justrhe[dot]blogsome[dot]com

April7, 2009

Centang bukan Contreng!!!!

“Lo nyoblos ga?”
“Hare genee nyoblos? Nyontreng kaliiii”

Dari jauh hari KPU sudah mensosialisasikan tata cara mencontreng, parpol yang jumlahnya puluhan itu juga gencar menyuarakan “Contreng ini!! Contreng itu!!”. Tapi pada ngerti ga sih contreng itu apa? Yaelaaah anak kecil juga tau kalo contreng itu memberi tanda semacam “check” atau mirip huruf V cuma yang belakang lebih panjang. Kenapa disebut contreng? Kalau saya nyebutnya itu centang lho. Jadilah lagi-lagi saya nanya ke Oom Badudu KBBI.

Kata pertama yang saya ketikkan di search engine adalah kata “contreng”. Hasilnya?

Tidak menemukan kata yang sesuai dengan kriteria pencarian!!!

Selanjutnya, saya mencari kata “centang”. Yang keluar ini:

1cen·tang /céntang/, cen·tang-pe·re·nang a tidak beraturan letaknya (malang melintang dsb); porak-parik; berantakan: segalanya ~ di ruangan itu;
ke·cen·tang-pe·re·nang·an n keadaan yg centang- perentang: ~ dl mengatur jadwal sering terjadi jika dilakukan terburu-buru

2cen·tang /céntang/ n tanda koreksi, bentuknya spt huruf v atau tanda cawang;
men·cen·tang v membubuhi coretan dsb pd tulisan (sbg peringatan)

3cen·tang /céntang/ v, men·cen·tang v memukul (menempeleng)

Jadi? Yang bener?

Saya ngga ngerti kenapa si JS Badudu menyebutnya “centang”. Dan saya juga ngga ngerti apa dasarnya sampai JS Badudu ini ditunjuk sebagai orang yang menentukan baku tidaknya bahasa Indonesia. Yang saya tahu KKBI karya beliau ini yang jadi patokan Bahasa Indonesia.

Lalu, kenapa KPU tidak memakai bahasa baku? Meneketehe. Mungkin pertimbangannya itu bahasa yang umum dipakai kali ya, jadi biar masyarakat enak aja dengernya. Mungkiiinn. Tapi, hei, ini judul acaranya Pemilu lho bo, bukan Idola Cilik.

Ah, sudahlah. Saya ini memang suka mikir yang ga penting. Sekarang saya lagi mikir gimana orang-orang yang sudah sepuh itu kalau mencentang mencontreng. Ga ribet apa ngebuka trus nglipet lagi kertas suara yang selebar itu?

sok2an ngomongin politik dikit, kan lagi ngetrend. Biar dibilang up to date gitu lhooooo hihihihi….

April4, 2009

Emansipasi

Tadi di KRL saya bertemu segerombolan (haduh, bahasanya dong) ABG, 3 cowok dan 2 cewek. Yang cowok hampir seragam dengan celana pensil motif kotak-kotak yang dipakai melorot plus belt, T-Shirt bergambar, sepatu keds, dan tatanan rambut mirip vokalis Kangen Band. Sedangkan yang cewek memakai celana pendek, sepatu keds bermotif, T-shirt bertuliskan kata-kata dalam bahasa Inggris, rambutnya satu dikuncir ekor kuda satunya lagi digerai dengan benang merah yang menghubungkan mereka: poni miring. Haha, ga penting ya? Ini cuma mau menjelaskan kenapa saya menyebut mereka ABG (hayo, pasti pada protes “jangan menilai dari penampilan dong”, terserah deh :P ). Karena lumayan penuh beberapa orang harus berdiri, termasuk mereka, dan saya yang berdiri 1 meter dari mereka dan bertanya-tanya “Ini anak-anak pada ga sekolah apa ya?”

