justrhe[dot]blogsome[dot]com

April20, 2009

Ironis melankolis sadis

Filed under: me myself & I
Kemaren saya iseng buka-buka lagi buku bersampul gambar cewek metropolitan, tempat dulu saya nulis macem-macem. Mulai daftar belanjaan, project hidup yang terbengkalai, sampai draft-draft tulisan sebelum saya punya laptop dulu (caelah kaya udah jadi penulis aja :P ). Sampai pada suatu halaman yang membuat saya tertawa ngejungklak-jungklak. Apa pasal? (biasanya blog-blog keren tuh pake bahasa ini :D )

broken

Huahahahaha…. kayanya saya samar-samar ingat ada acara apa sampe saya nulis begitu, wuahahahahaha… Udah ah, masih pengen ketawa ngenes nih

HAHAHAHAHAHA……

April19, 2009

Charice Pempengco

Filed under: eh, tau ngga sih?
Pertama denger dia nyayi di Oprah Winfrey Show beberapa minggu yang lalu. Umurnya masih 14 tahun pas itu dan sukses bikin saya nganga (dalam arti sebenarnya). Suer!

Setelahnya saya nyari di youtube, katanya doi sudah terkenal di situ. Awalnya saya bingung masukin keyword wong saya lupa namanya, saya cuma tahunya dia 14 tahun dan dari Filipina. Akhirnya saya ketik saja “philipines singer on oprah”, eh ketemu dan ternyata namanya Charice Pempengco.

Woi, kenapa masih stuck di blog ini? Buruan cari di youtube, tapi ati-ati menimbulkan efek ketagihan lho. Saya seharian dengerin dia ga bakalan bosan kayanya. Kalo ga suka ya barti ada yang salah dengan telinga anda :P

April7, 2009

Centang bukan Contreng!!!!

“Lo nyoblos ga?”
“Hare genee nyoblos? Nyontreng kaliiii”

Dari jauh hari KPU sudah mensosialisasikan tata cara mencontreng, parpol yang jumlahnya puluhan itu juga gencar menyuarakan “Contreng ini!! Contreng itu!!”. Tapi pada ngerti ga sih contreng itu apa? Yaelaaah anak kecil juga tau kalo contreng itu memberi tanda semacam “check” atau mirip huruf V cuma yang belakang lebih panjang. Kenapa disebut contreng? Kalau saya nyebutnya itu centang lho. Jadilah lagi-lagi saya nanya ke Oom Badudu KBBI.

Kata pertama yang saya ketikkan di search engine adalah kata “contreng”. Hasilnya?

Tidak menemukan kata yang sesuai dengan kriteria pencarian!!!

Selanjutnya, saya mencari kata “centang”. Yang keluar ini:

1cen·tang /céntang/, cen·tang-pe·re·nang a tidak beraturan letaknya (malang melintang dsb); porak-parik; berantakan: segalanya ~ di ruangan itu;
ke·cen·tang-pe·re·nang·an n keadaan yg centang- perentang: ~ dl mengatur jadwal sering terjadi jika dilakukan terburu-buru

2cen·tang /céntang/ n tanda koreksi, bentuknya spt huruf v atau tanda cawang;
men·cen·tang v membubuhi coretan dsb pd tulisan (sbg peringatan)

3cen·tang /céntang/ v, men·cen·tang v memukul (menempeleng)

Jadi? Yang bener?

Saya ngga ngerti kenapa si JS Badudu menyebutnya “centang”. Dan saya juga ngga ngerti apa dasarnya sampai JS Badudu ini ditunjuk sebagai orang yang menentukan baku tidaknya bahasa Indonesia. Yang saya tahu KKBI karya beliau ini yang jadi patokan Bahasa Indonesia.

Lalu, kenapa KPU tidak memakai bahasa baku? Meneketehe. Mungkin pertimbangannya itu bahasa yang umum dipakai kali ya, jadi biar masyarakat enak aja dengernya. Mungkiiinn. Tapi, hei, ini judul acaranya Pemilu lho bo, bukan Idola Cilik.

Ah, sudahlah. Saya ini memang suka mikir yang ga penting. Sekarang saya lagi mikir gimana orang-orang yang sudah sepuh itu kalau mencentang mencontreng. Ga ribet apa ngebuka trus nglipet lagi kertas suara yang selebar itu?

sok2an ngomongin politik dikit, kan lagi ngetrend. Biar dibilang up to date gitu lhooooo hihihihi….

