justrhe[dot]blogsome[dot]com

February20, 2008

For you, a thousand times over

Memvisualisasikan sebuah buku menjadi film bukanlah hal yang dianggap asing lagi, bahkan terasa ada semacam hukum tak tertulis yang memfardhukan untuk memproduksi film dari sebuah novel bertag “Best Seller”. Tercatat sudah beberapa judul film adaptasi buku yang membuat rumah produksi meraup keuntungan besar dan melejitkan nama aktor/aktrisnya. Misalnya Harry Potter yang ,buku seri selanjutnya sudah full booked bahkan sebelum JK Rowling menyelesaikan paragraf pertamanya, mungkin Warner Bros bakal ditimpukin jika iseng tidak mau melanjutkan kisah petualangan Harry Potter dalam bentuk gambar 3 dimensi bergerak. The Da Vinci Code, Perfume (Story of a Murderer), dan sekarang saya sedang menunggu Ayat-Ayat Cinta a.k.a AAC (jangan selipkan huruf D ya) yang tak kunjung premiere sedangkan gosipnya sudah ada bajakan yang beredar yang mana dapatnya dari badan sensor (ahaha paraaah pol polan kalo bener).

The Kite Runner, novel tahun 2003 karya seorang penulis kelahiran Afghanistan Khaled Hosseini. Novel bersetting Kabul, Afghanistan (tempat kelahiran Khaled Hosseini) tahun ‘70 an ini berisi tentang persahabatan, hubungan Ayah dan anak, loyalitas, keberanian, pengorbanan, dengan disertai gambaran kondisi penduduk negara itu atas perang yang terjadi serta penguasaan Taliban atasnya. Kisahnya bikin mewek, tapi bukan karena kelembekan tokoh di dalamnya tapi justru karena kekuatannya. Ada beberapa bagian yang sepertinya kisah klasik, pasaran dan biasa, tapi mungkin karena cara penulisan Khaled yang membuatnya menghasilkan sensasi yang tak biasa ketika membacanya. Misalnya ketika ternyata Hassan adalah…, atau ketika Ibu Hassan…

International best seller, diterjemahkan dalam 42 bahasa, mendapat penghargaan dari UNHCR, mungkin itulah yang beberapa alasan Paramount membeli hak buku tersebut untuk diangkat dalam layar lebar dengan memproduksi filmnya. Setelah mengalami penundaan launching film karena kekhawatiran atas keselamatan aktor-aktor cilik di dalamnya, akhirnya pada Desember 2007 kemarin The Kite Runner movie dilaunching, meskipun beberapa waktu kemudian keempat aktor ciliknya diungsikan dari Afghanistan.

Saya rasa ada beban tersendiri bagi produser film yang mengadaptasi dari buku, terutama best seller yang dibaca jutaan manusia di dunia. Jutaan otak ini pasti memiliki imajinasi dan persepsi masing-masing dari buku tadi. Nah, film yang mengadaptasinya harus bisa membangun karakter, setting, alur dan plot dalam 3 dimensi yang mewakili imajinasi mayoritas otak tadi.

Saya sudah menonton filmnya beberapa hari yang lalu. Terima kasih untuk teman saya yang saya rampok bandwidthnya untuk mendownload film ini, percayalah kau tidak akan menyesal setelah menyaksikan filmnya, sayang suaranya kecil banget. Dan saya rasa Marc Forster dan krunya sudah bekerja keras untuk membuat film berdurasi sekitar 125 menit ini. Meskipun ada beberapa bagian yang dihilangkan (itu pasti) tapi film ini sudah mampu mewakili apa yang bergerak di otak saya ketika membaca novel ini sekitar 2 tahun yang lalu, kecuali pada penataan rumah Afghanistan tahun 1978 yang saya pikir tidak semodern di film itu.