Tidak lama kemudian, dua Ibu yang duduk di depan mereka berdiri karena mau turun. Dengan sigap satu cowok langsung mengambil alih tempat duduk, disusul cewek berkuncir. Cewek satu lagi langsung pasang muka manyun. Menyadari temannya ga dapat tempat duduk, si cewek berkuncir langsung ngedumel ke cowok di sebelahnya.
Cewek berkuncir: Lo gimana sih ada cewek berdiri malah duduk?
Cowok duduk: Ah, kalian ini bilangnya emansipasi wanita tapi disuruh berdiri ga mau.
Meskipun akhirnya dia merelakan juga tempat duduknya buat temennya yang cewek.

Eh, itu yang ngomong emansipasi emansipasi itu… jadi pengen nyela saya. Tapi ya masa saya mau berdebat sama ABG? Bukan masalah ga level atau beda generasi ya (haduh, beda generasi bo), tapi ya takutx tar aq gag ngrti ma bhsx dy gt looo…

Tadi mau ngomongin apa ya? Oh iya, EMANSIPASI. Lebih ngetrendnya dilengkapi dengan wanita, jadinya emansipasi wanita. Saya sering lho menerima respon dan komentar serupa dari pria-pria seperti yang dialami ABG berkuncir tadi.

Sebenarnya emansipasi itu apa sih? Yang dulunya Ibu Kartini memperjuangkannya untuk kekuatan wanita kok sekarang jadinya memojokkan wanita. Kalau menurut KBBI online, emansipasi itu:

eman·si·pa·si /émansipasi/ n 1 pembebasan dr perbudakan; 2 persamaan hak dl berbagai aspek kehidupan masyarakat (spt persamaan hak kaum wanita dng kaum pria): Kartini adalah tokoh — wanita Indonesia;
— wanita proses pelepasan diri para wanita dr kedudukan sosial ekonomi yg rendah atau dr pengekangan hukum yg membatasi kemungkinan untuk berkembang dan untuk maju

Lalu, ada hubungannya sama masalah duduk dan berdiri di atas? Engga kan? Tentang cowok harus berdiri dan memberikan tempat duduknya ke cewek itu masalah tata krama. Jadi kalau kaki kalian sampai kram setelah memberikan tempat duduk ke cewek, ya itu derita lu! jangan gunakan kata “Emansipasi” untuk menyerang balik, komplain sana ke tata krama.

Beberapa orang berpikir bahwa emansipasi itu adalah persamaan antara pria dan wanita, sama dalam artian semuamuanya. Apa yang dilakukan pria dicopy-paste ke wanita. Padahal kan engga. Coba cek KBBI di atas deh, di situ disebutkan persamaan HAK, bukan persamaan HAK DAN KEWAJIBAN *nyengir iblis*. Jadi maksudnya bukan berarti wanita itu HARUS melakukan apapun yang biasa dikerjakan pria, tapi BOLEH, suka-suka dia mau apa engga.

Bahkan ada yang bikin saya risih lagi kalau ada sesama wanita yang mengomentari pilihan wanita yang mau jadi ibu rumah tangga. “Aduh, hari gini kok kerjanya cuma di dapur dan di kasur sih, jeng. Emansipasi apa kabarnya?” Hei, emansipasi itu kebebasan, jeng. Kebebasan berpikir dan menentukan sikap (bukan bebas yang bas bas tentunya), termasuk menentukan pilihannya. Jadi kalau ada yang memilih meninggalkan karir dan terjun ke dapur itu urusan dia. Selama dia bahagia sama pilihannya ya so what? Emansipasi apa kabarnya? Baik-baik saja :P

March7, 2009

Ga boleh ngapain?

plastik

Ga boleh dipake untuk bungkus kepala?
Ga boleh dipake sebagai shower cap?
Ga boleh melongo?
Ga boleh merem?
Ga boleh mencekik leher?

Terjemahkan sendiri :P

Gambar ini ada di sebuah plastik

February9, 2009

Dedikasi bisa mengalahkan segalanya?

Jadi kemarin (kalau ga salah), pas saya nonton TV dan di SCTV ada acara entah apa yang pasti outdoor live music gitu deh. Nah kebetulan pas saya nonton pas yang tampil Dewi-Dewi (eh sekarang jadi Mahadewi ya?). Tapi mereka ga sendiri, ga cuma berdua, ada 2 cowok yang ngerap. Awalnya sih saya ga tau mereka siapa sampai akhirnya ada tulisan Mahadewi feat. The Law & Samxxx (maaf lupa saya). Lho?? The Law???

