justrhe[dot]blogsome[dot]com

January31, 2009

Sudahlah…

Filed under: me myself & I

Sudahlah, tak perlu kau mengenal siapa diriku
Seperti aku juga tak ingin tahu siapa engkau
cukup tahu namamu

Sudahlah, cukup dengarkan ceritaku
karena aku hanya nyaman bercerita kepada orang yang tak kukenal

Tenang saja,
suatu saat aku akan berhenti bercerita kepadamu
karena kau sudah terlalu banyak tahu diriku
mungkin kau juga sudah merasa bosan akan ocehanku

aku akan berhenti berhenti bercerita kepadamu
karena aku takut aku akan mencintaimu…

January18, 2009

Wagu!! (istilah Jawa, artinya cari sendiri)

Filed under: entry ga penting

Maksudnya?????

wagu

January15, 2009

Look what I have done

Filed under: me myself & I
Setelah sukses mencolek betis kanan saya dengan setrika panas (accidentally of course), hasil prakarya saya selanjutnya adalah ini:
pereng
Korban: panci dan 6 potong singkong
Pelaku: koki amatir yang pengen bikin singkong rebus gula jawa

Padahal airnya banyak lho, suer!! Wong saya sempat mikir “kayaknya airnya kebanyakan deh”, apinya juga ga gede dan baru saya tinggal beberapa menit buat beresin setrikaan. Keluar kamar asap sudah dimana-mana, tapi alhamdulillah saya ga sampe membakar kosan.
Apa gara-gara ada gulanya ya jadi cepet gosong? (teteeeepp menganalisa)

Jadi, ada yang mau singkong rebus gula jawa bakar?
singbak

Sampai berita ini diturunkan, rasanya masih jejedugan kayak tiba-tiba ketemu Fauzi Baadilla di Metro Mini
To Ida: maafkan aku yang menganiaya singkongmu :D

January14, 2009

Jombang-Jakarta transit Jogja

Filed under: me myself & I
Dari judulnya sudah keliatan kalo tulisan ini sudah basi untuk diposting sekarang, tapi nikmatin aja ya ;) .

Tujuan aslinya sebenernya pengen nonton sekatenan di kraton Jogja, makanya kita berangkat pas 1 Suro, 29 Desember. Sayangnya, kita salah sodara-sodara. Sekatenan itu pas malam 1 Suro, bukan pas 1 Suronya. Jadi pas kita di sana ya udah sepi. Yo wis lah. Paling engga jadi ada cerita ke Jogja :D .

Saya cuma berdua sama adek saya. Berangkat dari Jombang naik Sancaka pagi sekitar jam 8 (untung dapet tiket, kemarinnya saya beli tinggal 3 seat). Di stasiun Barat (setelah Madiun), si kereta mogok dan delay sekitar setengah jam. Jadilah kita sampai di Tugu kira-kira jam 1. Sesuai rencana awal, kita langsung ke reservasi tiket untuk cari tiket ke Jakarta (buat saya) dan ke Surabaya (buat adek saya). Prediksi saya antrian tiket sepi karena tanggal yang kami cari magak (red. nanggung). Eh, ndilalah ruameeeee. Sampai ada satpam yang bilang kalau buat besok (tanggal 30) sudah pada habis. Habis juga riwayatku, secara tanggal 31 saya masuk kerja. Untungnya, pak Satpam bilang ada mbak-mbak yang mau cancel tiketnya dan kebetulan tiketnya Argo Dwipangga ke Jakarta buat tanggal 30. Yo wis dibeli. Adek saya rencananya naik bis saja pulangnya.

Keluar dari stasiun langsung disamperin tukang becak yang menawarkan jasa pencarian hotel sampai dapat dengan ongkos 5 ribu. Yo wis ayok. Dapatlah kita hotel di Jl. Jagalan yang kalau ke Malioboro tinggal jalan, namanya Putra Sabar. Hotelnya lumayan gede untuk kelas melati, 3 lantai, ada macam-macam tarif yang ditawarkan mulai 95 ribu sampai 180 ribu. Kita sih pilih yang paling murah :D , dan ternyata kamarnya not bad lah meskipun rada sempit.

Transportasi kita kemana-mana naik becak. Rencananya sih nyewa motor tapi kata mas-mas hotelnya pake agunan sekitar 2,5 juta soalnya sebelumnya sering ilang. Ah, males banget. Warning aja, tukang-tukang becaknya kadang nyebelin. Kita mau kemana tiba-tiba dibawa kemana yang mostly nyuruh kita belanja. Sepertinya mereka ada koneksi dengan toko-toko itu, jadi kalo bawa penumpang ke situ semacam dapat komisi gitu. Seperti pengalaman saya, wong minta ke kraton, eh mampir-mampir dulu ke Dagadu lah, batik lah, sampe lukisan. Ga langsung dibawa sih, nawarin dulu. Tapi mungkin tukang becak saya ini rese, udah bilang engga masih aja dibawa ke galeri lukisan. Ya meskipun ongkosnya ga nambah, tapi kan bikin bete.

