Centang bukan Contreng!!!!
“Hare genee nyoblos? Nyontreng kaliiii”
Dari jauh hari KPU sudah mensosialisasikan tata cara mencontreng, parpol yang jumlahnya puluhan itu juga gencar menyuarakan “Contreng ini!! Contreng itu!!”. Tapi pada ngerti ga sih contreng itu apa? Yaelaaah anak kecil juga tau kalo contreng itu memberi tanda semacam “check” atau mirip huruf V cuma yang belakang lebih panjang. Kenapa disebut contreng? Kalau saya nyebutnya itu centang lho. Jadilah lagi-lagi saya nanya ke Oom Badudu KBBI.
Kata pertama yang saya ketikkan di search engine adalah kata “contreng”. Hasilnya?
Tidak menemukan kata yang sesuai dengan kriteria pencarian!!!
Selanjutnya, saya mencari kata “centang”. Yang keluar ini:
1cen·tang /céntang/, cen·tang-pe·re·nang a tidak beraturan letaknya (malang melintang dsb); porak-parik; berantakan: segalanya ~ di ruangan itu;
ke·cen·tang-pe·re·nang·an n keadaan yg centang- perentang: ~ dl mengatur jadwal sering terjadi jika dilakukan terburu-buru
2cen·tang /céntang/ n tanda koreksi, bentuknya spt huruf v atau tanda cawang;
men·cen·tang v membubuhi coretan dsb pd tulisan (sbg peringatan)
3cen·tang /céntang/ v, men·cen·tang v memukul (menempeleng)
Jadi? Yang bener?
Saya ngga ngerti kenapa si JS Badudu menyebutnya “centang”. Dan saya juga ngga ngerti apa dasarnya sampai JS Badudu ini ditunjuk sebagai orang yang menentukan baku tidaknya bahasa Indonesia. Yang saya tahu KKBI karya beliau ini yang jadi patokan Bahasa Indonesia.
Lalu, kenapa KPU tidak memakai bahasa baku? Meneketehe. Mungkin pertimbangannya itu bahasa yang umum dipakai kali ya, jadi biar masyarakat enak aja dengernya. Mungkiiinn. Tapi, hei, ini judul acaranya Pemilu lho bo, bukan Idola Cilik.
Ah, sudahlah. Saya ini memang suka mikir yang ga penting. Sekarang saya lagi mikir gimana orang-orang yang sudah sepuh itu kalau mencentang mencontreng. Ga ribet apa ngebuka trus nglipet lagi kertas suara yang selebar itu?
sok2an ngomongin politik dikit, kan lagi ngetrend. Biar dibilang up to date gitu lhooooo hihihihi….