Sudah pada kenal The Law kan? Atau yang sudah kenal, masih ingat kan?

Yap!! Itu dia, sekumpulan pemuda antah berantah yang menciptakan lagu dengan lirik yang mendewakan Dewa, mencaci maki band lain dan sebuah lagu khusus untuk menghina Duo Maia. Pertama saya dengar lagu itu, kesan yang saya dapat: SAMPAH! Saya bukan pembela Maia, bukan juga pembenci Dhani, bodo amat lah sama urusan mereka. Tapi saya berhak dong menyaring apa yang masuk ke telinga saya, dan apa yang diteriakkan The Law itu bukan konsumsi yang baik untuk telinga saya.

Coba baca liriknya di sini dan di sini. Sudah? Hmmm… menurut anda?
Apa pantas bahasa seperti itu disebut karya musisi? Ah udah lah ga usah jauh-jauh musisi, itu sih kayak bahasa preman, bahasa orang ga pernah sekolah, orang GA BERPENDIDIKAN, ga punya tata krama. Berlagak pake bahasa Inggris tapi yang dikuasai dan ditonjolkan cuma kata “efyusikei”.

Dan, mereka ga sadar kalo umpatan mereka itu bisa dibalikkan ke mereka sendiri.

dan di mana Bambang anaknya Hotma
ganti nama jadi Bams (yaelah)

Lah itu Wulansari jadi Mulan Jameela gimana critanya?

Dan Kerispatih, vokalisnya kok lucu
itu mikrofon sama giginya beradu
gosipnya sih, lo dan vokalisnya Ungu udah tuker cincin
ternyata lo homo

Oh hellooooo…. no comment deh

Piyu Padi sama Didi Element
lo cuma anak kemaren jangan belagak keren
kalo ketemu gue, nanti lo gue backhand
bikin lo meringis kayak cewek yang lagi mens

Tuh kan preman…

suck my butt semua band pop
kiss my butt semua band pop
lo nggak akan bertahan lama, lu cuma sementara
hip hop akan terus berjaya
we’re gonna fuck you up

Saya ini ga ngerti-ngerti banget tentang musik, tapi setau saya Dewa itu bisa dikategorikan Pop Band deh, dan kalau dia ngefans sama Dewa kok bilang hip hop akan terus berjaya?

lu obral cinte di lagu lo pade

Hmmm… bukannya Dewa itu di bawah manajemen Republik CINTA?

Ello kayak homo yang belagak macho
Agnes Monica bikin gue konak selalu

Bentar-bentar, judulnya Menghujat Pop Band kan? Lha ini kok bawa-bawa Ello sama AgMon?

Gaya harajuku lu lebih mirip cewe brengsek
Ibu tiga anak kok gayanya seperti bom sex

Si Mulan itu bukannya punya anak juga?

Oke, mungkin saya sudah terlambat membahas The Law ini, tapi apa yang saya lihat kemarin cukup bikin kaget. Kok si Master Mister Ahmad Dhani ini merekrut pencipta lagu yang saya sebut SAMPAH ini ke Republik Cinta. Saya bukan musisi, apalagi mendapat penghargaan sekelas Gesang. Jadi saya nggak ngerti alasan apa sampai si Master Mister ini merangkul pembuat lagu sampah. Saya juga ga ngerti apa bagusnya lagu itu, nadanya? Saya ga ngerti rap. Cuma bahasa yang dipakai itu lho yang membuat saya menyebutnya sebagai sampah. Gak mungkin dong sekelas Master Mister merekrut seseorang hanya melihat dedikasi tinggi yang ditunjukkan dengan karya yang menjelek-jelekkan lawan? Ah sudahlah, biarlah hanya Tuhan dan Dhani yang tahu. Gak penting!! Yang lebih ga penting lagi kenapa saya menganalisa lagu sampah ini? AHAHAHAHAHAHA!!!!