Waduh, kok mendadak mood ceritanya ilang ya. Lihat sini aja deh, biarkan gambar yang bercerita.

Eh iya, ini oleh-oleh dari saya, hasil iseng pas ngacang sendiri di Malioboro, sekarang sih udah ga ada jejaknya ;)

tato

January13, 2009

Release the Unreleased

Filed under: me myself & I
Beberapa hari yang lalu bongkar-bongkar folder di laptop, eh nemu tulisan-tulisan ga penting saya :D . Akhirnya salah satunya saya posting di sini. Alasannya? Ya kasian aja sama tuh blog lama dicuekin.

Sekarang saya mau bongkar rahasia juga (yang ga penting juga). Tulisan ini saya bikin sekitar… ummm… sekitar 2007 pokoknya pas ada Sayembara Cerpen Femina. Pasti udah pada nebak, iyah saya ikutan *blushing*.

Waktu itu ada seorang teman yang memberi info Sayembara Femina ini jauh hari sebelumnya. Tapi berhubung kesibukan saya cukup padat (alah), jadilah proyek kecil ini saya tunda-tunda. Setelah menentukan konsep dan browsing cari info untuk setting waktu tulisan saya jadilah tulisan ini dalam waktu semalam. Asli mepet soalnya besok sudah harus dikirim kalau ga mau lewat deadline.

Thanks to…
teman, yang pasti tidak mau identitasnya disebutkan di sini untuk info dan paksaannya.
Gilang, untuk inspirasi konsepnya (sepertinya kamu udah lupa)
Dewi, yang udah ngeposin tulisan ini

Sabar dong… iya iya ini mau dijawab. Ga kok, ga menang :D . Dan emang ga berharap menang, iseng doang. Lumayan tulisan saya dibaca sama penulis-penulis kondang dalam negeri macam Firbas (kata teman saya yang kerja di Femina emang juri-juri ini bacain sendiri ribuan cerpen/cerber yang masuk).

ps. setelah saya baca lagi, kok tulisan ini aneh gimana gitu *LOL*

January3, 2009

Pulang

Filed under: me myself & I

Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru

Float - Pulang

Akhirnya, rabu tanggal 24 kemaren saya bisa pulang juga, setelah sebelumnya rada kebingungan karena kehabisan tiket. Beruntung di akhir-akhir hari H dapat citilink dengan harga miling :D . Yay! Ga jadi pulang naik bis :P

Di pesawat, di sebelah kiri saya ada bapak-bapak yang ternyata korban Lumpur Lapindo. Beliau bercerita, rumah dan tokonya sudah musnah tanpa sisa. Sekarang beliau dan keluarnya numpang di rumah kerabat di Surabaya.
“Ganti ruginya baru dibayar 20%, yang 80% ga selesai-selesai. Padahal dulu janjinya bakal dibayar cash, tapi nyatanya sekarang dicicil, sebulannya 3.”
“3 maksudnya?”, tanya saya dalam hati.
Dan seakan si bapak bisa membaca pikiran saya.
“Sebulannya 30 juta. Mana anak saya masih banyak yang kuliah. Pusing saya. Anak saya itu 12.”
Selanjutnya si bapak menceritakan anak-anaknya, ada yang jadi guru, ada yang jadi arsitek, ada yang kerja di Tokyo, ada yang kuliah di Malang, di Surabaya, di Jakarta, sampai yang paling kecil masih SMP.

Lalu maksud postingan ini apa?
Ga ada apa-apa kok, cuma mau sharing cerita aja
Yakin?
Yap. Yakin :)

Sampai di Surabaya sekitar 9.30 pagi. Dari Juanda, saya naik bis Damri ke Bungurasih. Dan dari sinilah petualangan flashback saya dimulai (alah).

Oh iya, saya lupa bilang. Karena hasutan teman, akhirnya saya mampir juga di Surabaya dan menginap semalam. Yah, hitung-hitung sambil bernostalgila lagi pula saya juga sudah lama tidak ke Surabaya mengunjungi tempat saya dulu pernah tertawa dan menangis.

Sampai di Bungurasih, saya berjalan ke tempat pool bis dalam kota. Saya seperti langsung terlempar ke beberapa tahun lalu hampir tiap 2 minggu sekali saya pulang ke Jombang dan kembali ke Surabaya pada hari minggu sore. Teriakan kenek bus, agen bus luar kota, tas-tas plastik yang digantungkan di antara snack dan roti, bau apek yang sekaligus seram. Apalagi ketika sudah sampai di deretan bis dalam kota, beeeuuuhhh makin berisik tapi untung ga sampe diseret-seret. Seperti biasa, seperti 5 tahun yang lalu, saya cuek dengan teriakan mereka karena saya sudah tau di mana bis yang akan sayang tumpangi.