Aktor-aktor cilik pemeran Amir, Hassan, Sohrab dan Assef semuanya adalah aktor baru, jadi ini adalah debut mereka, tapi mereka sudah menampilkan karakter yang kuat atas tokoh yang mereka perankan. Saya suka Ahmad Khan Mahmidzada yang memerankan Hassan kecil, wajahnya bloon bloon lucu, pengen rasanya menciumnya. Hal yang membuat sangat miris adalah adegan di panti asuhan yang mana pemandangan anak-anak kecil berlari dengan satu kali dibantu kruk, anak kecil dengan lengan kemeja terkulai karena tak ada lengan di dalamnya, seakan menjadi hal yang biasa. Kemudian pengasuh panti asuhan dengan dilemanya harus menyerahkan 1 anak tiap 1 bulan pada Taliban dan membiarkan Allah menjadi hakimnya.

Sayangnya, emosinya sedikit kurang dibanding ketika saya membaca novelnya. Saya nggak bilang filmnya jelek, tapi lebih bagus novelnya. Jadi sebelum nonton film ini saya sarankan baca novelnya dulu. Karena bisa jadi film ini terkesan biasa tanpa membaca novelnya, bisa jadi kesan yang terbaca atas sikap tokohnya tidak terwakili, bisa jadi sikap Amir yang sebenarnya menderita karena rasa bersalah tertangkap sebagai sikap anak nakal yang menyebalkan.

Dari 2 novel Khaled Hosseini, semuanya happy ending, meskipun banyak kehilangan sebelumnya. Kisah The Kite Runner diakhiri dengan Amir yang berlari mengejar layang-layang untuk Sohrab dan mengatakan kalimat yang dulunya selalu diucapkan Hassan, ayah Sohrab, pada Amir, “For you, a thousand times over”.

Saya tidak akan membuat sinopsis film ini, sebaiknya langsung ikuti sendiri kisahnya dan termehe mehe selama 2 jam. Saya berani menjamin yang nonton pasti tidak akan kecewa (kalau kecewa boleh jitak saya deh hehehe). Kalian yang sudah baca novelnya, buruan nonton. Yang belum baca novelnya, buruan nonton (juga) tapi baca dulu novelnya. Meskipun bukan puyer, tapi saya memberi novel dan buku ini bintang tujuh ahahaha.

Oh iya, saya sedang menunggu novel kedua Khaled Hosseini, A Thousand Splendid Suns, difilmkan juga ;)

September9, 2007

Cintapuccino: Novel vs Film

novel

Cintapuccino, saya membaca novel ini sekitar awal atau pertengahan 2004. Chiclit Indonesia pertama di Indonesia sekaligus buku pertama yang membuat saya berpindah bacaan dari buku-buku psikologi macam Chicken Soup ke Chicklit. Saya benar-benar jatuh cinta sama tulisan Icha Rahmanti ini, emosinya sampai terbawa berhari-hari, bahkan sampai sekarang, mungkin *hiperbola*. Sekitar tahun 2005 saya mendapat berita bahwa novel ini akan difilmkan. Duh, tak sabar menanti. Saya berandai-andai, yang memerankan Apradita Arrahmi adalah Dian Sastro (maklum waktu itu lagi gandrung *alah, gandrung* sama DisTro), dan yang memerankan Dimas Geronimo adalah Fauzi Baadilla.

filmAkhirnya, akhir Agustus kemarin, film ini dilaunching. Melihat aktor pemeran Nimo-nya, sebenarnya saya sudah mulai ilfil. Tapi, berdalih penasaran, akhirnya saya tonton juga film ini. Hasilnya… duh emosinya nggak dapet sama sekali, beda jauh dengan novelnya. Setidaknya itu pendapat subjektif saya berdasar emosi yang saya tangkap setelah baca novelnya sekitar 3 tahun yang lalu. Saya ragu Icha Rahmanti puas dengan film adaptasi novelnya ini.