Hihihihi… saya harus siap-siap kalau sebentar lagi Baladewa menyerbu saya. Piss dong ah, saya bukan Dhani atau Dewa hater, saya ini MU hater (nah bentar lagi saya diserbu fansnya MU nih). Atau jangan-jangan ada yang bakal bikin lagu yang menghujat saya? :D . Kalau gitu saya minta bantuan Balareny aja deh wakwakwakwakwak….

November10, 2008

Cinta Setaman

cs

Setelah menonton Cinta Setaman semalam, saya dengan sotoynya menyimpulkan bahwa film ini adalah proyek keroyokan artis-artis yang bermain di dalamnya, yang sudah begah dengan genre perfilman Indonesia dan muak dengan acara TV Indonesia.

Ketika menonton Cinta Setaman semalam, saya jadi bertanya-tanya, hei, kenapa film macam begini promosinya terkesan minim? Atau saya yang kurang gaul? sehingga baru tahu hari Sabtu kemarin padahal film ini sudah mulai tayang tanggal 16 Oktober kemarin.

Setelah menyelesaikan satu cerita di film onmibus ini, saya jadi bertanya-tanya, apa Nicholas Saputra masih mau ngopi di Starbucks?

Sebelum menonton Cinta Setaman semalam, dan disuguhi thriller Mas Suka Masukin aja dan Kawin Kontrak Lagi, timbul pertanyaan dalam otak saya. Bagaimana bisa film macam begini punya ijin tayang setelah disahkan UU Pornografi? Iklannya mondar-mandir di mana-mana pula, jauh lebih kenceng dibanding Cinta Setaman.

Film ini menyentil, bukan nabok. Tapi cukup menohok. Ga percaya? Tonton sendiri ;)

Belum pernah liat Julia Perez turun dari Metro Mini sambil bawa sekarung beras, kan? Kira-kira, apa yang dilakukan Lukman Sardi sebagai guru PMP ketika digoda siswi SMPnya dengan jurus yang dia pelajari dari seorang PSK? Penasaran gimana seperti apa Joni Iskandar sekarang? (untuk menyegarkan ingatan tentang Joni Iskandar, “Aku bukan pengemis cintaaaaaaaaaa… aaaa…”)

Makanya, dari pada dumel-dumel kehabisan Quantum of Solace, mending nonton film yang ini deh.

October17, 2008

menurut saya itu pertanyaan konyol

“telur dulu atau ayam dulu?”
Seringkali pertanyaan itu muncul dalam sebuah debat kusir atau forum lainnya. Dan anehnya, sudah menjadi semacam quote yang terkenal seterkenal “Eureka!” nya Archimedes, “Veni Vidi Vici” nya Julius Caesar atau “Terlalu!” nya Rhoma Irama (ehehehe). Lebih anehnya lagi, orang masih saja terdiam bingung mendengar pertanyaan tersebut seolah merupakan retorika terbaik sepanjang abad.

Sekarang saya balik tanya, menurut Anda, apa dulunya Tuhan itu menciptakan kita dalam bentuk embrio atau zigot? Jadi, kenapa masih pusing dengan telur dan ayam? (pusing gimana beli telur dan ayam, mungkin.)

August27, 2008

risih deh

Sebenarnya ini hal yang mungkin kurang begitu penting bagi yang sok penting dan sok sibuk (kalo sok sibuk sih saya sendiri), tapi cukup membuat saya risih hingga harus menulisnya di sini.

Awalnya, ketika di jalan saya tiba-tiba melihat ada tulisan semisal:
mobil di jual
rumah di sewakan

Duh, penulisan yang salah. Risih, tapi bodo amat.

Tapi, kok meluas. Ketika chat dengan teman:
mana enak di makan?
sudah di kirim belum?

Maaf, saya tidak bisa tinggal diam. Risih. Biasanya, saya koreksi kalimat tadi dengan:
dimakan bukan di makan
dikirim bukan di kirim

Puncaknya, ketika saya menemukan gosip ini dari media sekelas detik.com. Duh, gimana ga tambah risih?

