ES Ito dan The Lonely Planet
Membaca tulisan ES Ito seperti membaca buku sejarah tapi dalam versi non membosankan, sekaligus mendorong keinginan untuk mempelajari sejarah Indonesia.
Tapi, untuk manusia awam sejarah seperti saya, jadinya seperti mengaburkan sejarah. Bingung dan ragu antara sejarah dan fiksi.
Tapi, untuk manusia awam sejarah seperti saya, jadinya seperti mengaburkan sejarah. Bingung dan ragu antara sejarah dan fiksi.
Beberapa hari yang lalu di TM Bookstore Depok Town Square
“Ren, lo kayanya suka buku-buku tentang travelling. Beli tuh The Lonely Planet.”
“Engga ah.”
“Kenapa?”
“Hehehe…”
Saya cuma nyengir sambil berkata dalam hati “salahkan Franz Wisner sehingga penjualan The Lonely Planet berkurang 1 eksemplar”.