Rahmi yang menurut saya seharusnya dewasa tapi gendeng, smart, dan bengal, di filmnya terlihat terlalu manja dan kekanak-kanakkan, bloon pula. Nimo, yang seharusnya tokoh sentral yang membawa emosi di cerita ini dan karakternya lebih dikuatkan, seharusnya punya karakter brengsek, garang, cuek, playboy, bukan bencong manis dengan aksen super aneh, klemak-klemek, yang punya mata genit kayak barongsai. Satu-satunya tokoh yang sedikit mepet-mepet novelnya hanya Raka, Danang Raka Sudiro, pria super baik yang membuat saya shock karena akhirnya Rahmi memilih Nimo. Hanya, di sini memang sedikit terkesan gampang menyerah, sih.

Banyak adegan yang dipotong atau dibelokkan. Adegan pertemuan Rahmi dan Raka misalnya, tidak ditampilkan dalam film ini. Bisa dipahami, mengingat pertimbangan durasi film tersebut. Yang membuat saya kecewa adalah pembelokan cerita tersebut.
# Pernyataan cinta Nimo pada Rahmi seharusnya di sebuah pesta pernikahan seorang teman SMA, di suatu sudut tempat, yang mana seharusnya Rahmi bereaksi super emosi sampai menampar Nimo, dan bukan di suatu restoran dengan Rahmi hanya berhenti makan sambil “Mba mba, minta bill-nya”. Emosinya kuraaanggg.
# Nimo dan Raka seharusnya berantem sampe pukul-pukulan, tonjok-tonjokkan. Rahmi yang kemudian mengetahuinya berteriak marah pada Nimo untuk tidak mengganggu kehidupannya. Bukan cuma bertemu untuk ngobrol, ngopi aja sekalian.
# Seharunya ditambahkan sedikit adegan ketika Raka membatalkan lamarannya, kalo dibiarin aja kesannya Raka pria yang kurang bertanggung jawab.
# Raka mustinya pergi ke luar negeri karena ditugaskan ke sana.
# Adegan SMA ketika Rahmi dan Nimo terjebak hujan, harusnya Nimo-nya cuek, sedang Rahminya ngarep. Rahmi baru tahu kalo Nimo diam-diam memperhatikannya beberapa tahun kemudian dari penjaga sekolah.
# Yang dibilang Nimoneus Kronis serasa nggak ada sama sekali di film ini. Disebut doang.
# Di saat terakhir, seharunya Nimo datang ke Barbietch ketika Rahmi sedang berpose engga banget, berjoget di depan kaca dengan tank top dan bulu-bulu. Nimo datang dengan semua barang yang disukai Rahmi, ingin menunjukkan kalau selama ini dia tahu dan kenal Rahmi.

Asli, kecewa banget sama film ini. Saya juga bertanya-tanya, siapa yang memilih Miller memerankan tokoh Nimo? Apa hanya karena dia artis luar negeri? Luar negeri juga cuma tetangga sebelah.
Saya jadi ingat adegan ketika Nimo menyatakan cintanya pada Rahmi dengan ucapan mautnya “Lu, Mi” yang diucapkan dengan aksen aneh tanpa emosi. Tatapan mata yang seharusnya dalam, ini malah lirikan genit. Ini yang memancing seisi bioskop tertawa ngakak seakan nonton film komedi. Film yang seharusnya romantis penuh emosi malah jadi film konyol.

Jadi, yang sudah baca novelnya, disarankan untuk tidak menonton filmnya, kecuali jika ingin meng-olahraga-kan mulut dengan tertawa.

tiket My friend keep telling me… “ada harga ada kualitas” hehehe…

May27, 2006

burned alive

untuk kesekian kalinya aku ke pameran buku pada hari terakhir. tanggal 24 kemaren hari terakhir festival bukuk murah di parkir museum satriamandala gatsu. acaranya sih dari tanggal 20. aku ke sana pagi sekitar jam 10. alone. hmmm… ada beberapa stand yang belum dibuka hehehe…

ga begitu besar dan rame sih, tapi lumayan dapat dua buku yang sudah aku pengen dari dulu. maap sekali lagi buat inibuku.com karena buku tersebut di sini lebih murah, tapi tenang aja, masih ada dua judul yang aku incer hehehe…