Jadi begini ya teman-teman, harap diperhatikan penulisan “di” tadi. Ya maaf kalo bawel, bukan maksud mau sok nasionalis, sok jadi pemuda yang menepati sumpah ketiganya (cekbebicek Sumpah Pemuda). Saya juga tidak tau kenapa JS. Badudu dipilih sebagai panutan dalam perbahasa Indonesiaan. Hanya saja, SAYA RISIH. Mungkin bisa saya jelaskan sedikit agar lebih jelas (nyamar jadi guru Bahasa Indonesia)
“di” itu mempunyai 2 fungsi, yaitu sebagai awalan dan sebagai kata depan. Jika di berfungsi sebagai awalan, biasanya sih ditulisnya di-, maka penulisannya harus disambung dengan kata dasarnya. Sedangkan jika “di” berfungsi sebagai kata depan, cara penulisannya dipisah.

Bagaimana cara membedakannya?
Gampang
“di” berfungsi sebagai awalan jika kata yang mengikutinya adalah kata kerja, atau dalam susunan kalimat SPOK menduduki posisi P (Predikat). Sedangkan jika kata yang mengikutinya menempati posisi buncit K (Keterangan), biasanya menunjukkan tempat, maka fungsinya sebagai kata depan.

Contohnya?
dimakan
diminum
dicium
dipeluk
di rumah
di pantai
di gunung

Masih ngeyel juga? Saya kasih analogi simpelnya deh kalo gitu. Itu yang nulis di makan, nulis me makan juga? Penulisan kata kerja sebagai kalimat aktif maupun pasif harus diperlakukan sama toh?

August9, 2008

Tentang Seseorang Bernama Bambang

Bambang itu…
Muka bokep, ga cakep-cakep amat tapi pacarnya cantik-cantik

Bambang itu…
Punya orang tua yang kaya raya durjana

Bambang itu…
Ponakannya pengacara terkenal

Bambang itu….
Vokalis salah satu band Indonesia yang suaranya pas-pasan

Bukan tipe saya banget.

Tapiiii…. pagi ini di Mustang double eight, sambil mencari kostum yang pas untuk hari ini, kudengar suaranya…

Keetika kau ada di sam-ping-ku
Hidupkupun terasa dammai
Seperti yang tak terba-YANG-KAN-DA-LAM benakku
Di saat hatiku ada di hatimmu
Duniapun menjadi indah (ngaco kayaknya)

Aaaahhhhh…. Bambanggg… baru kusadari ternyata kau memiliki artikulasi yang matabs, fonem-fonem bahasa Indonesia begitu sempurna keluar dari mulutmu. Oh Bambang…. Om JS Badudu sepertinya harus mengoleksi albumnya Samsons nih ;)

Coba kalau yang nyanyi Ahmad Dhani CS:
keetchika kau adha di sampingku
hidupku pun tcherasa damai
sepertchi yang tchak tcherbayangkan dhalam benakkhu
di saat hatchiku ada di hatchimu…
akupun hatchi hatchi *bersin*

August4, 2008

fiktif belaka

“What can I do for you?”

“Just hug me and let me cry. I’ll be fine tomorrow.”

July19, 2008

Cina atau Ch(a)ina?

Akhir-akhir ketika saya nonton berita di Metro TV, jadi ada sesuatu yang mengganjal di hati. Pasalnya, semua pembaca berita di Metro TV yang saya dengar, ketika menyebut Cina, tidak dengan Cina dalam bahasa Indonesia tetapi China in English (Chaina, dengan ada sisipan huruf “a” sebelum “i”) padahal beritanya dalam bahasa Indonesia.

Akhirnya saya cari ke pusat bahasa, dan nemunya Cina bukan China. Tapi masalahnya dalam kbbi online ini tidak dilengkapi dengan cara pengucapannya. Tapi setahu saya bahasa Indonesia itu tidak ribet, cara pengucapannya ya sama dengan susunan katanya, tidak seperti bahasa Inggris atau bahasa Sunda.

Jadi yang benar mana? Cina atau Ch(a)ina?