Damri Bungurasih-Bratang yang tidak ber-AC itu letaknya memang sedikit lebih jauh dibanding jurusan lain, hampir ujung malah. Dan sial, timing saya kurang tepat karena bis yang kosong melompong baru saja diparkir di situ. Dan bisa ditebak, bakal nunggu lama sampai sopir menginjak gas dan memutar setir menuju Bratang. Perfect timing adalah ketika bis sudah 90% terisi, jadi masih kebagian tempat duduk dan tidak berdiri. Saya dulu sering berpikir dilematis yang dilebih-lebihkan, mending mana bis yang masih kosong melompong dan harus menunggu setengah sampai satu setengah jam baru bis berangkat, atau bisa yang sudah terisi penuh dan langsung berangkat tapi harus berdiri sepanjang jalan, selama kurang lebih 1 jam?

Penumpang pertama di bis itu adalah saya. Dari dalam kaca bis yang langsung membuat otak saya menarik kesimpulan bahwa bis ini awalnya adalah bis AC karena kacanya tidak bisa dibuka, saya mengamati lalu lalang orang yang menyedot saya ke masa lalu. Cara pedagang asongan berdagang masih sama, bahkan saya masih ingat penjual gesper yang saya temui. Si bapak ini masih berjualan gesper, cara promosinya pun sama. Eh tapi, ada yang beda. Pedagang-pedagang ini sekarang berseragam :D .

Sambil menenggak air dari botol Aqua yang sudah kurang dari setengah padahal baru saya beli, saya mengedarkan pandangan ke sekitar sampai ke belakang. Argh, masih banyak bangku yang kosong. Keringat saya mengalir, saya dapat merasakannya. Bosan, saya pun melanjutkan membaca Maryamah Karpov. Sampai, ada bapak-bapak yang merusak kebahagiaan saya dengan menggeser tempat duduk dan memaksa saya memangku ransel seukuran gaban yang saya bawa. Paha saya sampai “gringgingen”.

Tak berapa lama, eh mesin dinyalakan, saya tengok ke belakang masih ada beberapa bangku yang lebum terisi, dan saya baru menunggu kira-kira 20 menit. Tidak, saya tidak akan tertipu. Harapan palsu si sopir tidak akan mengecoh saya, saya sudah amat berpengalaman. Bis ini tidak akan jalan sampai Bratang, cuma maju beberapa meter kemudian si sopir keluar lagi. Nanti kalau sudah ada penumpang berdiri, baru dia berangkat.

Bis maju, terus maju sampai belok kanan. Ternyata saya salah, si sopir sudah memutuskan untuk berangkat. What a nice surprise. Jalanan dari Bungurasih ke Bratang tidak berubah, hanya ada mall super gede di dekat bunderan. City of Tomorrow, yang kata Gilang Cito, tempat dia biasa nonton. Sampai Bratang dijemput Niya ke kosannya, yang dulunya juga kosan saya, GK35.

Makan siang di Warung Muslim, yang tetep berdiri sementara sekitarnya sudah musnah tergusur pembangunan perumahan baru di depannya. Dan lidah saya sepertinya juga pengen bernostalgia tanpa romansa, menu saya sama dengan menu favorit saya dulu. Terong dan ayam suwir, asli rasanya mantab.

Dari situ saya baru menuju ke GK35, dan lagi-lagi jalanannya masih sama. Bahkan tulisan di sebuah tembok suatu gang “AWAS NABRAK CONGOR” juga masih ada. Tapi saya rada-rada bingung karena tidak menemukan warung Bu Teh yang tehnya mampu menandingi teh botol Sosro tapi lebih terkenal dengan nama Bu Tup gara-garanya di depan warungnya ada tulisan Buka-Tutup yang digeser-geser untuk menunjukkan status si warung.

Keadaan GK35 tidak banyak berubah. Tulisan jam malam di tembok depan, kode pencet bel masing-masing penghuni, sampai pintu yang bisa dibuka oleh tiupan angin. Yang beda, parkirannya lebih luas karena tembok pembatas dibuka jadi ada akses langsung ke jendela anak Ibu kos yang dulu sempat ada gosip skandal dengan mbak Nuning *LOL*. TVnya masih sama, tapi pesawat teleponnya sudah ganti. Saya ga kemana-mana, Surabaya isinya mall doang, jadi males. Palingan beli penyet di Mulyosari, kalo di sini mungkin namanya pecel (ayam, lele, dll yang dikasi sambel).

Besoknya, langsung ke tujuan utama, resepsi nikahannya Ginta. Baru deh ke rumah ;)