girls…
i’m telling you…
you have to read this book

souad

December10, 2005

5 cm… di depan keningmu…

rasanya udah lama aku ga buka mozilla firefox trus tiping ‘ju’ trus scroll ke bawah dikit. klik.
bring… ada tulisan ‘me myself & I’
klik login
blog username: justrhe
blog password: ********
then klik login

kemaren ibu ini nanyain… kok blognya engga pernah diupdate lagi? hehehe… lagi males ajah

trus… ini mo ngomongin apa? lah… dasar!!
mmm…. apa yah…?
ok

aku barusan selesaiin baca salah satu buku hasil perburuan dari 50% bookevent seminggu yang lalu. judulnya 5 cm, pengarangnya Donny Dhirgantoro (yippiii… aku inget namanya. and i hope i spell it right hehehe)

cm

sebenernya aku beli nih buku cuma tertarik sama covernya sih… hehehe… it cool, right? (gambar di atas jauh banget sama aslinya tuh… sori yah, maksa dipublish berikut gambarnya. sebenernya itu warnanya item. banget). ada yang bilang sih ‘never judge a book by its cover’… bodo’!! buktinya setelah aku baca…

awalnya… hmmm… lucu
nice book
then… dalem banget…
… inspire…
… sooow many knowledge on it…
… positive…
then…
two thumb up for Donny!!!

i really, guys… it’s a must read book
i’m not gonna tell what it’s all about
just… read it
kayaknya aku bakal baca buku ini lagi setelah nyelesaiin semua bukuku hehehe…

oia, kapan hari gitu ada yang kasi tau ini. try to open it yah… jangan lupa kasi speaker, engga seru kalo gak ada suara. oke? seru lho…

August10, 2005

trophy vs partner

abis baca bukunya Icha aku jadi mikir… don’t know why n don’t know how tapi semua buku Icha (cuma 2 sih) make me think abis baca…

trophy or partner
what do you want and what you wanna be…?
do I have to do all of this stupid things?
honestly… aku pengen ngrasain be like Dania… even just a moment, n almost all of gals have the same though… I’m sure about that. Right gals?
Boleh gak sih jadi dua-duanya?
marukk

bc

Beauty Case… that’s the tittle? what is beauty? does beauty still rule? hmmm… nice question
Jadi pengen bikin plesetan tuh buku… Smart Case… hehehe… hihihi… hahaha… wuakakakakakak…
yeah… jadi begini… aku tuh orang yang obses banget ma smart guy dan aku always think kalo smart is the key to be popular… ato trophy deh
Jadi tar alurnya gini… there’s two girls (sound ‘pasaran’ right?), A vs B (bukan nama sebenarnya) and both of them smart. Cuma si B tuh type cewek yang ambisius, blablabla. Short sentence: jahat. She can do anything to get what she wants. Trus… ya… gitu deh… (emang gak ada bakat jadi penulis nih :( )

oia, there’s someone from my past…
without any dream
suddenly…
but lovefully…

tapi… ting!! pasang icon curiga

June11, 2005

Subject: Re:

gbr
Guyss…. aku barusan baca “Subject: Re:” bikinan Novita Estiti. I really want this book since long time ago. Not so long sih, kalo kayak gitu kebayangnya tuh dah yang pake satuan tahun hehe. Pertama buka tuh buku(blom baca lho) bawaannya dah yang kaget gitu, masa isinya “itu” semua (sengaja gak tasebutin, baca sendiri ya…). First, aku salut ma si Novitanya cuz dia bikin buku yang bener-bener beda dari yang laen. Asli. Kok bisa cuma dari “gitu” tapi bisa bikin alur cerita yang komplit. Trus, dia tuh brani banget, tajem, sampe bahas penulis lain plus tulisannya. Cuma yang aku gak suka tuh critanya, metro banget. Bukan itu sih poin yang aku gak suka. Anyway, aku sekarang lagi chatting ma one of my best friend, Gilang (Gil, kamu dulu pernah protes kamu gak dibahas, nih sekarang dah ada namamu kan? hehe). Nih cuplikan cuap-cuap kita yang sebagian besar disensor cuz gosip abizz
gil : Ren u suka liat friends gak?
renee hehe : ada lg emg?
gil : sayang Milannya kemrn kalah
renee hehe : iya
renee hehe : aku g brani bahas
gil : friends ada donk, abis joe millionaire
renee hehe : kt wickra dia nangis
renee hehe : oooo
renee hehe : diulang?
gil : dia menangis kamu tersenyum donk
gil : friends last season kok
renee hehe : biasa aja tuh
gil : makanya aku mau liat
gil : still lucu aja tuh serial
renee hehe : orang juvenya malah g msk final
renee hehe : jam brp gil?
gil : lho maksudku waktu juve scudetto
renee hehe : ooooo
gil : bener gak nulisnya schudettonya
renee hehe :
renee hehe : g pake h
renee hehe : kirain pas final champion
gil : friends abis joe millionaire jam 11-an gitu
gil : hari minggu
gil : champion sih liverpool lah
gil : bener gak? ok tau bola aja
renee hehe : yup
renee hehe : benerrr

Ooppss… tadi intermezzo, Gilang dah sign out. Oke, back to the topic. Aku gak bisa mahamin karakter 2 tokoh di situ, kayaknya mereka complicated banget sih, type orang-orang yang gak bisa nikmatin hidup sama sekali. Trus, ada beberapa bagian tulisan si Novita yang bikin aku sakit hati. Aku gak trima aja kalo dia bilang kayak gitu. Tapi… englishnya keren bo. Endingnya? aku gak percaya kalo tuh novel berakhir di situ. Lho udah?!?! Stupid emang. Menurut aku, dua orang itu orang bullshit, plin-plan, yang akhirnya kehilangan semua yang mereka punya.

Aduh, apa ya? i have nothing to write nih. Yah, si reny cuma bisa kasi komentar tanpa bisa berkarya. Bikin blog gak mutu, dan kerjanya buka-buka plus nikmatin blog orang. Aku liat blog lain tuh keren-keren, at least ada strong pointnya deh, kalo gak tampilan yang keren ya isi yang attracted to read. Blognya reny? Ga ada tuh dua-duanya. Whatever deh. nO titTLe cuma sebuah material berfungsi ganda, tempat sampah untuk membuang apa yang ingin kubuang, locker untuk aku menyimpan apa yang ingin kusimpan. That’s all.

June6, 2005

read time

gb gbr
He…he…he… Reny sekarang lagi suka-sukanya baca. Trus, bacaannya dah beda sama yang dulu-dulu. Gini historynya. Kalo jaman SMU suka baca novelnya Agatha Christie (keren tuh), sok-sok jadi detektif gitu. Nyoba nebak plus analisa siapa pelakunya walaupun dari sekian banyak seri yang kubaca aku cuma bisa nebak eh bukan nebak sih, menganalisa cieeh satu case. Dan itu bener hehe. Tergila-gila banget sama Hercule Poirot, eh aku blom ngenalin yah… Poirot itu tokoh detektifnya, sampe aku call myself “Ms. Poirot”, norak emang. Yah, gitu deh jaman SMU. Baca sampe yang bener-bener ketakutan pas seri Sepuluh Anak Negromana bacanya melem-malem lagi. Bingung mo lanjutin takut tapi mo brenti penasaran juga. Tapi diterusin kok, ternyata pembunuhnya si “anu”, dia pura-pura mati. Trus sampe nangis yang seri Tirai cuz Poirotnya mati huhu, dah tua sih. Sebenernya tokoh detektifnya bukan cuma Poirot sih , ada Ms.Marple, tapi jarang. Poirot… muah. Kalian dah pada baca blom? emang dah dari jaman bahula sih, tapi seru kok. I recommend u to read it. Tapi kalo mo baca “Tirai” baca seri-seri yang laen dulu yah, biar lebih kenal Poirot trus tar emosinya bisa lebih…

