Pulang
Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru
Float - Pulang
Di pesawat, di sebelah kiri saya ada bapak-bapak yang ternyata korban Lumpur Lapindo. Beliau bercerita, rumah dan tokonya sudah musnah tanpa sisa. Sekarang beliau dan keluarnya numpang di rumah kerabat di Surabaya.
“Ganti ruginya baru dibayar 20%, yang 80% ga selesai-selesai. Padahal dulu janjinya bakal dibayar cash, tapi nyatanya sekarang dicicil, sebulannya 3.”
“3 maksudnya?”, tanya saya dalam hati.
Dan seakan si bapak bisa membaca pikiran saya.
“Sebulannya 30 juta. Mana anak saya masih banyak yang kuliah. Pusing saya. Anak saya itu 12.”
Selanjutnya si bapak menceritakan anak-anaknya, ada yang jadi guru, ada yang jadi arsitek, ada yang kerja di Tokyo, ada yang kuliah di Malang, di Surabaya, di Jakarta, sampai yang paling kecil masih SMP.
Lalu maksud postingan ini apa?
Ga ada apa-apa kok, cuma mau sharing cerita aja
Yakin?
Yap. Yakin
Sampai di Surabaya sekitar 9.30 pagi. Dari Juanda, saya naik bis Damri ke Bungurasih. Dan dari sinilah petualangan flashback saya dimulai (alah).
Oh iya, saya lupa bilang. Karena hasutan teman, akhirnya saya mampir juga di Surabaya dan menginap semalam. Yah, hitung-hitung sambil bernostalgila lagi pula saya juga sudah lama tidak ke Surabaya mengunjungi tempat saya dulu pernah tertawa dan menangis.
Sampai di Bungurasih, saya berjalan ke tempat pool bis dalam kota. Saya seperti langsung terlempar ke beberapa tahun lalu hampir tiap 2 minggu sekali saya pulang ke Jombang dan kembali ke Surabaya pada hari minggu sore. Teriakan kenek bus, agen bus luar kota, tas-tas plastik yang digantungkan di antara snack dan roti, bau apek yang sekaligus seram. Apalagi ketika sudah sampai di deretan bis dalam kota, beeeuuuhhh makin berisik tapi untung ga sampe diseret-seret. Seperti biasa, seperti 5 tahun yang lalu, saya cuek dengan teriakan mereka karena saya sudah tau di mana bis yang akan sayang tumpangi.
Damri Bungurasih-Bratang yang tidak ber-AC itu letaknya memang sedikit lebih jauh dibanding jurusan lain, hampir ujung malah. Dan sial, timing saya kurang tepat karena bis yang kosong melompong baru saja diparkir di situ. Dan bisa ditebak, bakal nunggu lama sampai sopir menginjak gas dan memutar setir menuju Bratang. Perfect timing adalah ketika bis sudah 90% terisi, jadi masih kebagian tempat duduk dan tidak berdiri. Saya dulu sering berpikir dilematis yang dilebih-lebihkan, mending mana bis yang masih kosong melompong dan harus menunggu setengah sampai satu setengah jam baru bis berangkat, atau bisa yang sudah terisi penuh dan langsung berangkat tapi harus berdiri sepanjang jalan, selama kurang lebih 1 jam?
Penumpang pertama di bis itu adalah saya. Dari dalam kaca bis yang langsung membuat otak saya menarik kesimpulan bahwa bis ini awalnya adalah bis AC karena kacanya tidak bisa dibuka, saya mengamati lalu lalang orang yang menyedot saya ke masa lalu. Cara pedagang asongan berdagang masih sama, bahkan saya masih ingat penjual gesper yang saya temui. Si bapak ini masih berjualan gesper, cara promosinya pun sama. Eh tapi, ada yang beda. Pedagang-pedagang ini sekarang berseragam
.
Sambil menenggak air dari botol Aqua yang sudah kurang dari setengah padahal baru saya beli, saya mengedarkan pandangan ke sekitar sampai ke belakang. Argh, masih banyak bangku yang kosong. Keringat saya mengalir, saya dapat merasakannya. Bosan, saya pun melanjutkan membaca Maryamah Karpov. Sampai, ada bapak-bapak yang merusak kebahagiaan saya dengan menggeser tempat duduk dan memaksa saya memangku ransel seukuran gaban yang saya bawa. Paha saya sampai “gringgingen”.
Tak berapa lama, eh mesin dinyalakan, saya tengok ke belakang masih ada beberapa bangku yang lebum terisi, dan saya baru menunggu kira-kira 20 menit. Tidak, saya tidak akan tertipu. Harapan palsu si sopir tidak akan mengecoh saya, saya sudah amat berpengalaman. Bis ini tidak akan jalan sampai Bratang, cuma maju beberapa meter kemudian si sopir keluar lagi. Nanti kalau sudah ada penumpang berdiri, baru dia berangkat.
Bis maju, terus maju sampai belok kanan. Ternyata saya salah, si sopir sudah memutuskan untuk berangkat. What a nice surprise. Jalanan dari Bungurasih ke Bratang tidak berubah, hanya ada mall super gede di dekat bunderan. City of Tomorrow, yang kata Gilang Cito, tempat dia biasa nonton. Sampai Bratang dijemput Niya ke kosannya, yang dulunya juga kosan saya, GK35.
Makan siang di Warung Muslim, yang tetep berdiri sementara sekitarnya sudah musnah tergusur pembangunan perumahan baru di depannya. Dan lidah saya sepertinya juga pengen bernostalgia tanpa romansa, menu saya sama dengan menu favorit saya dulu. Terong dan ayam suwir, asli rasanya mantab.
Dari situ saya baru menuju ke GK35, dan lagi-lagi jalanannya masih sama. Bahkan tulisan di sebuah tembok suatu gang “AWAS NABRAK CONGOR” juga masih ada. Tapi saya rada-rada bingung karena tidak menemukan warung Bu Teh yang tehnya mampu menandingi teh botol Sosro tapi lebih terkenal dengan nama Bu Tup gara-garanya di depan warungnya ada tulisan Buka-Tutup yang digeser-geser untuk menunjukkan status si warung.
Keadaan GK35 tidak banyak berubah. Tulisan jam malam di tembok depan, kode pencet bel masing-masing penghuni, sampai pintu yang bisa dibuka oleh tiupan angin. Yang beda, parkirannya lebih luas karena tembok pembatas dibuka jadi ada akses langsung ke jendela anak Ibu kos yang dulu sempat ada gosip skandal dengan mbak Nuning *LOL*. TVnya masih sama, tapi pesawat teleponnya sudah ganti. Saya ga kemana-mana, Surabaya isinya mall doang, jadi males. Palingan beli penyet di Mulyosari, kalo di sini mungkin namanya pecel (ayam, lele, dll yang dikasi sambel).
Besoknya, langsung ke tujuan utama, resepsi nikahannya Ginta. Baru deh ke rumah



Mba Ren, jadi pengen.
(
Terakhir ksna agustus 08 kmaren, makan di warung muslim juga tapi g sempet beli penyet di mulyosari atw d jojoran.
jadi teringat masa lalu dsna scara sama2 sekosan
Comment by aNgE — February4, 2009 @ 2:58 pm
hwehehehe… oia nge kemaren ga ke jojoran padahal sambelnya paling manteb itu, enakk dan ga terlalu pedes
. jadi inget sego sambel deket unair, aku pernah diracun ginta ma icha di situ. puedese puolll
(
Comment by justrhe — February9, 2009 @ 10:08 am