April4, 2009

Emansipasi

Tadi di KRL saya bertemu segerombolan (haduh, bahasanya dong) ABG, 3 cowok dan 2 cewek. Yang cowok hampir seragam dengan celana pensil motif kotak-kotak yang dipakai melorot plus belt, T-Shirt bergambar, sepatu keds, dan tatanan rambut mirip vokalis Kangen Band. Sedangkan yang cewek memakai celana pendek, sepatu keds bermotif, T-shirt bertuliskan kata-kata dalam bahasa Inggris, rambutnya satu dikuncir ekor kuda satunya lagi digerai dengan benang merah yang menghubungkan mereka: poni miring. Haha, ga penting ya? Ini cuma mau menjelaskan kenapa saya menyebut mereka ABG (hayo, pasti pada protes “jangan menilai dari penampilan dong”, terserah deh :P ). Karena lumayan penuh beberapa orang harus berdiri, termasuk mereka, dan saya yang berdiri 1 meter dari mereka dan bertanya-tanya “Ini anak-anak pada ga sekolah apa ya?”

Tidak lama kemudian, dua Ibu yang duduk di depan mereka berdiri karena mau turun. Dengan sigap satu cowok langsung mengambil alih tempat duduk, disusul cewek berkuncir. Cewek satu lagi langsung pasang muka manyun. Menyadari temannya ga dapat tempat duduk, si cewek berkuncir langsung ngedumel ke cowok di sebelahnya.
Cewek berkuncir: Lo gimana sih ada cewek berdiri malah duduk?
Cowok duduk: Ah, kalian ini bilangnya emansipasi wanita tapi disuruh berdiri ga mau.
Meskipun akhirnya dia merelakan juga tempat duduknya buat temennya yang cewek.

Eh, itu yang ngomong emansipasi emansipasi itu… jadi pengen nyela saya. Tapi ya masa saya mau berdebat sama ABG? Bukan masalah ga level atau beda generasi ya (haduh, beda generasi bo), tapi ya takutx tar aq gag ngrti ma bhsx dy gt looo…

Tadi mau ngomongin apa ya? Oh iya, EMANSIPASI. Lebih ngetrendnya dilengkapi dengan wanita, jadinya emansipasi wanita. Saya sering lho menerima respon dan komentar serupa dari pria-pria seperti yang dialami ABG berkuncir tadi.

Sebenarnya emansipasi itu apa sih? Yang dulunya Ibu Kartini memperjuangkannya untuk kekuatan wanita kok sekarang jadinya memojokkan wanita. Kalau menurut KBBI online, emansipasi itu:

eman·si·pa·si /émansipasi/ n 1 pembebasan dr perbudakan; 2 persamaan hak dl berbagai aspek kehidupan masyarakat (spt persamaan hak kaum wanita dng kaum pria): Kartini adalah tokoh — wanita Indonesia;
— wanita proses pelepasan diri para wanita dr kedudukan sosial ekonomi yg rendah atau dr pengekangan hukum yg membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju

Lalu, ada hubungannya sama masalah duduk dan berdiri di atas? Engga kan? Tentang cowok harus berdiri dan memberikan tempat duduknya ke cewek itu masalah tata krama. Jadi kalau kaki kalian sampai kram setelah memberikan tempat duduk ke cewek, ya itu derita lu! jangan gunakan kata “Emansipasi” untuk menyerang balik, komplain sana ke tata krama.

Beberapa orang berpikir bahwa emansipasi itu adalah persamaan antara pria dan wanita, sama dalam artian semuamuanya. Apa yang dilakukan pria dicopy-paste ke wanita. Padahal kan engga. Coba cek KBBI di atas deh, di situ disebutkan persamaan HAK, bukan persamaan HAK DAN KEWAJIBAN *nyengir iblis*. Jadi maksudnya bukan berarti wanita itu HARUS melakukan apapun yang biasa dikerjakan pria, tapi BOLEH, suka-suka dia mau apa engga.

Bahkan ada yang bikin saya risih lagi kalau ada sesama wanita yang mengomentari pilihan wanita yang mau jadi ibu rumah tangga. “Aduh, hari gini kok kerjanya cuma di dapur dan di kasur sih, jeng. Emansipasi apa kabarnya?” Hei, emansipasi itu kebebasan, jeng. Kebebasan berpikir dan menentukan sikap (bukan bebas yang bas bas tentunya), termasuk menentukan pilihannya. Jadi kalau ada yang memilih meninggalkan karir dan terjun ke dapur itu urusan dia. Selama dia bahagia sama pilihannya ya so what? Emansipasi apa kabarnya? Baik-baik saja :P