Masuk kuliah, bacaanku dah beda lagi. Aku lebih suka buku-buku psikologi such as serinya Chicken Soup, Chocolate, Seven Habit, deelel (singkatan dari… yah yang gitu-gitu lah). Masa kuliah, lagaknya sih biar kaya yang dewasa gitu. Yah, aku cuma mencoba berusaha membentuk pribadi yang lebih baik, lebih kuat, lebih dewasa, dan siap menghadapi apapun dalam kehidupan baik itu dalam percintaan, persahabatan, maupun keluarga. Apaan sih? ya …gitu deh (bajaj dong). Niatnya dah baik kan? tapi sebenernya abis baca segitu banyak buku, gak ada satupun yang ngaruh ke diri aku. Bullshit banget. Biarin deh, at least aku jadi smart looking gitu kalo pernah baca yang gitu-gitu hehe (emang iya?).

Lama-lama, bosen juga baca yang gitu, terlalu berat, pengen yang lebih fun. Trus jadi suka novel-novel kaya seri-seri Chicklit,Being Single Happy, ma Teenlit. Eh, kalo Teenlit gak gitu suka sih soalnya kebanyakan yang ngarang anak SMA, kan gengsi baca karya anak SMA. Huh!! Suka kayak gitu sampe sekarang, bahkan lagi gandrung-gandrungnya. Belakangan aku abis baca “Jomblo” ma “Gege Mengejar Cinta” yang dua-duanya bikinan Adithya Mulya dan dua-duanya juga hasil minjem. Dari judulnya aku pikir gak menarik, tapi setelah baca… mmm… bagus. Bikin penasaran, what next? gitu deh, jadi gak mau brenti baca, trus lutuuuuu campe cuka ketawa cendili. Kebiasaan yah, kalo abis baca-baca yang berbau cerita cinta gitu pasti ada aja pertanyaan. Contohnya yang di Jomblo itu, aku sih dah bisa nebak endingnya bakal gimana, tapi aku masih wondering why sama decision tuh cowok, reasonnya apah gituh loh. Trus, yang Gege… itu,jadi aneh ke belakangnya. Yah, tetep lucu sih orang emang formatnya komedi, tapi…aneh aja. Huh!! Komentar-komentar kaya yang bisa bikin novel aja. Novelnya Adithya Mulya tuh ngupas tentang cowok banget, gimana jalan pikiran mereka gitu kali ya. Tapi sampe sekarang aku tetep gak bisa bener-bener ngerti sama makhluk berjakun yang disebut “pria” ini. Masih…????? banyak. Aku nyaranin buat baca buku ini buat kalian yang pengen ketawa cuz emang lucu, trus… for u gals, biar bisa sedikit lebih ada pencerahan tentang gimana sih cowok itu. Cowok bangeeeeett.

Kalo novel yang ngebahas tentang cewek, aku barusan baca “Kok Putusin Gue bikinan” Ninit Yunita. Just info aja, si Ninit nih istrinya Adithya. Seru kali ya kalo pasutri penulis semua gitu. Hehehe… pengen. Tapi menurut aku, bagusan punya Adith tuh. Novel si Ninit ini, yang gak aku suka, dia gak ngebahas sama sekali gimana si cowok, jadi kita kan gak bisa menilai gimana sebenernya tuh cowok, kita cuma bisa tau dari sudut pandang si cewek. Padahal pembaca bisa juga kan punya pendapat mengenai karakter orang yang beda sama penulis atau cewek di cerita itu. Trus ada lagi, kalo menurut aku si cewek tuh gak mungkin gak cinta kalo dia sampe kaya gitu. Hebatnya, nih novel bisa mainin emosi banget. Awalnya kita bisa tertawa ngakak, trus tiba-tiba yang nge-”jreg” gitu. Bikin nangis. Honestly, aku nangis lho pas baca nih novel. Gak tau apa emang suasana hati lagi mellow ato kenapa. Tapi pas tiba-tiba si anu itu ke anu… trus last songnya bikin…. OK yang blom pada buruan deh beli ato cari pinjaman kaya aku hehe.