Pedal? Lampu?
Saya+Diana: REM!!! Ahahahahahaha!!!
Diana: Apa karena ada udara di dalamnya? Tekanan udaranya yang bikin dia jadi tambah rapet.
Saya: Kayaknya ga ada udaranya, Di. Udah keisi air semua.
Diana: Ada itu dikit
Saya: (membalik kemasan) Oh iya.
Diana: (menjepit kemasan dengan telapak kaki) Nah kalo gini kan posisinya lurus jadi ga bakal tumpah kalo kegeser
Saya: (bagian memutar dengan tangan) Kegeser aja engga. Ahahahaha
Diana: Pake apa ya? Kunci inggris nggak ada yang segede ini kan? Kalo ditusuk pake pisau juga pasti pisaunya yang leyot.
Saya: Iya, tutupnya tebel nih. Kalo pake bukaan sarden juga ga bakal kuat.
Diana: Mau juga bukanya dari bawah, dipecahin kayak celengan.
Saya: Kacanya juga tebel, Di, kalo mau mecahin harus dari ketinggian berapa?
Diana: Hahahaha…. Bahasanya dong, lebay deh. Udah lah, Mba, difoto aja dulu trus masukin blog
Saya: Ide bagus, siapa tau ada yang tau cara bukanya.

Pita si anak Farmasi keluar dari kamar.

Diana: Mba Pita, mba Pita, mau coba buka ini ga?
Pita: Apaan?
Dan berakhir dengan tenaga putar yang tak meyakinkan xixixixi

Farida si anak elektro teman saya unjuk diri

Farida: Dari tadi blom bisa, Ren.
Saya: Blom, coba deh
Farida: (muter sambil ngeden, trus bolak-balik tuh kemasan) Kayaknya ini musti dicungkil nih yang nancep-nancep ini pake pisau (maksud yang nancep-nancep adalah cakram yang saya sebut di atas)

Rini datang
Rini: (setelah gagal membuka) Kayaknya ada lapisan di luarnya tuh, jadi ga bisa diputer

Farida berjuang dengan pisau mencungkil-cungkil dan menyatakan tak ada lapisan yang menghalangi perputaran tutup. Tapi tetap gagal. Akhirnya si manisan dikembalikan ke kulkas dan ditinggal bobo :p

Sial!! Malam-malam dikerjai orang Wonosobo sampe keringetan campur sakit perut. Grmbl!!

Sampai berita ini diturunkan, si Carica masih teronggok angkuh di dalam kulkas.

November5, 2008

buku terakhir yang kamu baca apa?

Filed under: me myself & I
A: sudah baca Rectoverso?
B: belum. Apa itu?
A: www.dee-rectoverso.com
A: bukunya dee
A: plus albumnya
B: tentang apa?
A: belum baca juga :D
A: tapi udah download lagunya 1 album
B: ooo
A: buku terakhir yang kamu baca apa?
B: bukunya Balanis
B: Constantine Balanis
A: oo buku luar ya?
B: iya
A: judulnya?
B: Antenna Theory
A: hah? siyallll

Haha, begitulah kira-kira percakapan maya saya dengan seorang teman. Teman, yang dulunya sering sharing tentang buku-buku yang baru dibaca, saling merekomendasikan buku-buku yang bagus, pinjam buku dari saya (dia ga pernah minjemin saya buku :P ). Dulu pembicaraan kita tak jauh dari betapa saya mengidolakan tokoh Arai di Sang Pemimpi, bagaimana kisah terakhir Harry Potter, atau serunya gaya penulisan Dan Brown.

Memang iya, buku terakhir yang saya baca ya bukunya Balanis itu, gara-gara bikin makalah antena. Udah bahasa teknik, Inggris pula. Wong bahasa Indonesia aja ga ngerti. Ini jadi kerja dua kali, translate ke bahasa Indonesia, baru translate lagi ke bahasa manusia. Doh!!

Dulu, saya paling rajin hadir di acara book fair dan sejenisnya (hampir ga pernah absen malah), trus mborong banyak buku, meskipun ada beberapa yang ternyata isinya mengecewakan. Atau, ucluk-ucluk sendirian ke toko buku cuma untuk liat-liat atau baca-baca buku sambil nyangking 1-2 buku pas pulangnya.

Dulu, punya banyak koneksi untuk pinjam-meminjam buku. Tpmpukan novel-novel di kamar saya sempat memancing seorang teman untuk nyeletuk, “iki buku kok novel kabeh, sekali-sekali mbok buku sing serius, software opo kek, Cisco Press kek” (ini buku kok novel semua, sesekali mbok yao buku yang serius, software apa kek, Cisco Press kek). Waduh, masa di kantor ketemu Cisco, di kosan Cisco lagi :P .

Dulu, saya pasti sudah histeris berlebih waktu si A bilang “tapi udah download lagunya 1 album”. Mauuuuuuuuu!!!!!. Sekarang? lempeng.

Sekarang, boro-boro baca-baca novel, boro-boro ngeceng ke toko buku, apalagi menempuh ribuan mil untuk setor muka di book fair. Folder “Movies” di laptop saya juga sering dicuekin. Maklum, orang sibuk.

Tapi, apa iya saya sesibuk itu sampe-sampe baca buku atau nonton film aja ga sempat? Perasaan selama ini saya cuma kerja dan kuliah doang, belum jadi housewife (ehm). Sepertinya, bukan kesibukan yang membuat saya mengurangi (bukan meninggalkan) hal-hal yang dulu hampir menjadi rutinitas saya. Lalu apa?

Sepertinya, saya mulai DEWASA. Gusrak!!